UnwahasUnwahas

Jurnal MediagroJurnal Mediagro

Keterbatasan media tumbuh bakteri dan cendawan merupakan kendala utama dalam penelitian dan pengembangan mikroba di Kabupaten Merauke khususnya pengembangan mikroba potensial untuk peningkatan produksi dan pengendalian hayati. Oleh karena itu digunakan media alternatif yang berasal dari sumber hayati lokal dengan kandungan nutrisi yang sama dan bahkan lebih tinggi serta bernilai ekonomis dibandingkan dengan media PDA. Media alternatif berasal dari bahan jagung, gembili, singkong, keladi, ubi jalar, dan pisang yang mudah ditemui di Merauke, sedangkan media kontrol yakni media PDA berbahan baku kentang. Penelitian ini ditujukan untuk membandingkan parameter media dan hasil pertumbuhan Trichoderma dari media alternatif. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan perlakuan media yaitu PDA (M1), jagung manis (M2), gembili (M3), ubi jalar (M4), keladi (M5), singkong (M6) dan pisang (M7). Setiap perlakuan terdiri atas 3 kali ulangan. Variabel yang diamati yaitu pH media, kekerasan media, diameter koloni dan kepadatan konidia. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa karakteristik media berupa pH masih dalam batas kemampuan tumbuh Trichoderma yakni pH tertinggi 6,2 pada media singkong, gembili, dan ubi jalar dan terendah denagan nilai pH 4,9 pada media pisang. Lama pengerasan media dengan waktu tercepat didapatkan pada media PDA, jagung, dan gembili pada menit ke 27 sedangkan terlama pada media pisang dengan lama waktu 46 menit. Sedangkan dari hasil inokulasi Trichoderma didapatkan luasan pertumbuhan miselium tercepat pada hari ketujuh pada media jagung, gembili, singkong, dan keladi sedangkan kerapatan konidia tertinggi dihasilkan pada media PDA dengan nilai 6,8x108 konidia/mg dan terendah pada media pisang dengan nilai 1,6x108 konidia/mg.

Bahan lokal dapat digunakan sebagai media alternatif cendawan Trichoderma.Laju pertumbuhan cendawan tercepat diperoleh pada media jagung dengan diameter koloni sebesar 10,03 cm.Sedangkan kerapatan konidia tertinggi didapatkan pada media kentang dengan konsentrasi 6,8x108 konidia/mg dan terendah pada media pisang yakni 1,65 x108 konidia/mg.Perlu dilakukan kajian tentang pengaruh Trichoderma media kentang dan jagung serta stabilitasnya sebagai pengendali hayati pada tanaman pangan.

Penelitian lanjutan dapat mengkaji stabilitas Trichoderma sebagai agen hayati dalam jangka panjang untuk memastikan efektivitasnya di lapangan. Selain itu, perlu dilakukan eksplorasi media alternatif lain yang lebih murah dan mudah diperoleh untuk meningkatkan aksesibilitas para petani. Studi juga dapat fokus pada pengaruh perubahan parameter lingkungan seperti suhu dan kelembapan terhadap pertumbuhan Trichoderma pada berbagai jenis media alternatif.

  1. Media Alternatif Perbanyakan Trichoderma sp. dari Berbagai Jenis Limbah Sebagai Agen Pengendali Hayati... doi.org/10.22487/agrolandnasional.v30i3.1756Media Alternatif Perbanyakan Trichoderma sp dari Berbagai Jenis Limbah Sebagai Agen Pengendali Hayati doi 10 22487 agrolandnasional v30i3 1756
  2. KARAKTERISTIK FISIOLOGI EMPAT ANTAGONIS ISOLAT Trichoderma sp. SEBAGAI AGENSIA HAYATI | Sains Natural:... doi.org/10.31938/jsn.v5i1.96KARAKTERISTIK FISIOLOGI EMPAT ANTAGONIS ISOLAT Trichoderma sp SEBAGAI AGENSIA HAYATI Sains Natural doi 10 31938 jsn v5i1 96
  3. Radware Bot Manager Captcha. radware bot manager captcha apologize ensure keep safe please confirm human... doi.org/10.1088/1755-1315/886/1/012045Radware Bot Manager Captcha radware bot manager captcha apologize ensure keep safe please confirm human doi 10 1088 1755 1315 886 1 012045
Read online
File size354.63 KB
Pages11
DMCAReport

Related /

ads-block-test