UMKLAUMKLA

ANALOGI Jurnal Ilmu Sosial dan HumanioraANALOGI Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora

Media sosial telah menjadi arena penting dalam kampanye politik karena memungkinkan kandidat menampilkan diri, membingkai isu, dan mengajak keterlibatan publik melalui komunikasi visual serta interaktif. Namun, banyak kajian masih menekankan tampilan visual atau metrik keterlibatan, sedangkan pergerakan pesan kampanye dari waktu ke waktu belum banyak diperhatikan. Penelitian ini menganalisis dinamika pesan kampanye kandidat lokal melalui Instagram, khususnya pergeseran dari pembentukan citra menuju ajakan partisipasi. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan metode analisis isi kualitatif. Data terdiri atas 45 unggahan feed Instagram kandidat DPD RI daerah pemilihan Daerah Istimewa Yogyakarta yang dipublikasikan selama periode kampanye intensif satu bulan menjelang pemungutan suara. Setiap unggahan dikode berdasarkan fase kampanye dan fungsi pesan, meliputi pembentukan citra, kedekatan sosial, edukasi elektoral, serta ajakan partisipasi. Hasil penelitian menunjukkan pola yang berkembang secara bertahap dan terarah. Fase awal menekankan pembentukan citra melalui isu gender, budaya lokal, UMKM, lingkungan, dan inovasi. Fase tengah memperkuat kedekatan sosial melalui kunjungan pasar, perjumpaan warga, bahasa lokal, dan kanal aspirasi. Fase akhir didominasi ajakan partisipasi melalui informasi elektoral, kegiatan kampanye, yel-yel, kuis, dan dorongan menggunakan hak pilih. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Instagram tidak hanya berfungsi sebagai media kampanye visual, tetapi juga sebagai ruang pengaturan ritme komunikasi politik lokal dari pembentukan citra menuju partisipasi audiens secara lebih konkret.

Hasil kajian menunjukkan bahwa pesan kampanye politik kandidat lokal melalui Instagram bergerak secara bertahap dari pembentukan citra menuju ajakan partisipasi.Berdasarkan analisis terhadap 45 unggahan Instagram pada periode 10 Januari sampai 10 Februari 2024, fase awal kampanye didominasi oleh pesan pembentukan citra melalui isu perempuan, budaya lokal, UMKM, lingkungan, dan inovasi lokal.Pada fase berikutnya, pesan bergeser pada penguatan kedekatan sosial melalui narasi srawung, grebek pasar, kegiatan warga, toleransi, dan kanal aspirasi.Menjelang akhir periode pengamatan, unggahan semakin banyak diarahkan pada edukasi elektoral dan ajakan partisipasi, seperti informasi penggunaan hak suara, pindah TPS, penolakan politik uang, festival kampanye, yel-yel, kuis, serta ajakan mengikuti kegiatan.Dengan demikian, Instagram dalam konteks kajian tersebut tidak hanya berfungsi sebagai media publikasi visual, tetapi juga sebagai ruang pengaturan ritme pesan kampanye dari pengenalan kandidat, pembangunan relasi sosial, hingga dorongan tindakan politik.

Berdasarkan temuan penelitian ini, beberapa saran penelitian lanjutan yang dapat diusulkan adalah: . . 1. Menganalisis strategi komunikasi kandidat lokal di berbagai platform media sosial, seperti Twitter, Facebook, dan TikTok, untuk memahami bagaimana mereka menggunakan platform yang berbeda untuk mencapai tujuan kampanye yang berbeda.. . 2. Meneliti efek dari ajakan partisipasi dalam kampanye digital, terutama dalam hal mobilisasi pemilih dan pengaruhnya terhadap perilaku pemilih. Studi ini dapat menggabungkan analisis isi dengan data engagement dan persepsi audiens untuk memahami hubungan antara strategi pesan kampanye dan respons publik.. . 3. Melakukan penelitian komparatif antara kandidat lokal yang menggunakan Instagram secara intensif dengan kandidat lokal yang kurang aktif di platform tersebut, untuk melihat apakah ada perbedaan signifikan dalam hal pembentukan citra, kedekatan sosial, dan tingkat partisipasi pemilih.. . 4. Mengkaji peran figur populer atau influencer dalam kampanye digital kandidat lokal, dan bagaimana dukungan mereka dapat mempengaruhi persepsi dan partisipasi pemilih.. . 5. Meneliti lebih lanjut tentang bagaimana karakter visual dan naratif Instagram mempengaruhi strategi pembentukan citra kandidat lokal, dan apakah ada perbedaan antara kandidat lokal dengan kandidat nasional dalam hal ini.. . 6. Mengkaji efek jangka panjang dari kampanye digital kandidat lokal, terutama dalam hal pemeliharaan hubungan dengan pemilih setelah periode kampanye berakhir.. . 7. Meneliti bagaimana kampanye digital kandidat lokal dapat mempengaruhi partisipasi politik di luar pemilihan, seperti keterlibatan dalam kegiatan sosial, politik, atau komunitas.

  1. Instagram and Political Storytelling among Malaysian Politicians during the 14th General Election | Mohamed... doi.org/10.17576/JKMJC-2019-3503-21Instagram and Political Storytelling among Malaysian Politicians during the 14th General Election Mohamed doi 10 17576 JKMJC 2019 3503 21
  2. Framing Political Identity on Instagram: Personal Branding and Public Engagement in the 2024 Indonesian... doi.org/10.14421/pjk.v18i1.3350Framing Political Identity on Instagram Personal Branding and Public Engagement in the 2024 Indonesian doi 10 14421 pjk v18i1 3350
Read online
File size418.26 KB
Pages14
DMCAReport

Related /

ads-block-test