YMPNYMPN
Journal of Language, Literature, Social and Cultural StudiesJournal of Language, Literature, Social and Cultural StudiesDalam era globalisasi pendidikan, pelestarian bahasa ibu telah menjadi perhatian kritis bagi pendidik, ahli bahasa, dan pembuat kebijakan. Dominasi bahasa global seperti Inggris dalam kurikulum pendidikan dan diskursus akademik seringkali menyebabkan marginalisasi bahasa-bahasa asli dan minoritas. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi tantangan dan peluang yang terkait dengan pelestarian bahasa ibu dalam kerangka kerja pendidikan yang terglobalisasi. Penelitian ini bertujuan untuk menekankan implikasi dari hilangnya bahasa terhadap identitas budaya, komunikasi antargenerasi, dan keragaman bahasa. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, dengan memanfaatkan tinjauan literatur, studi kasus, dan wawancara dengan pendidik dan aktivis bahasa dari komunitas multilingual. Analisis mengungkapkan bahwa meskipun globalisasi memfasilitasi akses ke pengetahuan internasional dan kolaborasi, hal ini juga menekan institusi pendidikan untuk memprioritaskan bahasa global, seringkali dengan mengorbankan warisan bahasa lokal. Studi kasus dari wilayah seperti Asia Tenggara, Afrika Sub-Sahara, dan Amerika Latin menunjukkan bagaimana komunitas berusaha untuk mengintegrasikan bahasa ibu ke dalam pendidikan formal melalui model pendidikan bilingual atau multilingual. Wawancara menunjukkan bahwa upaya pelestarian yang berhasil seringkali bergantung pada keterlibatan komunitas, dukungan pemerintah, dan integrasi kurikulum yang menghargai sistem pengetahuan global dan lokal. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pelestarian bahasa ibu dalam pendidikan bukan hanya masalah keadilan bahasa, tetapi juga kelestarian budaya. Penelitian ini menekankan kebutuhan akan kebijakan bahasa inklusif yang menyeimbangkan tuntutan komunikasi global dengan hak komunitas untuk mempertahankan identitas bahasa mereka. Institusi pendidikan harus memandang multilingualisme sebagai aset, bukan sebagai penghalang kemajuan. Penelitian lebih lanjut disarankan untuk mengembangkan model pendidikan multilingual berbasis bahasa ibu yang dapat disesuaikan dengan berbagai pengaturan pendidikan.
Dalam era globalisasi dan homogenisasi pendidikan, pelestarian dan promosi bahasa ibu telah menjadi tantangan sekaligus kebutuhan.Penelitian ini menyelidiki masalah kritis seputar kelangsungan hidup bahasa asli dan minoritas dalam sistem pendidikan modern yang semakin dipengaruhi oleh tren bahasa global, terutama dominasi bahasa Inggris sebagai bahasa komunikasi internasional, sains, dan teknologi.Melalui metode analisis dan sintesis kualitatif yang berbasis dokumen dan berbagai sumber ilmiah, penelitian ini mengungkapkan bahwa meskipun kebijakan dan kerangka kerja yang mendukung pendidikan multilingual berbasis bahasa ibu (MTB-MLE) telah mendapatkan pengakuan global, implementasinya masih tidak merata karena berbagai tantangan.Tantangan tersebut meliputi kesenjangan implementasi kebijakan, sumber daya yang tidak memadai, preferensi masyarakat terhadap bahasa dominan, keterbatasan teknologi, dan erosi identitas budaya melalui hilangnya bahasa.Temuan penelitian menunjukkan bahwa kesenjangan implementasi kebijakan merupakan hambatan utama.Meskipun kerangka kerja seperti Kebijakan Pendidikan Nasional 2020 di India dan MTB-MLE