RIVIERAPUBLISHINGRIVIERAPUBLISHING

Jurnal Impresi IndonesiaJurnal Impresi Indonesia

Gawai Dayak, sebuah festival panen Dayak, menjadi medium diplomasi budaya dan fasilitator akulturasi lintas batas Indonesia-Malaysia. Penelitian ini menganalisis peran Gawai Dayak dalam menjembatani komunitas lintas batas dan mempromosikan pemahaman bersama. Pendekatan kualitatif digunakan, termasuk tinjauan literatur studi sebelumnya dan analisis acara Gawai lintas batas. Perayaan Gawai Dayak menciptakan identitas dan kesatuan bersama di antara komunitas Dayak kedua negara, memfasilitasi diplomasi antar-rakyat. Festival ini mendorong pertukaran budaya, bahasa, dan nilai-nilai, yang terlihat dari partisipasi lintas batas dalam acara Gawai dan program budaya yang didukung pemerintah. Interaksi ini memperkuat ikatan sosial dan berkontribusi pada pariwisata dan kebaikan. Gawai Dayak melampaui akar ritualnya menjadi alat diplomasi budaya strategis, meningkatkan hubungan Indonesia-Malaysia di tingkat akar rumput sambil melestarikan warisan asli. Ini menunjukkan bagaimana budaya bersama dapat mengurangi ketegangan antar-bangsa dan membangun identitas bersama dalam konteks perbatasan.

Penelitian ini menunjukkan bahwa Gawai Dayak, festival panen Dayak yang dirayakan di Indonesia dan Malaysia, berfungsi sebagai alat diplomasi budaya dan akulturasi lintas batas yang efektif.Melalui pendekatan studi kasus kualitatif dan analisis tematik dari berbagai sumber, penelitian mengungkapkan bahwa Gawai memfasilitasi interaksi bermakna antara komunitas Indonesia dan Malaysia, sehingga memperkuat pemahaman dan kebaikan bersama di tingkat akar rumput.Kekuatan festival terletak pada kemampuannya untuk menonjolkan identitas bersama.ketika Dayak dan tetangga mereka berkumpul untuk Gawai, mereka diingatkan akan nilai-nilai, tradisi, dan kekerabatan yang melampaui batas politik antara kedua negara.Dengan demikian, Gawai menjadi penyeimbang ketegangan historis dan perpecahan diplomatik, menumbuhkan rasa persahabatan dan empati yang tidak dapat dicapai oleh perjanjian formal.Temuan mengonfirmasi bahwa koneksi antar-rakyat yang dibentuk selama Gawai menciptakan ikatan sosial yang bertahan lama yang tercermin sebagai persahabatan, jaringan, dan bahkan ikatan keluarga yang menghubungkan komunitas di seberang perbatasan.Aspek akulturatif Gawai - pertukaran dan peleburan praktik budaya - semakin menguatkan ikatan ini dengan mengurangi persepsi keberbedaan. Ketika Dayak Malaysia dan Indonesia bergabung dalam tarian masing-masing, mencicipi masakan tradisional masing-masing, atau berpartisipasi dalam ritual masing-masing, mereka menginternalisasi pesan kesatuan dalam keragaman.Seiring waktu, proses ini membangun kohesi sosial lintas batas yang dapat berfungsi sebagai penangkal terhadap konflik atau kesalahpahaman masa depan antara kedua negara.

Untuk penelitian lanjutan, disarankan untuk menyelidiki lebih lanjut bagaimana Gawai Dayak dapat digunakan sebagai platform untuk dialog antar-budaya dan pertukaran seni. Ini dapat mencakup forum diskusi antar-komunitas Indonesia dan Malaysia yang diadakan bersamaan dengan festival, di mana perwakilan komunitas dapat membahas masalah sosial bersama dalam lingkungan yang ramah. Selain itu, pertukaran seni yang terjadi selama Gawai dapat diformalisasikan menjadi proyek kolaboratif berkelanjutan. Inisiatif-inisiatif ini akan mendalam nilai diplomatik festival melampaui hari-hari perayaan. Selain itu, para akademisi dan pendidik dapat memanfaatkan kesempatan Gawai untuk menyelenggarakan lokakarya tentang sejarah dan budaya bagi pemuda kedua negara, dengan menekankan asal usul bersama dan mendorong empati. Dengan mendidik generasi muda melalui konteks perayaan, prasangka atau informasi yang salah dapat ditangani sejak dini, sehingga meletakkan fondasi kebaikan.

  1. Upacara Adat Gawai Dalam Membentuk Nilai-Nilai Solidaritas Pada Masyarakat Suku Dayak Kalimantan Barat... doi.org/10.25077/jantro.v22.n2.p151-159.2020Upacara Adat Gawai Dalam Membentuk Nilai Nilai Solidaritas Pada Masyarakat Suku Dayak Kalimantan Barat doi 10 25077 jantro v22 n2 p151 159 2020
  2. Gawai and Shemittah: The sacred relationship between human, land and God | Pakpahan | Verbum et Ecclesia.... doi.org/10.4102/ve.v46i1.3597Gawai and Shemittah The sacred relationship between human land and God Pakpahan Verbum et Ecclesia doi 10 4102 ve v46i1 3597
  3. Religion and Malay-Dayak Identity Rivalry in West Kalimantan | Yusriadi | el Harakah: Jurnal Budaya Islam.... ejournal.uin-malang.ac.id/index.php/infopub/article/view/11449Religion and Malay Dayak Identity Rivalry in West Kalimantan Yusriadi el Harakah Jurnal Budaya Islam ejournal uin malang ac index php infopub article view 11449
  4. MODEL OF GAWAI DAYAK BASED-SOCIAL CAPITAL IN THE BORDER OF SAJINGAN BESAR OF WEST KALIMANTAN | Herlan... jurnal.unpad.ac.id/sosiohumaniora/article/view/26042MODEL OF GAWAI DAYAK BASED SOCIAL CAPITAL IN THE BORDER OF SAJINGAN BESAR OF WEST KALIMANTAN Herlan jurnal unpad ac sosiohumaniora article view 26042
Read online
File size247.93 KB
Pages11
DMCAReport

Related /

ads-block-test