JRTTJRTT

Journal of Railway Transportation and TechnologyJournal of Railway Transportation and Technology

Perlintasan kereta api merupakan titik kritis dalam operasi kereta api karena interaksi antara kereta dan lalu lintas jalan raya. Di Indonesia, banyak perlintasan di kawasan perkotaan seperti Medan yang beroperasi dengan infrastruktur keselamatan yang terbatas, meningkatkan kemungkinan terjadinya kecelakaan serius. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi risiko kecelakaan dan mengusulkan strategi mitigasi untuk perlintasan kereta api terpilih di Medan. Penilaian risiko kuantitatif dilakukan menggunakan Australian Level Crossing Assessment Model (ALCAM), yang mempertimbangkan faktor infrastruktur, paparan, dan konsekuensi. Data dikumpulkan melalui observasi lapangan, wawancara dengan petugas perlintasan, dan catatan sekunder dari otoritas transportasi lokal. Tiga lokasi dianalisis: KM 9 30 di jalur Medan-Binjai, dan JPL 1 (KM 0 640) serta JPL 4 (KM 1 325) di jalur Medan-Tanjung Balai. Perlintasan tanpa gerbang di KM 9 30 memiliki skor risiko 0,053, JPL 1 tertinggi dengan skor 0,136, dan JPL 4 dengan skor 0,076. Strategi mitigasi simulasi mengurangi risiko menjadi 0,020, 0,051, dan 0,038, masing-masing. Temuan ini menunjukkan bahwa ALCAM menyediakan kerangka kerja yang andal untuk mengkuantifikasi risiko dan memprioritaskan perbaikan keselamatan di perlintasan kereta api di Indonesia.

Observasi menunjukkan variasi kondisi perlintasan kereta api.Stasiun, Desa Lalang, perlintasan tanpa gerbang, hanya dilengkapi tanda, dengan volume lalu lintas 6.220 sepeda motor) dan 24 pergerakan kereta/hari.Haryono (JPL 1), dilengkapi dengan setengah penghalang, tanda, dan pengeras suara, dengan volume lalu lintas 39.181 kendaraan/hari (sekitar 19-20 ribu sepeda motor) dan 29 pergerakan kereta/hari.Sisingamangaraja (JPL 4), dengan fasilitas serupa, volume lalu lintas 29.484 sepeda motor), dan 29 pergerakan kereta/hari.Berdasarkan perhitungan ALCAM, risiko kecelakaan tertinggi ditemukan di JPL 1, Jl.Haryono, dengan skor 0,136 (fatalitas diperkirakan sekali setiap 7 tahun, kemungkinan sekali setiap 2 tahun).Sisingamangaraja, memiliki skor risiko 0,076 (fatalitas sekali setiap 13 tahun, kemungkinan sekali setiap 4 tahun).Stasiun, Desa Lalang, mencatat skor risiko 0,053 (fatalitas sekali setiap 19 tahun, kemungkinan sekali setiap 5 tahun).Analisis sensitivitas menunjukkan bahwa faktor risiko utama termasuk sistem kontrol, waktu peringatan, kedekatan dengan persimpangan, dan kepatuhan terhadap standar.Mitigasi faktor-faktor ini terbukti mengurangi risiko, dan dengan data yang akurat, ALCAM memiliki potensi untuk diterapkan secara nasional.

Untuk penelitian lanjutan, disarankan untuk memperluas penelitian ke wilayah geografis yang lebih beragam, mengintegrasikan faktor perilaku dan sosial-ekonomi, serta memvalidasi skor risiko ALCAM dengan data frekuensi kecelakaan nyata untuk meningkatkan keandalan penerapan nasional. Selain itu, perlu dipertimbangkan untuk mengembangkan model ALCAM yang lebih komprehensif dengan mempertimbangkan faktor-faktor perilaku dan sosial-ekonomi, serta melakukan validasi model dengan data kecelakaan nyata di Indonesia. Penelitian selanjutnya juga dapat fokus pada pengembangan strategi mitigasi yang efektif untuk mengurangi risiko kecelakaan di perlintasan kereta api, termasuk peningkatan infrastruktur dan edukasi pengguna jalan. Dengan demikian, penelitian ini dapat memberikan kontribusi yang signifikan bagi peningkatan keselamatan perlintasan kereta api di Indonesia.

  1. Evaluation Study of Level Crossings on Direct Crossing Routes (JPL) in Semarang City | Budiharjo | MEDIA... doi.org/10.14710/mkts.v30i2.65494Evaluation Study of Level Crossings on Direct Crossing Routes JPL in Semarang City Budiharjo MEDIA doi 10 14710 mkts v30i2 65494
Read online
File size485.66 KB
Pages10
DMCAReport

Related /

ads-block-test