POLTEKKES JAYAPURAPOLTEKKES JAYAPURA

gema kesehatangema kesehatan

Pekerja bangunan merupakan salah satu kelompok tenaga kerja yang memiliki beban fisik tinggi dan rentan terhadap gangguan kesehatan. Dalam menjalani aktivitas kerjanya, sebagian besar pekerja bangunan mengandalkan minuman berenergi sebagai penambah stamina dan daya tahan tubuh. Konsumsi minuman ini yang mengandung kafein, gula tinggi, dan berbagai zat aditif lainnya dalam jangka panjang dapat memberikan dampak terhadap fungsi organ, termasuk ginjal. Meningkatnya konsumsi minuman kemasan di pasaran memiliki potensi untuk mengubah gaya hidup masyarakat, terutama kurangnya konsumsi air putih. Minuman energi pada dasarnya didesain khusus untuk memberikan energi tambahan, di antaranya kafein. Kafein, sebagai salah satu bahan utama dalam minuman berenergi, dapat meningkatkan beban pada ginjal dan memengaruhi keseimbangan cairan tubuh, yang pada akhirnya dapat meningkatkan kadar kreatinin serum. Mengonsumsi minuman energi yang mengandung kafein atau taurin meningkatkan kekuatan dan kinerja otot sehingga memicu reaksi katabolik (reaksi penghasil energi) pada otot. Selama katabolisme otot, kreatin fosfat dipecah dan kreatinin dilepaskan ke dalam darah. Konsentrasi kreatinin dalam darah akan meningkat ketika terus mengonsumsi minuman berenergi. Kreatinin serum merupakan salah satu indikator penting dalam menilai fungsi ginjal. Peningkatan kadar kreatinin serum bisa menjadi tanda awal terjadinya gangguan fungsi ginjal. Kreatinin adalah produk sampingan dari metabolisme otot yang dikeluarkan melalui ginjal, dan kadar kreatinin serum yang tinggi dapat mengindikasikan penurunan fungsi ginjal. Oleh karena itu, memonitor kadar kreatinin sangat penting dalam mendeteksi potensi masalah ginjal pada pekerja. Selain konsumsi minuman berenergi, faktor-faktor lain seperti masa kerja yang panjang serta pertambahan usia juga berpotensi memengaruhi kadar kreatinin dalam darah.

Kadar kreatinin responden memiliki korelasi yang cukup signifikan dengan kebiasaan masa kerja responden (α<0,05).Sedangkan frekuensi konsumsi minuman energi dan usia responden tergolong lemah (α>0,05).Kajian ini masih perlu dilakukan pengembangan dengan parameter spesifik lainnya seperti cystatin-C dan mikro-albumin.Selain itu, jumlah responden perlu ditambah dengan mengontrol faktor-faktor lainnya yang turut memengaruhi kadar kreatinin.

Untuk penelitian lanjutan, disarankan untuk melakukan studi longitudinal yang lebih komprehensif dengan melibatkan lebih banyak responden dari berbagai latar belakang usia dan masa kerja. Penelitian ini dapat fokus pada efek jangka panjang konsumsi minuman energi terhadap fungsi ginjal pekerja bangunan, serta memantau perubahan kadar kreatinin serum secara berkala. Selain itu, dapat dilakukan analisis lebih mendalam mengenai interaksi antara kebiasaan konsumsi minuman energi, masa kerja, dan umur dengan faktor-faktor lain seperti pola makan, aktivitas fisik, dan kondisi kesehatan umum. Dengan demikian, penelitian ini dapat memberikan pemahaman yang lebih holistik mengenai kesehatan ginjal pekerja bangunan dan membantu mengembangkan strategi intervensi yang efektif untuk mencegah gangguan ginjal di kalangan pekerja konstruksi.

  1. gema kesehatan. studi korelasi kreatinin serum kebiasaan konsumsi minuman berenergi umur pekerja bangunan... doi.org/10.47539/gk.v17i1.472gema kesehatan studi korelasi kreatinin serum kebiasaan konsumsi minuman berenergi umur pekerja bangunan doi 10 47539 gk v17i1 472
Read online
File size260.95 KB
Pages12
DMCAReport

Related /

ads-block-test