POLTEKKES JOGJAPOLTEKKES JOGJA

Sanitasi: Jurnal Kesehatan LingkunganSanitasi: Jurnal Kesehatan Lingkungan

Lalat merupakan vektor dalam penyebaran beberapa penyakit pada manusia. Penularan penyakit-penyakit tersebut dapat berlangsung secara mekanik, yaitu melalui perantaraan menempelnya bagian tubuh lalat, misalnya proboscis, lalu menyebar melalui bahan tercemar (makanan, minuman, dan air) yang dimakan oleh orang sehat. Pengendalian lalat yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan cara fisik-mekanik-fisiologis, yaitu menggunakan flytrap dengan ditambahkan atraktan. Salah satu bahan yang dapat digunakan sebagai atraktan adalah bahan-bahan yang berciri memiliki aroma manis, salah satunya adalah jerami nangka yang sering menjadi limbah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui berat atraktan limbah jerami nangka yang paling efektif untuk menangkap lalat, dan diketahuinya jumlah lalat yang terperangkap pada masing-masing berat atraktan, yaitu 5,50 gr, 27,50 gr, dan 55,35 gr. Jenis penelitian yang dilakukan adalah eksperimen dengan rancangan post test only control group design. Penelitian dilakukan dengan meletakkan empat flytrap secara berjejer, yaitu tiga kelompok perlakuan dan satu sebagai kelompok kontrol, semuanya dalam tiga kali pengukuran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah rata-rata lalat yang terperangkap pada variasi berat atraktan 5,50 gr adalah 47 ekor; 27,50 gr sebanyak 76 ekor; dan 55,35 gr sebanyak 102 ekor, serta kelompok kontrol sebanyak 12 ekor. Hasil uji statistik dengan one way anova pada (cid:302)=0,05, diperoleh p-value < 0,001 yang berarti bahwa penambahan atraktan limbah jerami nangka pada flytrap memiliki pengaruh yang bermakna terhadap jumlah lalat yang terperangkap. Selanjutnya, dengan uji LSD, diketahui berat atraktan yang paling efektif adalah 55,35gr.

Penambahan limbah nangka (jerami) sebagai atraktan lalat pada flytrap berpengaruh terhadap jumlah lalat yang terperangkap dengan variasi berat 5,50 gr, 27,50 gr dan 55,35 gr.Variasi berat atraktan limbah nangka yang paling efektif untuk memerangkap lalat adalah 55,35 gr dengan jumlah rata-rata lalat yang terperangkap sebanyak 102 ekor.

Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa semakin banyak jumlah atraktan yang ditambahkan, maka semakin banyak jumlah lalat yang terperangkap. Dalam penelitian ini, warna flytrap yang digunakan tidak berpengaruh terhadap jumlah lalat yang terperangkap sehingga warna apapun (selain yang disukai oleh lalat) dapat digunakan sebagai flytrap. Jumlah lalat yang terperangkap berdasarkan setiap warna flytrap, paling banyak pada setiap titik karena lokasi pada titik tersebut dekat dengan sumber lain adanya keberadaan lalat. Bagi masyarakat luas, atau tempat-tempat yang berpotensi untuk terdapat lalat dalam jumlah besar, seperti pemilik peternakan ayam, dapat mengaplikasikan pembuatan flytrap dengan menambahkan limbah nangka (jerami) sebagai atraktan untuk menarik lalat mendekat, dengan berat 55,35 gr. Bagi peneliti lain yang tertarik, dapat melakukan penelitian lanjutan dengan membandingkan berbagai jenis atraktan dari limbah yang dapat digunakan selain jerami nangka, seperti ubi cilembu dan kulit pisang.

Read online
File size1.24 MB
Pages6
DMCAReport

Related /

ads-block-test