STAKATNPONTIANAKSTAKATNPONTIANAK

PROSIDING PENELITIAN DAN PENGABDIAN KEAGAMAANPROSIDING PENELITIAN DAN PENGABDIAN KEAGAMAAN

NKRI adalah negara pluralis, terdiri dari berbagai suku bangsa, bahasa, budaya, adat istiadat, agama dan berbagai keunikan lainnya di masing-masing daerah. Kenyataan ini memberi ciri ke Indonesiaan, yang membedakannya dengan negara lain di dunia ini. Namun kita tidak bisa menutup mata, bahwa perbedaan yang ada seringkali menjadi sumber perpecahan akan persaudaraan. Menyadari kondisi ini, gereja Katolik terpanggil untuk membangun persaudaraan dengan semua orang. Bahkan jauh sebelum Gerakan moderasi beragama di Indonesia mulai digaungkan, melalui Konsili Vatikan II (Nostra Aetate dan Gaudium et Spes) gereja Katolik telah menaruh perhatian yang serius bagi kondisi keragaman, dengan menunjukkan solusi melalui sejumlah ajaran dalam rangka membangun persaudaraan di tengah berbedaan yang ada.

Indonesia dikenal sebagai negara pluralis, yang sekaligus memberi ciri tersendiri yang membedakannya dengan negara lain di dunia ini.Namun harus disadari bahwa sebagai negara yang beragama, memiliki tantangan sendiri yakni perpecahan.Karena itu, gereja Katolik terpanggil untuk membangun persaudaraan dengan semua orang.Bahkan jauh sebelum gerakan moderasi beragama di Indonesia mulai digaungkan, gereja Katolik , melalui Konsili Vatikan II (NA 2 dan GS 91) telah menaruh perhatian yang serius bagi kondisi keragaman, memahami konsekuensi dari keragaman itu dan terutama menunjukkan solusi melalui sejumlah ajaran dalam rangka membangun persaudaraan di tengah berbedaan yang ada.Hal ini sejalan dengan penekanan mengenai moderasi beragama sebagaimana ditegaskan oleh Quraish Shihab ketika menafsirkan surat Al-Baqarah ayat 143.Quraish Shihab menyebutkan bahwa umat Islam dijadikan umat tengah-tengah, moderat dan teladan.Ulasan diatas melatarbelakangi adanya kerinduan untuk berkontribusi bagi terpeliharanya persatuan dan kesatuan di negeri tercinta ini, dengan sejumlah keragaman yang ada.Tanpa keharmonisan bangsa ini sulit membangun dirinya menuju Indonesia jaya.Maka mutlak diupayakan berbagai cara menciptakan keharmonisan, demi tegaknya persaudaraan sejati.Mengingat negeri tercinta ini kaya akan nilai adat dan budaya maka salah satu wujud konkrit adalah dengan mengkaji makna simbolis salah satu nilai budaya yang hidup dan berkembang di Toraja sampai saat ini yakni ukiran Toraja.Dalam ukiran Toraja terdapat banyak nilai hidup yang dapat menciptakan keharmonisan dalam hidup Bersama dari berbagai latar belakang perbedaan yang ada.

Untuk membangun moderasi beragama dan persaudaraan sejati di Indonesia, penelitian selanjutnya dapat fokus pada pemahaman dan penerapan nilai-nilai inklusivitas dalam masyarakat. Inklusivitas dapat memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa, serta mencegah konflik yang disebabkan oleh perbedaan agama. Selain itu, penelitian juga dapat mengeksplorasi lebih lanjut tentang bagaimana ukiran Toraja dapat menjadi sarana untuk mempromosikan nilai-nilai moderasi beragama dan persaudaraan sejati di kalangan masyarakat Toraja khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya. Dengan memahami dan menerapkan nilai-nilai inklusivitas serta mengkaji makna simbolis ukiran Toraja, kita dapat menciptakan keharmonisan dan memperkuat persaudaraan sejati di tengah keberagaman yang ada di Indonesia.

  1. PERSPEKTIF AGAMA-AGAMA DI INDONESIA TERHADAP PLURALISME AGAMA | Utoyo | Masalah-Masalah Hukum. perspektif... ejournal.undip.ac.id/index.php/mmh/article/view/11464PERSPEKTIF AGAMA AGAMA DI INDONESIA TERHADAP PLURALISME AGAMA Utoyo Masalah Masalah Hukum perspektif ejournal undip ac index php mmh article view 11464
  2. EKSKLUSIVISME, INKLUSIVISME, DAN PLURALISME: Membaca Pola Keberagamaan Umat Beriman | Al-Fikra : Jurnal... ejournal.uin-suska.ac.id/index.php/al-fikra/article/view/3848EKSKLUSIVISME INKLUSIVISME DAN PLURALISME Membaca Pola Keberagamaan Umat Beriman Al Fikra Jurnal ejournal uin suska ac index php al fikra article view 3848
Read online
File size568.78 KB
Pages14
DMCAReport

Related /

ads-block-test