STMISTMI

Journal of Community Services in SustainabilityJournal of Community Services in Sustainability

Pada dasarnya setiap pekerjaan memiliki faktor resiko bahaya keselamatannya, khususnya industri otomotif. Praktik kerja dalam industri otomotif memiliki resiko Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) bagi para pekerja, teknisi, bahkan orang lain yang sedang berada di lingkungan tersebut. Potensi bahaya (hazard) dapat berupa terpapar radiasi, kimia, biologi, infeksi, alergi, listrik, dan fisik seperti terkilir, terpeleset, terjatuh, tergores, tertusuk, dan terbentur, tergantung jenis kegiatan yang dilakukan dalam area tersebut. Aspek Lingkungan kerja yang bersifat fisik seperti tata letak peralatan praktik, Alat Pelindung Diri, pakaian kerja, kebersihan ruang, penerangan, pengairan, tata udara di ruang kerja sangat penting peranannya untuk menciptakan suatu kondisi lingkungan yang aman dan bebas dari resiko kecelakaan maupun penyakit akibat kerja. Hal inilah yang mendorong tim Abdimas untuk membantu dengan cara mensosialisasikan dan menerapkan 5R di Bengkel Fariz jaya motor yang beralamat di Jl Gading Sengon I, Kelapa Gading Barat, Jakarta Utara. Letak bengkel yang tersembunyi di dalam gang menyebabkan kurangnya pencahayaan ke dalam ruang bengkel sehingga tata letak ala-alat di bengkel terlihat kurang rapi dan tidak bersih. Kondisi ini dapat mengakibatkan adanya kecelakaan kerja saat pengambilan barang yang tidak sesuai pada tempatnya. Penerapan konsep 5R merupakan evaluasi dari keadaan saat ini dibengkel sehingga kedepannya dapat diciptakan lingkungan kerja yang aman dan bebas dari resiko kecelakaan. Dari hasil sosialisasi penerapan 5R di Bengkel Faris Jaya Motor didapatkan pemberlakuan 5R sangat efektif dan efisien dalam melakukan pekerjaan dan mencegah terjadinya kecelakaan kerja hingga mencapai zero accident dan waste time pada saat mencari dan mengambil peralatan yang dibutuhkan.

Implementasi 5R di Bengkel Fariz Jaya Motor melibatkan perencanaan bersama peneliti, pemilik, dan karyawan, termasuk sosialisasi dan pengelolaan sarana.Pelaksanaan 5R menghasilkan tata letak yang lebih rapi, mengurangi waktu pencarian alat, sehingga meningkatkan produktivitas dan efisiensi operasional.Lingkungan kerja yang bersih dan teratur meningkatkan kepuasan karyawan dan mengurangi risiko kecelakaan kerja.

Penelitian selanjutnya dapat mengevaluasi dampak jangka panjang implementasi 5R terhadap tingkat kecelakaan kerja pada sejumlah bengkel otomotif di berbagai wilayah, sehingga dapat memastikan keberlanjutan manfaat keselamatan. Selanjutnya, diperlukan pengembangan model indikator kinerja (KPI) kuantitatif yang mengukur peningkatan produktivitas dan efisiensi waktu setelah penerapan 5R, guna menyediakan data objektif bagi manajemen. Terakhir, eksplorasi integrasi teknologi digital, seperti sensor IoT untuk pelacakan alat dan aplikasi manajemen inventaris, dapat memperdalam efektivitas 5R serta membuka peluang inovasi dalam pengelolaan bengkel modern.

  1. IMPLEMENTATION OF CULTURAL 5R (RINGKAS, RAPI, RESIK, RAWAT & RAJIN) WITH SNI ISO 22000: 2009 APPROACH... doi.org/10.21111/jihoh.v2i2.1884IMPLEMENTATION OF CULTURAL 5R RINGKAS RAPI RESIK RAWAT RAJIN WITH SNI ISO 22000 2009 APPROACH doi 10 21111 jihoh v2i2 1884
  1. #industri otomotif#industri otomotif
  2. #budaya 5s#budaya 5s
Read online
File size470.34 KB
Pages8
Short Linkhttps://juris.id/p-3re
Lookup LinksGoogle ScholarGoogle Scholar, Semantic ScholarSemantic Scholar, CORE.ac.ukCORE.ac.uk, WorldcatWorldcat, ZenodoZenodo, Research GateResearch Gate, Academia.eduAcademia.edu, OpenAlexOpenAlex, Hollis HarvardHollis Harvard
DMCAReport

Related /

ads-block-test