UINSUNAUINSUNA

Al Mabhats : Jurnal Penelitian Sosial AgamaAl Mabhats : Jurnal Penelitian Sosial Agama

Tulisan ini bertujuan melakukan analisa filosofis atas puisi-puisi Jalaluddin Rumi yang telah dihimpun dan ditranskripsikan oleh pegiat dan peneliti pemikirannya, Reynold A. Nicholson. Jalaluddin Rumi menyampaikan ajarannya dengan ungkapan-ungkapan simbolis dalam bentuk puisi sehingga sulit dipahami. Penulis berusaha membuat narasi sistematis dengan menggunakan referensi-referensi terkait agar dapat menafsirkan maksud sufi dari Persia itu. Penulis menemukan ajaran Jalaluddin Rumi adalah ajaran tentang pengalaman sufi yang menganut ajaran tasawuf falsafi. Ajaran ini menekankan pada aspek esoterisme. Sehingga menjauhkan dari dari sikap membenci terhadap orang-orang yang berbeda dengannya. Dalam zaman yang penuh kebencian, saling menuduh sesat, mengklaim keyakinan sendiri yang paling benar, sehingga manusia menjadi sangat mudah untuk saling membenci dan memusuhi, ajaran tasawuf falsafi yang dianut Jalaluddin Rumi menjadi sangat dibutuhkan umat manusia dewasa ini sebagai landasan membangun persatuan dan harmonisasi dalam berkehidupan.

Jalaluddin Rumi menunjukkan bahwa perasaan seorang sufi tidak dapat diukur secara objektif.Mereka mencari duka karena itu adalah jalan menuju Sang Kekasih.Kekasih memberikan cinta dan kasih sayang melalui berbagai penderitaan.Secara sukarela mereka melepaskan diri ke dalam api cinta yang menghancurkan diri.Tetapi dalam penderitaan itu mereka menemukan kebahagiaan sejati.Kebahagiaan sejati adalah pengalaman yang tidak mampu dijelaskan dengan kata-kata.Hanya dengan mengalaminya secara langsung, penalaman itudapat dipahami.Sebab itulah Jalaluddi Rumi dan sufi umumnya menganjurkan kepada setiap insan untuk mempersiapkan diri menempuh perjalanan spiritual guna mendapatkan kebahagiaan di dalam penderitaan.Dengan pengalaman dalam kebahagiaan sejati, segala predikasi menjadi tidak menjadi pertimbangan.Di sinilah letak perbedaan seorang arif dengan teolog dan ulama fikih.Seorang ulama fikih sibuk dengan perangkat teknis hukum sehingga umumnya mereka menjadi pembenci kepada pelaku teknis hukum yang tidak sesuai dengan yang mereka amalkan.Sementara seorang teolog sibuk dengan konsepsi-konsepsi tentang Tuhan yang sebenarnya merupakan limitasi-limitasi terhadap hakikat.Mereka akan menjadi pembenci terhadap pihak lain yang memahami Tuhan secara berbeda dengan konsep Tuhan yang mereka pahami.Tak ayal pandangan teknis dan konseptualistik mengundang kebencian dan menjadi bibit dari perselisihan dan perpecahan.Sementara seorang arif yang telah berada dalam pengalaman cinta tidak lagi melihat kepada konsep-konsep teknis dan perspektif tertentu.Sehingga ajaran tasawuf filosofis sebagaimana diyakini Jalaluddin Rumi melah menjadi potensi persatuan umat manusia yang berlandaskan pada cinta dan kebijaksanaan.Untuk itulah tidak salah lagi bahwa ajaran sufi-filosifis harus terus dikembangkan guna menumbuhkan cinta dan persaudaraan antar umat manusia.

Untuk penelitian lanjutan, dapat dipertimbangkan beberapa arah studi berikut: Pertama, mengkaji lebih dalam tentang pengalaman spiritual dan mistis yang dialami oleh Jalaluddin Rumi dan para sufi lainnya, serta bagaimana pengalaman tersebut mempengaruhi pemahaman mereka tentang cinta dan kebijaksanaan. Kedua, meneliti lebih lanjut tentang konsep tasawuf falsafi yang dianut oleh Jalaluddin Rumi, termasuk aspek-aspek esoteris dan mistisnya, serta bagaimana konsep ini dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari untuk mencapai kesatuan dan harmonisasi. Ketiga, melakukan studi komparatif antara ajaran tasawuf falsafi Jalaluddin Rumi dengan ajaran-ajaran spiritual lainnya, seperti filsafat Peripatetik, untuk memahami perbedaan dan kesamaan antara kedua sistem pemikiran tersebut.

Read online
File size292.96 KB
Pages33
DMCAReport

Related /

ads-block-test