UnimorUnimor

JASJAS

Hormon prostaglandin dan hormon estrogen adalah dua jenis hormon yang biasa digunakan dalam sinkronisasi birahi yang bertujuan untuk menggertak terjadinya birahi lebih awal pada ternak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perilaku birahi sapi potong yang diinduksi menggunakan hormon yang berbeda. Metode penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 3 perlakuan dan 4 ulangan; P0 (birahi alam), P1 (penyuntikan prostaglandin), dan P2 (penyuntikan estrogen). Parameter yang diuji dalam penelitian ini adalah persentase birahi, intensitas birahi, dan waktu gejala birahi serta analisis yang digunakan adalah Analysis of Varians (ANOVA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase sapi yang menunjukkan tanda birahi pada ketiga perlakuan mencapai 100%. Intensitas birahi pada masing-masing perlakuan dinilai dalam tiga kategori; birahi jelas (skor 3 ), birahi sedang (skor 2 ), dan birahi rendah (skor 1 ). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan hormon prostaglandin dan estrogen efektif dalam menggertak birahi dengan tingkat respons birahi sebesar 100% pada semua perlakuan, termasuk birahi alam (P0). Intensitas birahi pada sapi yang menerima prostaglandin (P1) menunjukkan persentase tertinggi untuk kategori birahi jelas (66,7%), sedangkan P0 dan P2 (penyuntikan estrogen) membagi rata antara intensitas birahi jelas dan sedang. Munculnya gejala birahi sapi yang disuntik hormon terjadi lebih cepat pada P1 yaitu 52 jam dan P2 rata-rata pada jam ke-68 setelah penyuntikan hormon, sementara pada P0 muncul sekitar jam ke-480 atau hari ke 18-20 dalam siklus. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan hormon; terutama hormon prostaglandin, dapat meningkatkan respon birahi dengan baik dan mendukung efektivitas inseminasi buatan pada sapi betina.

Penelitian ini menyimpulkan bahwa penggunaan hormon prostaglandin dan estrogen efektif dalam menginduksi birahi pada sapi betina, mencapai respons 100% di semua perlakuan, termasuk birahi alami, dengan prostaglandin (P1) menghasilkan intensitas birahi jelas tertinggi (66,7%).Gejala birahi muncul lebih cepat pada sapi yang disuntik hormon (P1 rata-rata 52 jam, P2 rata-rata 68 jam) dibandingkan birahi alami (sekitar 480 jam).Oleh karena itu, penggunaan hormon, khususnya prostaglandin, dapat meningkatkan respons birahi secara efektif dan mendukung keberhasilan inseminasi buatan pada sapi betina.

Meskipun penelitian ini secara jelas menunjukkan efektivitas induksi hormon dalam memicu birahi sapi, ada beberapa arah penelitian lanjutan yang krusial untuk mengoptimalkan penerapannya di lapangan. Pertama, sangat penting untuk menyelidiki variasi respons individual sapi terhadap perlakuan hormon, khususnya mengapa intensitas birahi dan waktu munculnya gejala bisa berbeda. Penelitian lebih lanjut dapat fokus pada identifikasi penanda genetik atau fisiologis, seperti kadar hormon endogen pra-perlakuan atau profil genetik spesifik, yang dapat memprediksi respons optimal sapi terhadap sinkronisasi prostaglandin atau estrogen, sehingga memungkinkan pengembangan protokol yang lebih personal dan akurat. Kedua, perlu dilakukan evaluasi komprehensif terhadap dosis dan kombinasi hormon yang digunakan. Mengingat studi ini hanya memakai dosis tunggal, investigasi perbandingan berbagai rejimen dosis prostaglandin dan estrogen, atau bahkan protokol kombinasi yang berurutan, dapat mengidentifikasi skema induksi birahi yang paling efektif, efisien secara biaya, dan menghasilkan tingkat keseragaman respons yang optimal. Ketiga, untuk mengukur keberhasilan program inseminasi buatan secara holistik, penelitian lanjutan harus melampaui respons birahi dan mencakup pemantauan tingkat kebuntingan pasca-IB pada sapi yang diinduksi. Perbandingan angka kebuntingan antarperlakuan (birahi alami, prostaglandin, dan estrogen) serta evaluasi dampak jangka panjang penggunaan hormon terhadap kesehatan reproduksi sapi betina akan memberikan gambaran komprehensif mengenai manfaat praktis dan keberlanjutan teknologi sinkronisasi birahi di lapangan.

Read online
File size264.12 KB
Pages7
DMCAReport

Related /

ads-block-test