UNNESUNNES

Jurnal Seni TariJurnal Seni Tari

Penelitian ini membahas tentang persepsi masyarakat terhadap seni kuda lumping di Kecamatan Simpang Kiri, Kota Subulussalam. Peneliti mencoba mendeskripsikan: (1) pelaksanaan seni kuda lumping di Kecamatan Simpang Kiri, Kota Subulussalam. (2) persepsi masyarakat terhadap keberadaan seni kuda lumping di Kota Subulussalam. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pelaksanaan dan persepsi masyarakat terhadap seni kuda lumping. Penelitian ini tergolong dalam jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data menggunakan teknik wawancara. Informan dalam penelitian ini berjumlah 8 (delapan) orang. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa pelaksanaan kuda lumping dilakukan oleh 8 atau lebih pemuda yang menunggang kuda dari anyaman bambu dan kemudian berpakaian khas tradisional Jawa serta diiringi alat musik yang dimainkan di tempat. Pada akhir acara beberapa pemain akan mengalami semacam kesurupan. Masyarakat menerima keberadaan seni kuda lumping dan cukup antusias menyaksikan seni ini. Tentu saja seni ini menuai respons baik dan buruk dari masyarakat. Namun masyarakat tetap menerima dan mengharapkan pelestarian seni kuda lumping. Kesimpulan penelitian ini adalah: (1) Seni kuda lumping dalam pelaksanaannya adalah menari menggunakan tunggangan dari anyaman bambu langsung diiringi alat musik tradisional Jawa. (2) Seni kuda lumping diterima baik oleh masyarakat Kota Subulussalam tanpa mengesampingkan seni yang ada.

Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa seni kuda lumping di Kecamatan Simpang Kiri, Kota Subulussalam, cukup dikenal oleh masyarakat setempat.Dalam pertunjukannya, para seniman mengenakan pakaian tradisional Jawa dan menunggangi struktur kuda dari anyaman bambu, dengan minimal 8 peserta, baik laki-laki maupun perempuan.Mereka melakukan berbagai jenis tarian, mulai dari 1 hingga 4 tarian, semua diiringi musik tradisional seperti gamelan, kendang, bonang, dan lainnya.Di akhir pertunjukan, penari mengalami kesurupan dan melakukan tindakan ekstrem seperti meminta untuk diwhip, memakan bunga, bermain dengan api, dan lainnya.Seni ini biasanya diundang ke berbagai acara, termasuk pernikahan, sunatan, dan hari nasional seperti Hari Kemerdekaan.Seni kuda lumping berasal dari Jawa dan telah menemukan tempatnya di Kota Subulussalam tanpa mengganggu masyarakat setempat.Masyarakat menyambut hangat seni ini dan melihatnya sebagai hiburan murni daripada subjek perselisihan.Hal ini tidak menyebabkan argumen tentang bentuk seni mana yang lebih unggul.Seni kuda lumping tradisional memperkaya pemahaman generasi muda tentang berbagai seni di Indonesia.Di era modern ini, warisan budaya dari leluhur harus dilestarikan.Kuda lumping memiliki dampak positif baik bagi penonton maupun para seniman, memperkuat ikatan komunitas.Anak-anak yang menonton dengan antusias meniru tarian yang mereka lihat, menanamkan cinta terhadap seni dan tekad untuk melestarikannya.Namun, kuda lumping juga memiliki dampak negatif, seperti waktu pertunjukan yang terlambat yang mengganggu jadwal belajar dan tidur anak-anak.Hal ini juga dapat menyebabkan konflik di kalangan pemuda.Masyarakat berharap agar seni ini terus dilestarikan dan diturunkan kepada generasi mendatang.

Saran penelitian lanjutan yang dapat diusulkan berdasarkan hasil penelitian ini adalah: 1. Menganalisis lebih lanjut dampak positif dan negatif dari seni kuda lumping terhadap masyarakat, khususnya dalam hal pendidikan dan sosialisasi nilai-nilai budaya. 2. Meneliti strategi-strategi yang dapat digunakan untuk melestarikan seni kuda lumping di era modern, termasuk dalam hal pengembangan dan promosi seni ini kepada generasi muda. 3. Melakukan studi komparatif antara seni kuda lumping dengan seni-seni tradisional lainnya di Indonesia, untuk memahami bagaimana seni-seni ini dapat saling melengkapi dan memperkuat identitas budaya Indonesia.

Read online
File size208.45 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test