UIN Ar-RaniryUIN Ar-Raniry

Jurnal Ilmiah Islam FuturaJurnal Ilmiah Islam Futura

Historiografi militer konvensional mengenai Agresi Militer Belanda II (1948-1949) sering kali memisahkan strategi gerilya Jenderal Sudirman dari dimensi spiritual para agennya, sehingga mereduksi spiritualitas sekadar sebagai motivator ideologis. Artikel ini menjembatani kesenjangan teoretis tersebut dengan menguji mekanisme sosiologis tentang bagaimana etos pesantren direkontekstualisasi menjadi strategi tempur yang efektif. Untuk mengatasi ambiguitas spiritualitas dalam studi strategis, penelitian ini membedah transposisi Kewaspadaan Spiritual (Muraqabah) dan Disiplin Asketis (Riyadhoh) ke dalam operasi militer. Dengan menggunakan pendekatan sosio-historis dan Analisis Wacana Kritis (AWK) terhadap memoar gerilya serta literatur etika pesantren, studi ini mengungkapkan bahwa di tengah keruntuhan total logistik negara, Jenderal Sudirman berperan sebagai makelar budaya (cultural broker) yang mentransformasikan habitus santri menjadi metodologi taktis. Temuan penelitian menunjukkan dua bentuk dasar rekontekstualisasi: (1) habitus Riyadhoh dikonversi menjadi ketahanan logistik yang ekstrem, dan (2) Muraqabah ditransformasikan menjadi disiplin senyap taktis (tactical stealth), sebuah prasyarat mutlak untuk taktik penyergapan. Studi ini menyimpulkan bahwa efektivitas gerilya Indonesia merupakan hasil dari konversi modal budaya spiritual menjadi modal militer. Implikasi teoretis dari penelitian ini menegaskan bahwa dalam peperangan asimetris, agama berevolusi melampaui sekadar jus ad bellum (motivasi awal) menjadi jus in bello (metodologi operasional).

Studi ini menyimpulkan bahwa efektivitas gerilya Indonesia merupakan hasil dari konversi modal budaya spiritual menjadi modal militer.Implikasi teoretis dari penelitian ini menegaskan bahwa dalam peperangan asimetris, agama berevolusi melampaui sekadar jus ad bellum (motivasi awal) menjadi jus in bello (metodologi operasional).

Berdasarkan temuan dan analisis dalam penelitian ini, berikut adalah tiga saran penelitian lanjutan yang dapat dikembangkan:. . 1. Mengkaji lebih lanjut peran dan pengaruh spiritualitas dalam strategi militer, khususnya dalam konteks peperangan asimetris. Penelitian ini dapat fokus pada bagaimana spiritualitas dapat menjadi sumber kekuatan dan motivasi bagi pasukan, serta bagaimana hal tersebut dapat diintegrasikan dengan strategi militer yang efektif.. . 2. Melakukan studi komparatif antara strategi militer konvensional dan strategi militer yang dipengaruhi oleh spiritualitas. Penelitian ini dapat mengeksplorasi perbedaan dan persamaan antara kedua pendekatan tersebut, serta bagaimana spiritualitas dapat menjadi faktor penentu dalam keberhasilan strategi militer.. . 3. Meneliti lebih dalam tentang proses rekontekstualisasi etos pesantren menjadi strategi tempur yang efektif. Penelitian ini dapat fokus pada bagaimana nilai-nilai dan praktik spiritual dalam pesantren dapat diadaptasi dan diterapkan dalam konteks peperangan, serta bagaimana hal tersebut dapat meningkatkan kemampuan tempur dan ketahanan pasukan.

  1. Between Revenues and Public Service Delivery in: Bijdragen tot de taal-, land- en volkenkunde / Journal... brill.com/view/journals/bki/176/2-3/article-p304_4.xmlBetween Revenues and Public Service Delivery in Bijdragen tot de taal land en volkenkunde Journal brill view journals bki 176 2 3 article p304 4 xml
  2. Project MUSE -- Verification required!. project muse verification required order better serve keep site... doi.org/10.1353/ind.2022.0001Project MUSE Verification required project muse verification required order better serve keep site doi 10 1353 ind 2022 0001
Read online
File size738.95 KB
Pages26
DMCAReport

Related /

ads-block-test