UNIPIUNIPI

Zeitgeist: Jiwa ZamanZeitgeist: Jiwa Zaman

Kajian ini menganalisis eksistensi Kerajaan Hitu di jazirah Leihitu, Maluku, sebagai entitas politik maritim yang pembentukannya tidak terpisahkan dari dinamika globalisasi arkaik yang menghubungkan kepulauan Maluku dengan jaringan perdagangan lintas-benua sejak abad ke-13. Kajian-kajian yang ada cenderung membaca Hitu secara parsial baik sebagai objek kolonialisme semata maupun sebagai fenomena lokal yang terlepas dari konteks sistem dunia yang lebih luas. Dengan menggunakan pendekatan historis-analitis yang memadukan sejarah maritim, sosiologi kekuasaan, dan teori globalisasi, studi ini menelaah pembentukan kekuasaan berbasis jaringan, Islamisasi sebagai rekonfigurasi legitimasi, ekonomi rempah dalam tatanan multilateral, sistem soa sebagai oligarki federatif, strategi negosiasi di bawah tekanan kolonial VOC, serta warisan Hitu dalam arus globalisasi kontemporer. Studi ini menemukan bahwa Kerajaan Hitu beroperasi sebagai aktor aktif dalam globalisasi arkaik jauh sebelum hegemoni Eropa, dan bahwa ketahanannya bertumpu pada persistensi institusi-institusi informal sistem soa dan memori kolektif yang melampaui kehancuran struktur politiknya. Kajian ini menegaskan urgensi dekolonisasi historiografi Indonesia sekaligus membuka relevansi warisan Hitu bagi diskursus heritage dan pendidikan sejarah kontemporer.

Kajian ini menegaskan bahwa eksistensi Kerajaan Hitu (1600-1945) melampaui narasi sejarah lokal konvensional dan harus diposisikan sebagai aktor sentral dalam dinamika globalisasi arkaik di Asia Tenggara.Secara analitis, penelitian ini membuktikan bahwa Hitu bukan sekedar objek pasif dari ekspansi kolonial Barat, melainkan arsitek jaringan perdagangan lintas budaya yang telah mengoperasikan mekanisme pasar global secara mandiri jauh sebelum hegemoni VOC mapan.Meskipun keterbukaan kosmopolitannya menimbulkan kerentanan terhadap kapitalisme monopolistik Eropa, Hitu menunjukkan resiliensi yang luar biasa melalui dikotomi antara kehilangan bentuk politik formal dan perlindungan substansi identitas.Melalui keinginan institusi adat seperti sistem soa, Hitu mampu melakukan transformasi dari entitas politik berdaulat menjadi kekuatan kultural informal yang terus dinegosiasikan hingga era kontemporer.Pada akhirnya, studi ini menawarkan kontribusi signifikan bagi dekolonisasi historiografi Indonesia dengan menunjukkan bahwa ketahanan suatu komunitas tidak terletak pada kekakuan tradisi, melainkan pada kemampuan melakukan hibridisasi kreatif dalam merespons arus perubahan global yang asimetris.

Berdasarkan hasil penelitian, terdapat beberapa saran penelitian lanjutan yang dapat dikembangkan. Pertama, perlu dilakukan kajian lebih mendalam tentang sistem soa sebagai unit organisasi sosial dasar dalam masyarakat Ambon-Maluku, termasuk analisis tentang peran perempuan dalam sistem ini dan bagaimana sistem soa mampu bertahan dan beradaptasi di tengah perubahan sosial, ekonomi, dan politik. Kedua, penelitian dapat fokus pada strategi negosiasi dan diplomasi yang digunakan oleh Kerajaan Hitu dalam menghadapi tekanan kolonial VOC, termasuk analisis tentang bagaimana Hitu mampu mempertahankan identitas dan eksistensinya di tengah hegemoni Eropa. Ketiga, studi tentang warisan Kerajaan Hitu dalam konteks pasca-kolonial dan pasca-kemerdekaan Indonesia dapat menjadi fokus penelitian selanjutnya, termasuk analisis tentang bagaimana identitas historis Hitu menjadi sumber daya kultural dalam negosiasi posisi komunal dalam struktur nasional yang baru.

Read online
File size435.57 KB
Pages18
DMCAReport

Related /

ads-block-test