di Filipina menunjukkan niat positif, keberhasilan kebijakan-kebijakan ini bergantung pada pendanaan yang memadai, infrastruktur, dan perencanaan yang disesuaikan secara lokal.Batasan sumber daya, terutama di daerah pedesaan dan kurang didanai, seringkali memaksa sekolah untuk memprioritaskan bahasa global yang dominan, sehingga mengesampingkan bahasa asli.Selain itu, faktor sikap memainkan peran penting.Banyak komunitas menganggap kemampuan berbahasa Inggris dan bahasa dominan lainnya sebagai jalan menuju mobilitas sosial ekonomi.Persepsi ini merendahkan nilai bahasa ibu, terutama ketika orang tua mendorong pendidikan berbasis bahasa Inggris, mengesampingkan bahasa lokal.Pergeseran bahasa ini mencerminkan erosi budaya yang lebih luas, di mana komunitas kehilangan pengetahuan vital, tradisi lisan, dan identitas yang secara intrinsik terkait dengan bahasa asli mereka.Temuan penelitian juga menunjukkan bahwa kesenjangan teknologi merupakan masalah signifikan.Teknologi pendidikan memiliki potensi untuk mendukung pelestarian bahasa, tetapi platform digital sebagian besar melayani bahasa dominan.Bahasa minoritas kurang terwakili dalam lingkungan pembelajaran online, menghambat akses inklusif terhadap pendidikan.Meskipun tantangan-tantangan ini, penelitian ini juga menunjukkan strategi yang layak untuk membalikkan tren ini.Mengintegrasikan bahasa lokal ke dalam kurikulum, pelatihan guru, keterlibatan komunitas, dan peningkatan kesadaran publik tentang manfaat kognitif dan budaya pendidikan berbasis bahasa ibu adalah hal-hal yang krusial.Perlu terjadi pergeseran paradigma - dari melihat bahasa lokal sebagai usang menjadi melihatnya sebagai sumber daya budaya dan pendidikan yang berharga.Pemangku kepentingan pendidikan - pemerintah, sekolah, komunitas, dan lembaga internasional - harus berkolaborasi untuk berinvestasi dalam pengembangan konten multilingual, program pendidikan guru, dan penciptaan sumber daya digital dalam bahasa asli.Selain itu, merayakan keragaman bahasa melalui festival, sastra, media, dan seni dapat memperkuat kebanggaan dan identitas di antara penutur bahasa minoritas.Penelitian ini juga menekankan keterkaitan antara bahasa, budaya, dan identitas.Pelestarian bahasa ibu bukan hanya masalah pendidikan.ini adalah masalah hak asasi manusia dan kelestarian budaya.Ketika anak-anak belajar dalam bahasa ibu mereka, mereka lebih mungkin untuk tetap berada di sekolah, mengembangkan keterampilan kognitif yang lebih kuat, dan mempertahankan akar budaya mereka.Meskipun penelitian ini berkontribusi pada pemahaman yang lebih dalam tentang dinamika antara globalisasi dan pelestarian bahasa ibu, penelitian ini memiliki keterbatasan.Penelitian ini terutama didasarkan pada data sekunder dan tinjauan literatur, yang mungkin tidak menangkap tantangan spesifik komunitas secara real-time.Selain itu, dinamika sociolinguistik bervariasi secara signifikan di berbagai wilayah dan memerlukan studi yang disesuaikan secara lokal.Penelitian masa depan harus berfokus pada studi kasus empiris, terutama dari wilayah yang kurang terwakili di Afrika, Asia, dan Amerika Selatan, di mana multilingualisme adalah sumber daya sekaligus tantangan.Studi longitudinal yang menilai dampak pendidikan berbasis bahasa ibu pada prestasi akademik, tingkat putus sekolah, dan perkembangan identitas akan memberikan bukti yang lebih kuat untuk advokasi kebijakan.
