RJFAHUINIBRJFAHUINIB

Diwan: Jurnal Bahasa dan Sastra ArabDiwan: Jurnal Bahasa dan Sastra Arab

Perbedaan latar belakang budaya agama mendorong penerjemah untuk melakukan upaya resistensi dan negosiasi ketika menerjemahkan istilah-istilah agama dalam karya sastra. Resistensi berfokus pada menjaga makna asli, sedangkan negosiasi menyesuaikan makna agar selaras dengan pemahaman budaya sasaran. Berdasarkan strategi terjemahan tersebut, penelitian ini menganalisis resistensi dan negosiasi identitas agama dalam terjemahan novel Gadis Kretek ke dalam bahasa Arab. Menggunakan metode kualitatif dengan analisis interpretatif-komparatif, penelitian ini memeriksa identitas agama dalam unit linguistik sumber dan sasaran teks, khususnya melalui istilah-istilah agama. Data diambil dari novel Gadis Kretek dan terjemahannya dalam bahasa Arab, Fatātu al-Sajāir. Data dikumpulkan dengan mengidentifikasi istilah-istilah agama dalam teks, mengkategorikannya sesuai kerangka yang ada, dan membandingkan terjemahan mereka. Analisis berfokus pada pola resistensi dan negosiasi dalam menerjemahkan istilah-istilah tersebut. Hasilnya mengungkapkan dua pola utama dalam terjemahan Gadis Kretek. Pertama, resistensi, di mana istilah-istilah agama dipertahankan dalam bentuk aslinya atau diterjemahkan secara harfiah untuk menjaga kesakralannya. Kedua adalah negosiasi, di mana penyesuaian dilakukan untuk memastikan istilah-istilah agama selaras dengan pemahaman audiens sasaran. Resistensi dipengaruhi oleh kesamaan sistem kepercayaan antara Islam Indonesia dan Arab, sedangkan negosiasi muncul karena perbedaan konteks budaya. Temuan ini berkontribusi pada pemahaman terjemahan agama dalam konteks Islam multilingual dan menawarkan strategi untuk praktik terjemahan yang peka budaya. Penelitian ini menyimpulkan bahwa terjemahan berfungsi sebagai jembatan budaya, menjaga makna inti sambil menyesuaikannya dengan konteks sasaran.

Penelitian ini menyimpulkan bahwa dalam terjemahan identitas agama dalam novel Gadis Kretek ke dalam bahasa Arab, muncul dua pola utama.Pola resistensi terlihat dalam kategori pemilik agama, istilah wahyu, tokoh agama, aktivitas agama, peringatan agama, dan makhluk supranatural, di mana istilah-istilah agama dipertahankan dalam bentuk aslinya atau diterjemahkan secara harfiah untuk menjaga kesakralan dan keaslian makna mereka.Faktor dasar untuk resistensi ini adalah kesamaan sistem kepercayaan antara budaya sumber (Islam Indonesia) dan budaya sasaran (Islam Arab), yang mendorong penerjemah untuk mempertahankan istilah-istilah yang diakui secara teologis.Sebaliknya, pola negosiasi terjadi dalam kategori pemilik agama, konstruksi agama, dan aktivitas agama, di mana beberapa istilah agama disesuaikan agar selaras dengan pemahaman budaya masyarakat Arab untuk memudahkan pemahaman.Faktor yang mendorong negosiasi ini adalah perbedaan konteks budaya antara masyarakat Indonesia dan Arab, yang memerlukan pergeseran makna untuk menyesuaikan praktik dan pemahaman agama dengan budaya Arab.Kedua pola ini menunjukkan bagaimana terjemahan berfungsi sebagai jembatan antara dua budaya, menjaga makna penting sambil menyesuaikannya dengan konteks baru.

Berdasarkan temuan dan analisis dalam penelitian ini, berikut adalah beberapa saran penelitian lanjutan yang dapat dilakukan:. . 1. Melakukan penelitian komparatif yang lebih luas tentang terjemahan identitas agama dalam karya sastra, dengan mempertimbangkan berbagai bahasa dan budaya. Hal ini akan membantu memahami dinamika resistensi dan negosiasi dalam konteks yang lebih beragam.. . 2. Menganalisis pengaruh konteks sosial dan politik pada terjemahan istilah-istilah agama, terutama dalam konteks media digital atau sosial yang semakin populer. Penelitian ini dapat mengeksplorasi bagaimana konteks tersebut mempengaruhi pilihan terjemahan dan negosiasi makna.. . 3. Memperluas cakupan penelitian dengan mencakup lebih banyak teks atau karya yang beragam, seperti dari berbagai genre, dan melibatkan bahasa dan budaya yang lebih luas. Hal ini akan memberikan pemahaman yang lebih komprehensif tentang terjemahan identitas agama dalam konteks yang lebih luas.. . 4. Mempelajari pengaruh tujuan penerjemah dan audiens sasaran yang lebih luas pada strategi resistensi dan negosiasi. Penelitian ini dapat membantu memahami bagaimana faktor-faktor tersebut mempengaruhi keputusan terjemahan dan negosiasi makna dalam konteks budaya yang berbeda.. . Dengan melakukan penelitian lanjutan ini, kita dapat memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang dinamika terjemahan identitas agama, terutama dalam konteks budaya yang beragam dan berkembang.

  1. The Translator's Invisibility | A History of Translation | Lawrence Ve. translator invisibility... doi.org/10.4324/9780203360064The Translators Invisibility A History of Translation Lawrence Ve translator invisibility doi 10 4324 9780203360064
  2. Islamic religious terms in English – translation vs. transliteration in Ezzeddin Ibrahim and Denys... doi.org/10.12807/ti.108201.2016.a08Islamic religious terms in English Ae translation vs transliteration in Ezzeddin Ibrahim and Denys doi 10 12807 ti 108201 2016 a08
  3. Selametan and Mubeng Asem: Acculturation between Islamic Teaching and Javanese Tradition in Pati, Central... journal.walisongo.ac.id/index.php/walisongo/article/view/18607Selametan and Mubeng Asem Acculturation between Islamic Teaching and Javanese Tradition in Pati Central journal walisongo ac index php walisongo article view 18607
Read online
File size710.19 KB
Pages17
DMCAReport

Related /

ads-block-test