PURIFIKASIPURIFIKASI

Jurnal PurifikasiJurnal Purifikasi

Lumpur sekunder yang dihasilkan dari proses pengolahan biologis aerobik pada industri minuman berkarbonasi terbentuk dalam jumlah besar dan mengandung unsur hara penting yang berpotensi untuk dimanfaatkan kembali. Penelitian ini mengevaluasi pemanfaatan lumpur sekunder non-B3 sebagai media tanam melalui karakterisasi awal serta pengujian kinerja melalui pencampuran dengan tiga sumber yang tanah yang berbeda (Tanah A, B, dan C) dan bahan tambahan. Lumpur kemudian dicampur dengan setiap jenis tanah sebagai kontrol, serta diberikan perlakuan tambahan berupa (a) dolomit, (b) Trichoderma sp., dan (c) kombinasi keduanya. Campuran tersebut diamati selama dua minggu untuk parameter rasio C/N serta kadar N, P, dan K sebagai indikator kualitas media tanam atau kompos. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar campuran mencapai rasio C/N ≥10 setelah dua minggu, kecuali campuran dengan Tanah A baik tanpa maupun dengan dolomit. Seluruh perlakuan memenuhi bahkan melampaui persyaratan minimum unsur hara dalam kompos berdasarkan SNI 19-7030-2004. Penambahan Trichoderma sp. memberikan peningkatan unsur hara paling signifikan, dengan kadar nitrogen mencapai 1,8% dan fosfor mencapai 4,0% pada campuran Lumpur–Tanah C, sedangkan kadar kalium tertinggi (0,4%) diperoleh pada campuran Lumpur–Tanah B dengan Trichoderma sp. Temuan ini menunjukkan bahwa sludge sekunder dari IPAL industri minuman berkarbonasi dapat diolah menjadi media tanam atau pengganti kompos yang layak, sehingga mendukung pengelolaan limbah yang berkelanjutan dan penerapan ekonomi sirkular.

Penelitian ini menunjukkan bahwa lumpur sekunder non‑B3 yang dihasilkan dari pengolahan biologis aerobik pada instalasi pengolahan air limbah industri minuman berkarbonasi memiliki potensi kuat untuk digunakan kembali sebagai media tanam ketika dicampur dengan amandemen.Setelah dua minggu kondisioning, sebagian besar campuran lumpur–tanah mencapai rasio C/N ≥10 serta memenuhi standar minimum SNI 19‑7030‑2004 untuk kandungan N, P, dan K, kecuali campuran dengan Tanah A baik dengan maupun tanpa dolomit.secara konsisten meningkatkan kadar nutrisi, dengan nitrogen tertinggi 4,0% dan fosfor 4,0% pada campuran Lumpur–Tanah C, serta kalium 0,4% pada campuran Lumpur–Tanah B, menegaskan kelayakan sludge sekunder sebagai substitusi kompos dalam praktik pertanian berkelanjutan.

Penelitian selanjutnya dapat menyelidiki bagaimana penambahan bahan organik berkarbon tinggi seperti serbuk gergaji atau sekam padi memengaruhi rasio C/N dan retensi nutrisi pada campuran lumpur‑tanah, khususnya untuk tanah A yang menunjukkan rasio C/N rendah; selanjutnya, penting untuk mengevaluasi kinerja jangka panjang media yang diperkaya sludge ini pada produksi tanaman dan akumulasi logam berat di berbagai kondisi iklim, guna memastikan keamanan pangan; terakhir, penelitian dapat mengeksplorasi interaksi sinergis antara dolomit dan berbagai strain Trichoderma atau mikroorganisme menguntungkan lain untuk mengoptimalkan pelepasan nutrisi dan stabilisasi pH dalam komposit sludge‑tanah, sehingga meningkatkan efektivitas aplikasi pertanian berkelanjutan.

  1. Unlocking the nutrient value of sewage sludge - Singh - 2022 - Water and Environment Journal - Wiley... doi.org/10.1111/wej.12739Unlocking the nutrient value of sewage sludge Singh 2022 Water and Environment Journal Wiley doi 10 1111 wej 12739
  2. 0. qs laih h2c tn ro nx za ir oe3 rmie vsg pa cg h8 fy cc zj y7 4z doi.org/10.3389/fmicb.2023.11605510 qs laih h2c tn ro nx za ir oe3 rmie vsg pa cg h8 fy cc zj y7 4z doi 10 3389 fmicb 2023 1160551
  3. The interactive effects of dolomite application and straw incorporation on soil N2O emissions - Shaaban... doi.org/10.1111/ejss.12541The interactive effects of dolomite application and straw incorporation on soil N2O emissions Shaaban doi 10 1111 ejss 12541
Read online
File size554.92 KB
Pages12
Short Linkhttps://juris.id/p-3AX
DMCAReport

Related /

ads-block-test