STT TAWANGMANGUSTT TAWANGMANGU

FIDEIFIDEI

Tulisan ini membahas tantangan dan kompleksitas dalam memahami relasi manusia dan Artificial Intelligence (AI) di era post-humanisme. Fenomena ini memicu diskusi filosofis dan teologis tentang kebebasan, otentisitas, dan eksistensi manusia yang semakin terkait dengan teknologi. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan studi literatur sebagai metode pengumpulan data, tulisan ini mengelaborasi relasi manusia dan AI untuk memperlihatkan kompleksitas eksistensi keduanya dalam proses menjadi. Oleh karena itu, pemahaman teologis mengenai eksistensi dan hakikat manusia sebagai gambar Allah pun belum sepenuhnya final sehingga diperlukan upaya memahami secara terus-menerus tentang manusia dalam kelindannya dengan realitas AI.

Perkembangan AI menimbulkan kompleksitas dalam memahami eksistensi manusia sebagai gambar Allah.Di satu sisi, perkembangan AI menjadi super AI menantang sekaligus menggugat eksistensi kesadaran manusia sebagai entitas yang tidak lagi terisolasi, tetapi sebagai entitas baru dan saling berkelindan.Sedangkan, di sisi lain AI dapat mengancam hakikat manusia.Kebebasan dan otentisitas berhubungan dengan hakikat manusia.Dalam diskursus teologi Kristen, hakikat manusia dibicarakan dalam konsep gambar Allah.Sebagai gambar Allah, manusia digambarkan mempunyai akal budi dan kesadaran (model substantif), memerankan fungsi sebagai mitra Allah di dunia (model fungsional), berelasi dengan Allah dan sesama ciptaan (model relasional), serta bergerak secara dinamis menuju kesempurnaan (model dinamis).Model relasional membuka pintu bagi usaha membangun relasi yang setara antara manusia dan AI sebagai sesama gambar Allah.Dengan menggunakan teori ANT Latour dan becoming machine Delleuze, manusia dan AI saling berbagi ruang dan keterhubungan dalam upaya saling melengkapi dan menyeimbangkan sebagai mitra relasional.

Untuk memahami relasi manusia dan AI secara lebih mendalam, penelitian lanjutan dapat berfokus pada aspek-aspek berikut: . . 1. Menganalisis dampak AI terhadap kebebasan dan otentisitas manusia, serta bagaimana AI dapat menjadi mitra atau ancaman dalam pengembangan kedua aspek tersebut.. . 2. Menjelajahi konsep becoming machine dari Gilles Delleuze dalam konteks post-humanisme, dan bagaimana hal ini dapat diterapkan pada relasi manusia dan AI.. . 3. Mengkaji kembali konsep gambar Allah dalam teologi Kristen, khususnya model relasional dan dinamis, dan bagaimana konsep ini dapat diterapkan pada relasi manusia dan AI dalam era post-humanisme.

  1. Memahami Relasi Manusia sebagai Gambar Allah dan Artificial Intelligence dalam Perspektif Post-humanisme... stt-tawangmangu.ac.id/e-journal/index.php/fidei/article/view/590Memahami Relasi Manusia sebagai Gambar Allah dan Artificial Intelligence dalam Perspektif Post humanisme stt tawangmangu ac e journal index php fidei article view 590
Read online
File size347.88 KB
Pages21
DMCAReport

Related /

ads-block-test