UNYUNY

Jurnal Ilmiah WUNYJurnal Ilmiah WUNY

Latar belakang: Prawirotaman, sebuah kampung perkotaan bersejarah di Yogyakarta, Indonesia, telah mengalami transformasi mendalam yang dipicu oleh pertumbuhan pariwisata yang pesat. Awalnya dihuni oleh keturunan prajurit Istana Prawirotomo dan dikenal sebagai pusat produksi batik, kawasan ini telah berkembang menjadi destinasi wisata yang dinamis. Tujuan: Studi ini mengeksplorasi dimensi sosial, ekonomi, dan spasial dari transformasi tersebut. Metode: Pendekatan deskriptif kualitatif digunakan melalui tinjauan sistematik literatur buku, jurnal ilmiah, dan artikel akademik terkait. Hasil: Temuan menunjukkan bahwa pertumbuhan pariwisata memicu pergeseran signifikan dalam struktur pekerjaan, munculnya lapisan sosial baru, serta perubahan dari hubungan sosial berbasis komunitas ke interaksi berbasis komersial. Secara ekonomi, kawasan ini beralih dari produksi batik ke layanan pariwisata, disertai dengan kenaikan harga tanah, peningkatan investasi dari modal eksternal, dan proses komersialisasi serta gentrifikasi pariwisata. Secara spasial, peningkatan hotel, kafe, dan pusat komersial telah mengurangi ruang publik dan mengurangi aksesibilitas pejalan kaki di koridor utama. Kesimpulan: Transformasi keseluruhan Prawirotaman mencerminkan dinamika perkotaan yang lebih luas di Yogyakarta, menunjukkan kebutuhan mendesak untuk kebijakan spasial inklusif, pemberdayaan ekonomi lokal, dan pelestarian identitas budaya kampung.

Transformasi Prawirotaman selama setengah abad terakhir merupakan kasus khas perubahan perkotaan yang didorong oleh pariwisata dalam konteks warisan budaya Indonesia.Mulai sebagai kampung yang dikenal sebagai pusat produksi batik, Prawirotaman telah mengalami berbagai fase restrukturisasi ekonomi, realokasi sosial, dan rekonfigurasi spasial, hingga menjadi destinasi wisata perkotaan yang dinamis namun kontroversial.Tiga dimensi yang dianalisis dalam studi ini—sosial, ekonomi, dan spasial—sangat saling terkait dan harus dipahami secara holistik untuk merumuskan respons kebijakan yang efektif.Secara sosial, pertumbuhan pariwisata telah mengubah fondasi pekerjaan dan hubungan tradisional komunitas kampung, menggantikan norma gotong royong dengan interaksi berbasis komersial, serta menciptakan stratifikasi sosial baru yang dipengaruhi oleh akses kepemilikan properti.Dampak kontak berkelanjutan dengan wisata internasional mempercepat perubahan budaya, mengubah sikap terhadap gender, konsumsi, dan rasa memiliki komunitas.Namun, keberlanjutan organisasi komunitas dan praktik budaya menunjukkan bahwa ketahanan sosial tetap menjadi aset penting.Secara ekonomi, Prawirotaman menggambarkan kerentanan struktural komunitas yang semakin bergantung pada pasar pariwisata yang dipengaruhi oleh aliran modal global dan perantara digital.Gentrifikasi pariwisata yang didorong oleh kenaikan nilai tanah dan masuknya investasi eksternal telah memusatkan keuntungan ekonomi pada elite pemilik properti dan investor eksternal, sementara mayoritas penduduk lokal tetap berada dalam pekerjaan sektor jasa yang rentan.Inisiatif ekonomi kreatif yang dikembangkan oleh pengusaha lokal merupakan kekuatan pengimbang yang menjanjikan namun rapuh.Secara spasial, komersialisasi lingkungan bangunan telah merusak karakter arsitektur khas kampung, mengurangi ruang publik, dan menciptakan lingkungan pejalan kaki yang gagal mendukung kehidupan komunitas luar ruangan yang dinamis.Dominasi bangunan komersial yang berorientasi ke dalam di koridor utama telah mengubah jalan menjadi koridor kendaraan, merusak kualitas pengalaman wisata dan kesejahteraan harian warga lokal.

Studi lanjutan dapat mengeksplorasi dampak jangka panjang gentrifikasi pariwisata terhadap identitas budaya lokal, seperti bagaimana perubahan struktur sosial memengaruhi keberlanjutan tradisi batik. Penelitian juga bisa fokus pada peran platform digital dalam memperkuat usaha kecil lokal, misalnya dengan membandingkan strategi pemasaran online antara pengusaha tradisional dan pelaku pariwisata modern. Selain itu, penelitian tentang kebijakan pengelolaan ruang yang inklusif perlu dikembangkan, termasuk studi kasus kota lain yang menghadapi tantangan serupa untuk mengidentifikasi solusi yang dapat diadopsi di Prawirotaman. Ketiga saran ini memberikan arah studi baru yang relevan dengan tantangan aktual, menggabungkan perspektif sosial, ekonomi, dan spasial untuk memastikan keberlanjutan kawasan kampung yang bersejarah.

  1. Social, Economic, and Spatial Transformation of the Prawirotaman Urban Kampung in Yogyakarta | Jurnal... journal.uny.ac.id/index.php/wuny/article/view/92586Social Economic and Spatial Transformation of the Prawirotaman Urban Kampung in Yogyakarta Jurnal journal uny ac index php wuny article view 92586
Read online
File size288.36 KB
Pages12
DMCAReport

Related /

ads-block-test