POLTEKKESACEHPOLTEKKESACEH

NASUWAKES: Jurnal Kesehatan IlmiahNASUWAKES: Jurnal Kesehatan Ilmiah

Halusinasi merupakan salah satu manifestasi klinis dari gangguan jiwa yang ditandai dengan gangguan persepsi sensorik, seperti mendengar suara-suara yang tidak nyata atau tidak sesuai dengan rangsangan eksternal. Intervensi nonfarmakologis menjadi salah satu pendekatan yang dapat diterapkan untuk membantu mengurangi gejala tersebut, salah satunya adalah melalui terapi okupasi dengan aktivitas berkebun. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan asuhan keperawatan melalui terapi okupasi berkebun dalam menurunkan tanda dan gejala halusinasi pendengaran. Studi ini dilaksanakan di wilayah Aceh selama lima hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terapi berkebun memberikan dampak positif terhadap penurunan intensitas dan frekuensi halusinasi pendengaran. Hal ini terlihat dari peningkatan kemampuan pasien dalam mengontrol serta mengelola halusinasi setelah menjalani terapi. Pada subjek I, skor tanda dan gejala halusinasi yang awalnya sebesar 88 persen mengalami penurunan sebesar 33 persen setelah intervensi dilakukan. Sementara itu, pada subjek II, dengan skor awal yang sama, terjadi penurunan sebesar 44 persen setelah mengikuti terapi berkebun. Temuan ini menunjukkan bahwa terapi okupasi berkebun dapat digunakan sebagai salah satu metode nonfarmakologis yang efektif dalam penanganan halusinasi pendengaran pada pasien dengan gangguan jiwa.

Terapi okupasi berbasis berkebun terbukti efektif mengurangi intensitas dan frekuensi halusinasi pendengaran pada pasien gangguan jiwa.Keberhasilan intervensi ini dipengaruhi oleh faktor internal seperti frekuensi terapi, durasi rawat, lama sakit, konsentrasi, dan tingkat pendidikan pasien.Selain itu, faktor eksternal seperti usia, jenis kelamin, tingkat stres, dan kondisi sosial ekonomi juga diduga berperan terhadap keberhasilan penanganan gejala halusinasi.

Penelitian ini membuktikan manfaat terapi berkebun, namun masih terbuka ruang untuk pengembangan lebih lanjut yang lebih mendalam. Studi selanjutnya bisa meneliti bagaimana faktor pribadi seperti lama menderita sakit dan tingkat pendidikan pasien benar-benar mempengaruhi keberhasilan terapi ini dalam jangka panjang, bukan hanya lima hari. Kita juga perlu menggali mekanisme pasti di balik keefektifannya; apakah kegiatan ini berhasil karena menurunkan hormon stres kortisol, meningkatkan kadar neurotransmitter tertentu, atau karena meningkatkan rasa percaya diri dan kontrol diri pasien secara nyata. Selain itu, karena penelitian ini dilakukan hanya pada dua pasien di Aceh, sangat penting untuk membandingkan efektivitasnya di wilayah lain dengan latar belakang budaya dan ekonomi yang berbeda. Pertanyaan menarik lainnya adalah apakah terapi berkebun ini lebih efektif dilakukan secara individual atau dalam kelompok kecil untuk meningkatkan interaksi dan keterampilan sosial pasien. Dengan menjawab tiga arah penelitian ini, protokol terapi dapat dikembangkan menjadi lebih personal dan efektif, membantu lebih banyak penderita gangguan jiwa untuk mengontrol gejalanya dan meningkatkan kualitas hidup mereka secara berkelanjutan.

  1. #faktor eksternal#faktor eksternal
  2. #siswa kelas v#siswa kelas v
Read online
File size278.31 KB
Pages9
Short Linkhttps://juris.id/p-2hZ
Lookup LinksGoogle ScholarGoogle Scholar, Semantic ScholarSemantic Scholar, CORE.ac.ukCORE.ac.uk, WorldcatWorldcat, ZenodoZenodo, Research GateResearch Gate, Academia.eduAcademia.edu, OpenAlexOpenAlex, Hollis HarvardHollis Harvard
DMCAReport

Related /

ads-block-test