Berdasarkan temuan dan kesimpulan penelitian ini, beberapa rekomendasi diajukan untuk memperkuat pelestarian bahasa ibu dalam kerangka pendidikan yang terglobalisasi. Pertama, pemerintah dan pembuat kebijakan pendidikan harus memprioritaskan institusionalisasi Pendidikan Multilingual Berbasis Bahasa Ibu (MTB-MLE) di semua tingkat pendidikan. Hal ini mencakup pengembangan kurikulum, bahan pengajaran yang disesuaikan secara lokal, dan pedagogi yang responsif secara budaya. Kebijakan harus disertai dengan pendanaan yang memadai dan pelatihan untuk memberdayakan guru dengan kompetensi linguistik dan pedagogis untuk instruksi multilingual. Kedua, keterlibatan komunitas harus didorong dalam desain kurikulum dan pengembangan sumber daya bahasa. Pembicara lokal, orang tua, dan praktisi budaya harus secara aktif berkontribusi pada konten sekolah untuk memastikan keaslian dan memfasilitasi transmisi bahasa antargenerasi. Ketiga, institusi pendidikan guru harus merevisi program pelatihan mereka untuk mencakup strategi pendidikan multilingual, apresiasi bahasa asli, dan praktik inklusif secara budaya. Hal ini dapat membantu mengurangi resistensi guru dan mempromosikan kepercayaan diri dalam memberikan instruksi berbasis bahasa ibu. Keempat, integrasi teknologi harus dimanfaatkan untuk revitalisasi bahasa ibu. Pengembangan kamus digital, buku elektronik, aplikasi seluler, dan platform pembelajaran elektronik dalam bahasa asli dapat mempromosikan baik literasi maupun keterlibatan teknologi. Kolaborasi internasional dan teknologi linguistik open-source harus dimanfaatkan untuk mendukung komunitas bahasa yang kurang terlayani. Akhirnya, harus terjadi pergeseran paradigma dalam sikap masyarakat. Kampanye kesadaran publik, festival bahasa, dan pemrograman media dalam bahasa asli dapat membantu memulihkan kebanggaan dan nilai dalam warisan bahasa. Promosi keragaman bahasa sebagai aset nasional, bukan sebagai penghalang, sangat penting untuk pendidikan inklusif. Secara ringkas, pelestarian bahasa ibu dalam era globalisasi pendidikan memerlukan upaya multidimensional yang melibatkan inovasi kebijakan, reformasi pendidikan, inklusi teknologi, dan revitalisasi budaya. Ini bukan hanya tentang bahasa; ini adalah tentang mempertahankan pandangan dunia, sejarah, dan identitas yang berkontribusi pada kekayaan peradaban manusia.
- Vol. 2 No. 2 (2024): July 2024 | Journal of Language, Literature, Social and Cultural Studies. vol july... ympn.co.id/index.php/JLLSCS/issue/view/15Vol 2 No 2 2024 July 2024 Journal of Language Literature Social and Cultural Studies vol july ympn index php JLLSCS issue view 15
- 0. ask publishers restore access books wayback machine texts audio software images donate archive sign... doi.org/10.1080/14664208.2013.8569850 ask publishers restore access books wayback machine texts audio software images donate archive sign doi 10 1080 14664208 2013 856985
- Positionality of Native People of Nepal from Indigeneity to Modernity | IntechOpen. native people nepal... doi.org/10.5772/intechopen.1002967Positionality of Native People of Nepal from Indigeneity to Modernity IntechOpen native people nepal doi 10 5772 intechopen 1002967
- Preserving Linguistic Diversity in the Digital Age: A Scalable Model for Cultural Heritage Continuity... doi.org/10.58803/jclr.v3i1.96Preserving Linguistic Diversity in the Digital Age A Scalable Model for Cultural Heritage Continuity doi 10 58803 jclr v3i1 96
| File size | 375.14 KB |
| Pages | 19 |
| Short Link | https://juris.id/p-29M |
| Lookup Links | Google ScholarGoogle Scholar, Semantic ScholarSemantic Scholar, CORE.ac.ukCORE.ac.uk, WorldcatWorldcat, ZenodoZenodo, Research GateResearch Gate, Academia.eduAcademia.edu, OpenAlexOpenAlex, Hollis HarvardHollis Harvard |
| DMCA | Report |
Related /
UNMUNM Peningkatan ini terjadi karena MIA mempromosikan pembelajaran berbasis inquiry, keterlibatan aktif siswa, dan refleksi berpikir, yang memungkinkan pembelajarPeningkatan ini terjadi karena MIA mempromosikan pembelajaran berbasis inquiry, keterlibatan aktif siswa, dan refleksi berpikir, yang memungkinkan pembelajar
IAIN KEDIRIIAIN KEDIRI Tujuan utama artikel ini adalah dua arah: pertama, mengeksplorasi perspektif siswa sekolah menengah Indonesia mengenai penggunaan translanguaging baikTujuan utama artikel ini adalah dua arah: pertama, mengeksplorasi perspektif siswa sekolah menengah Indonesia mengenai penggunaan translanguaging baik
IAIN KEDIRIIAIN KEDIRI Metode yang digunakan melibatkan survei kuantitatif dan diskusi kelompok fokus kualitatif dengan 60 mahasiswa dan 7 dosen di dua perguruan tinggi negeri.Metode yang digunakan melibatkan survei kuantitatif dan diskusi kelompok fokus kualitatif dengan 60 mahasiswa dan 7 dosen di dua perguruan tinggi negeri.
