STAINU MALANGSTAINU MALANG

AL-MANSYURAL-MANSYUR

Indonesia, sebagai negara dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara, resmi menjadi anggota penuh BRICS pada Januari 2025. Keanggotaan ini membuka peluang signifikan, terutama mengingat sepertiga (33.91%) ekspor non-migas Indonesia ditujukan ke blok tersebut. Penelitian ini bertujuan menganalisis Volume Perdagangan (VBRICS) dan Investasi FDI (IBRICS) dari BRICS, serta dampak keanggotaan kelembagaan terhadap Pertumbuhan Ekonomi (PE) Indonesia. Menggunakan metode Regresi Data Panel Model Fixed Effect pada hasil ekonometrika menunjukkan bahwa Volume Perdagangan BRICS ( 0.254) dan Investasi FDI BRICS ( 0.112) memiliki dampak positif dan signifikan secara statistik terhadap PE Indonesia. Temuan ini menegaskan peran BRICS sebagai mitra krusial untuk pasar produk hilirisasi (besi/baja) dan sumber investasi asing, khususnya dalam proyek nikel. Namun, Variabel Dummy Keanggotaan BRICS (aksesi) terbukti tidak signifikan secara statistik (P-value > 0.05), mengindikasikan bahwa manfaat kelembagaan seperti akses ke New Development Bank (NDB) bersifat struktural dan jangka panjang, bukan dampak instan pada PDB. Selain itu, meskipun perdagangan masif, terdapat catatan defisit neraca perdagangan dengan BRICS sebesar 1.63Miliar pada tahun 2024, menyoroti adanya ketergantungan impor.

Dampak positif dan signifikan dari ekonomi riil, yaitu perdagangan dan investasi dari negara-negara BRICS, menegaskan peran BRICS sebagai mitra strategis utama untuk ekspor produk hilirisasi dan sumber investasi.Meskipun demikian, adanya defisit neraca perdagangan dengan BRICS menunjukkan adanya ketergantungan impor yang perlu diatasi melalui diversifikasi ekspor produk bernilai tambah dan peningkatan daya saing industri domestik.

Berdasarkan analisis, terdapat beberapa arah penelitian lanjutan yang menjanjikan. Pertama, penelitian dapat difokuskan pada analisis mendalam mengenai dampak spesifik dari akses ke New Development Bank (NDB) terhadap sektor-sektor ekonomi tertentu di Indonesia, dengan mempertimbangkan faktor-faktor seperti efisiensi penyerapan pinjaman dan kualitas proyek infrastruktur yang didanai. Kedua, penelitian kuantitatif dapat dilakukan untuk mengukur dampak diversifikasi ekspor produk bernilai tambah terhadap pengurangan defisit neraca perdagangan dengan negara-negara BRICS, dengan menggunakan data disaggreted dan metode ekonometrika yang lebih canggih. Ketiga, penelitian kualitatif dapat mengeksplorasi persepsi pelaku usaha Indonesia mengenai peluang dan tantangan dalam menjalin kerja sama perdagangan dan investasi dengan negara-negara BRICS, serta mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi keberhasilan kerja sama tersebut. Dengan menggabungkan temuan dari penelitian-penelitian ini, pembuat kebijakan dapat merumuskan strategi yang lebih efektif untuk memaksimalkan manfaat keanggotaan Indonesia di BRICS dan mengatasi potensi risiko yang muncul.

Read online
File size530.26 KB
Pages10
DMCAReport

Related /

ads-block-test