UINMADURAUINMADURA

Jurnal Pengabdian Masyarakat - PerdikanJurnal Pengabdian Masyarakat - Perdikan

Budidaya udang Vaname merupakan sumber penghidupan yang penting sekaligus penopang produksi pangan lokal bagi masyarakat pesisir. Namun, produktivitas budidaya ini sangat dipengaruhi oleh perubahan kualitas air tambak yang dapat terjadi secara cepat. Pada banyak tambak skala kecil dan berbasis kelompok, pemantauan kualitas air masih dilakukan secara manual dan tidak berkesinambungan, sehingga tindakan korektif sering terlambat dilakukan dan kerugian produksi yang sebenarnya dapat dicegah tetap terjadi. Program pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan memperkuat pengelolaan akuakultur lokal pada Kelompok Pembudidaya Udang Vaname Jaring Emas di Kabupaten Sumenep, Indonesia, melalui penerapan Early Warning System (EWS) berbasis Internet of Things (IoT) untuk pemantauan kualitas air secara real-time. Kegiatan ini dilaksanakan dengan pendekatan partisipatif dan berbasis praktik, yang melibatkan mitra sejak tahap identifikasi permasalahan, perancangan solusi, pemasangan sistem, pelatihan langsung, hingga pendampingan lanjutan. Sistem yang diterapkan terdiri atas tiga node IoT berbasis ESP32 yang dilengkapi sensor pH, suhu, dan dissolved oxygen (DO), didukung oleh server komunikasi berbasis MQTT serta aplikasi web dan mobile yang menyediakan dashboard real-time, notifikasi peringatan dini, dan pencatatan kegiatan pakan serta panen yang lebih sistematis.

Program ini tidak hanya memperkuat kapasitas teknis dalam pemantauan kualitas air, tetapi juga mendorong praktik pengelolaan tambak yang lebih preventif, responsif, dan berbasis data di tingkat komunitas.Ke depan, program serupa perlu didukung dengan pendampingan pascaimplementasi yang lebih kuat serta pengembangan rekomendasi sederhana berbasis data historis agar pemanfaatannya dapat berkelanjutan dan memberi dampak yang lebih luas.Hasil menunjukkan bahwa sistem dapat beroperasi secara berkelanjutan dan memungkinkan pemantauan kondisi tambak secara real-time melalui akses web maupun mobile.Mitra juga semakin mampu membaca tren data, memahami peringatan yang muncul, dan memanfaatkan informasi tersebut untuk mengambil tindakan korektif secara lebih cepat, misalnya dengan menyesuaikan aerasi saat kadar DO menurun.Selain itu, pencatatan operasional menjadi lebih tertata, dan data panen menunjukkan adanya perbaikan setelah sistem diadopsi, yaitu dari sekitar 830–880 kg per tambak dengan kualitas grade B menjadi sekitar 1.220 kg per tambak dengan kualitas grade A.

1) Mengembangkan program pelatihan adaptif untuk mengatasi perbedaan kondisi jaringan internet di area tambak, termasuk penggunaan teknologi alternatif untuk daerah dengan koneksi tidak stabil. 2) Membuat alat bantu keputusan berbasis data historis yang memberikan rekomendasi sederhana seperti pola aerasi atau jadwal pakan, sehingga mitra dapat mengambil tindakan proaktif tanpa memerlukan analisis teknis yang rumit. 3) Memperluas kolaborasi dengan pihak pemerintah daerah dan petugas perikanan untuk membangun ekosistem pendukung adopsi teknologi, termasuk penyediaan infrastruktur dan pelatihan berkelanjutan untuk kelompok peternak lainnya di wilayah dengan tantangan serupa.

  1. Diseminasi Teknologi Tepat Guna Berbasis Lingkungan untuk Mitigasi Hama Burung dan Ketahanan Pertanian... doi.org/10.29303/DARMADIKSANI.V5I1.7296Diseminasi Teknologi Tepat Guna Berbasis Lingkungan untuk Mitigasi Hama Burung dan Ketahanan Pertanian doi 10 29303 DARMADIKSANI V5I1 7296
Read online
File size1.21 MB
Pages15
DMCAReport

Related /

ads-block-test