IAIN KEDIRIIAIN KEDIRI Data kuantitatif dianalisis menggunakan statistik deskriptif dan data kualitatif dianalisis secara tematik. Temuan menunjukkan bahwa siswa sering menggunakanData kuantitatif dianalisis menggunakan statistik deskriptif dan data kualitatif dianalisis secara tematik. Temuan menunjukkan bahwa siswa sering menggunakan
UNDIKSHAUNDIKSHA Subjek penelitian melibatkan 25 siswa tunarungu dari salah satu Sekolah Luar Biasa (SLB) di Kota Pontianak. Data dikumpulkan melalui analisis isi bukuSubjek penelitian melibatkan 25 siswa tunarungu dari salah satu Sekolah Luar Biasa (SLB) di Kota Pontianak. Data dikumpulkan melalui analisis isi buku
STKIP SINGKAWANGSTKIP SINGKAWANG Flash cardboard dapat menjadi alternatif metode pembelajaran speaking karena memaksa siswa berbicara sesuai bahasa target dan meningkatkan keterampilanFlash cardboard dapat menjadi alternatif metode pembelajaran speaking karena memaksa siswa berbicara sesuai bahasa target dan meningkatkan keterampilan
SCADINDEPENDENTSCADINDEPENDENT Tujuan utama penelitian ini adalah menghasilkan materi ajar dalam bentuk buku teks; oleh karena itu, penelitian ini dilakukan selama tiga tahun. TahunTujuan utama penelitian ini adalah menghasilkan materi ajar dalam bentuk buku teks; oleh karena itu, penelitian ini dilakukan selama tiga tahun. Tahun
USKUSK Kesalahan tata bahasa dalam penggunaan bahasa adalah masalah utama yang dihadapi siswa. Di sisi lain, masalah dalam konten adalah yang paling sedikit ditemukan.Kesalahan tata bahasa dalam penggunaan bahasa adalah masalah utama yang dihadapi siswa. Di sisi lain, masalah dalam konten adalah yang paling sedikit ditemukan.
Useful /
UNDIKSHAUNDIKSHA Sampel dalam penelitian sebanyak 377 siswa yang didapat dari total anggota populasi 6658 siswa menggunakan teknik area proportional simple random sampling.Sampel dalam penelitian sebanyak 377 siswa yang didapat dari total anggota populasi 6658 siswa menggunakan teknik area proportional simple random sampling.
UNPAMUNPAM Kulit pisang dapat dijadikan bahan baku kertas dengan kualitas memadai melalui proses kraft. Konsentrasi NaOH 4% menghasilkan kertas dengan karakteristikKulit pisang dapat dijadikan bahan baku kertas dengan kualitas memadai melalui proses kraft. Konsentrasi NaOH 4% menghasilkan kertas dengan karakteristik
SERAMBI MEKKAHSERAMBI MEKKAH Dalam esei ini, literatur pemosisian ditinjau, dan diselidiki sampai tingkat apa pandangan berbasis sumber daya dapat digunakan sebagai sumber saran yangDalam esei ini, literatur pemosisian ditinjau, dan diselidiki sampai tingkat apa pandangan berbasis sumber daya dapat digunakan sebagai sumber saran yang
UNUSAUNUSA Peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa pada kelas eksperimen sebesar 0,71 berkategori tinggi, sedangkan pada kelas kontrol sebesar 0,43 berkategoriPeningkatan kemampuan berpikir kritis siswa pada kelas eksperimen sebesar 0,71 berkategori tinggi, sedangkan pada kelas kontrol sebesar 0,43 berkategori