ISI SURAKARTAISI SURAKARTA

Keteg : Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang BunyiKeteg : Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi

Penelitian ini menginvestigasi fungsi-fungsi komunikatif musik pentatonik dalam praktik dagang jalanan Gula Gending di Nusa Tenggara Barat, Indonesia, memposisikannya sebagai tanda bunyi (soundmark) yang tertanam secara budaya dalam aktivitas ekonomi sehari-hari. Sementara literatur lanskap bunyi (soundscape) sebelumnya sebagian besar menyoroti pendengaran lingkungan, relatif sedikit perhatian diberikan pada cara sistem musik terstruktur berfungsi sebagai agen komunikatif aktif dalam konteks ekonomi informal. Dengan mengadopsi pendekatan etnografi etnomusikologis, penelitian ini mengintegrasikan observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi audio-visual untuk menguji persimpangan antara struktur musik, praktik pertunjukan, dan konteks sosial-budaya. Temuan menunjukkan bahwa musik Gula Gending beroperasi sebagai sistem komunikatif berlapis ganda: berfungsi sebagai penanda identitas pendengaran, mekanisme untuk menarik perhatian, media untuk mentransmisikan memori budaya, dan fasilitator interaksi sosial antara pedagang dan konsumen. Penerapan struktur pentatonik meningkatkan aksesibilitas perseptual, memungkinkan pengenalan dan respons cepat dalam lingkungan jalanan yang cair dan dinamis. Di luar dimensi fungsionalnya, musik ini mewujudkan makna simbolis yang menghubungkan pengalaman individu dengan identitas budaya kolektif yang lebih luas. Studi ini berkontribusi pada etnomusikologi dan studi bunyi dengan merekonseptualisasi gagasan tanda bunyi sebagai praktik semiotik dan ekonomi aktif daripada fenomena akustik pasif. Selanjutnya, penelitian ini menyoroti kapasitas bentuk musik tradisional untuk beroperasi sebagai strategi komunikatif adaptif dalam ekonomi informal kontemporer, menawarkan implikasi kritis untuk keberlanjutan budaya dan perumusan kebijakan.

Penelitian ini menunjukkan bahwa musik Gula Gending adalah praktik komunikatif terstruktur dalam kehidupan sosial-ekonomi masyarakat, berfungsi sebagai tanda bunyi pentatonik yang menandakan kehadiran pedagang, membentuk identitas budaya, dan memediasi interaksi sosial-ekonomi.Fungsi komunikatif musik Gula Gending sangat berlapis, meliputi penarik perhatian, penanda identitas, pemicu memori kolektif, dan fasilitator hubungan sosial, menunjukkan integrasi struktur musik, teknik pertunjukan, dan penggunaan kontekstual untuk mendukung ekonomi dan melestarikan budaya.Secara teoritis, studi ini memperluas konsep tanda bunyi menjadi sistem komunikasi aktif dan kontekstual yang membentuk pengalaman sosial dan interaksi ekonomi, serta secara praktis menyoroti pentingnya musik Gula Gending sebagai warisan budaya takbenda yang perlu diperkuat fungsi sosial dan ekonominya untuk keberlanjutan.

Penelitian selanjutnya dapat memperdalam pemahaman kita mengenai fungsi komunikatif bunyi dalam ekonomi informal. Sebuah studi komparatif lintas-regional akan sangat bermanfaat, misalnya dengan menyelidiki bagaimana musik pentatonik atau sistem bunyi berbasis instrumen serupa beradaptasi dan berkembang dalam praktik pedagang kaki lima tradisional di provinsi lain di Indonesia atau di negara-negara Asia Tenggara. Fokusnya bisa pada bagaimana konteks budaya, demografi, dan lingkungan perkotaan memengaruhi bentuk musik, teknik bermain, dan efektivitasnya sebagai penarik perhatian serta penanda identitas. Selain itu, diperlukan penelitian yang mengintegrasikan metode kuantitatif untuk mengukur secara lebih konkret dampak ekonomi dari penggunaan tanda bunyi musikal ini. Sebagai contoh, studi dapat menganalisis korelasi antara intensitas penggunaan musik Gula Gending (seperti durasi atau frekuensi pemutaran) dengan peningkatan volume penjualan atau daya tarik pelanggan. Pendekatan ini akan memberikan data empiris yang kuat mengenai nilai pragmatis musik tersebut. Penting juga untuk meneliti persepsi dan respons kognitif terhadap musik Gula Gending dari berbagai kelompok demografi, khususnya membandingkan pandangan generasi muda dengan generasi yang lebih tua. Ini akan membantu kita memahami bagaimana transmisi budaya dan nilai-nilai warisan takbenda ini berlangsung di tengah arus modernisasi, serta potensi tantangan dan peluang untuk pelestariannya di masa depan. Dengan demikian, penelitian mendatang dapat memberikan gambaran yang lebih komprehensif tentang peran musik dalam membentuk ekonomi, identitas, dan pengalaman sosial masyarakat.

  1. Project MUSE -- Verification required!. project muse verification required order better serve keep site... doi.org/10.1353/amu.2007.0022Project MUSE Verification required project muse verification required order better serve keep site doi 10 1353 amu 2007 0022
  2. Studi Estetika Seni Pertunjukan di Era Global | Cantata Deo: Jurnal Musik dan Seni. studi estetika seni... doi.org/10.69748/jmcd.v3i1.339Studi Estetika Seni Pertunjukan di Era Global Cantata Deo Jurnal Musik dan Seni studi estetika seni doi 10 69748 jmcd v3i1 339
  3. Ngringkes: Garap's Adaptation on Jemblungan Music | Proceedings of the International Music and Performing... eprosiding.upsi.edu.my/index.php/Pro-IMPAC/article/view/26Ngringkes Garaps Adaptation on Jemblungan Music Proceedings of the International Music and Performing eprosiding upsi edu my index php Pro IMPAC article view 26
  4. Challenge | Digital Library of the Faculty of Arts Masaryk University. challenge digital library faculty... doi.org/10.5817/MB2024-1-4Challenge Digital Library of the Faculty of Arts Masaryk University challenge digital library faculty doi 10 5817 MB2024 1 4
Read online
File size372.35 KB
Pages13
DMCAReport

Related /

ads-block-test