IDEAJOURNALIDEAJOURNAL

Idea Pengabdian MasyarakatIdea Pengabdian Masyarakat

Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama, sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak yakni tinggi badan anak lebih rendah atau pendek (kerdil) dari standar usianya. Kondisi tubuh anak yang pendek seringkali dikatakan sebagai faktor keturunan (genetik) dari kedua orang tuanya, sehingga masyarakat banyak yang hanya menerima tanpa berbuat apa-apa untuk mencegahnya. Padahal seperti kita ketahui, genetika merupakan faktor determinan kesehatan yang paling kecil pengaruhnya bila dibandingkan dengan faktor perilaku, lingkungan (sosial, ekonomi, budaya, politik), dan pelayanan kesehatan. Dengan kata lain, stunting merupakan masalah yang sebenarnya bisa dicegah. Stunting menjadi masalah gagal tumbuh yang dialami oleh oleh bayi dibawah 5 tahun yang mengalami kurang gizi semenjak didalam kandungan hingga awal bayi lahir. Penilaian status gizi stunting dapat dilakukan melalui pengukuran antropometri TB/U diklasifikasikan melalui status klasifikasi gizi. Stunting adalah kondisi tinggi badan anak lebih pendek dibanding tinggi badan anak seusianya. Menurut UNICEF, stunting terjadi pada anak-anak usia 0 sampai 59 bulan dengan tinggi di bawah minus (stunting sedang dan berat) dan minus tiga (stunting kronis) diukur dari standar pertumbuhan anak keluaran WHO. Di Indonesia, kasus stunting masih menjadi masalah kesehatan dengan jumlah yang cukup banyak. Bedasarkan Riset Kesehatan Dasar tahun 2013, sekitar 37,2 persen anak Indonesia di bawah usia 5 tahun mengalami stunting.

Pengabdian masyarakat ini menunjukkan bahwa penyuluhan berkelanjutan diperlukan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat dan kader puskesmas mengenai pentingnya gizi dalam pencegahan stunting pada bayi dan anak.Kegiatan tersebut juga menekankan peran pola asuh orang tua serta pentingnya sanitasi lingkungan yang bersih untuk mencegah kontaminasi bakteri yang dapat memperparah stunting.Selain itu, penanggulangan stunting menjadi tanggung jawab bersama antara orang tua, pemerintah, dan seluruh pemangku kepentingan melalui program pemenuhan gizi.

Penelitian selanjutnya dapat mengevaluasi perbandingan efektivitas media penyuluhan, seperti video versus leaflet, dalam meningkatkan pengetahuan ibu hamil tentang pencegahan stunting di wilayah pedesaan Indonesia, sehingga dapat dipilih media yang paling tepat untuk program edukasi massal. Penelitian berikutnya dapat meneliti dampak jangka panjang dari program penyuluhan kesehatan komunitas yang dilakukan secara berkelanjutan selama dua tahun terhadap prevalensi stunting pada anak usia di bawah lima tahun di wilayah Makassar, untuk mengetahui apakah peningkatan pengetahuan beralih menjadi penurunan kasus stunting. Selanjutnya, studi dapat menyelidiki kontribusi keterlibatan ayah serta perbaikan sanitasi rumah tangga dalam mengurangi risiko stunting, dengan menggunakan pendekatan campuran kuantitatif dan kualitatif untuk memahami faktor sosial‑ekonomi yang memengaruhi keberhasilan intervensi. Penelitian-penelitian ini diharapkan dapat memberikan bukti empiris yang lebih kuat bagi pembuat kebijakan dalam merancang program gizi dan kesehatan yang holistik, melibatkan seluruh anggota keluarga dan memperhatikan kondisi lingkungan tempat tinggal. Dengan demikian, upaya pencegahan stunting dapat lebih terarah, berkelanjutan, dan melibatkan semua pemangku kepentingan.

Read online
File size1022.21 KB
Pages5
DMCAReport

Related /

ads-block-test