MAHESA INSTITUTEMAHESA INSTITUTE

Warisan: Journal of History and Cultural HeritageWarisan: Journal of History and Cultural Heritage

Masjid Tegalsari Grand merupakan warisan budaya yang dilindungi oleh Undang‑Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010; namun belum secara resmi ditetapkan oleh Pemerintah Kabupaten Ponorogo. Renovasi besar yang dilakukan pemerintah daerah pada 1978 secara signifikan mengubah bentuk asli masjid, merusak identitas arsitektur Javanese kuno. Penelitian ini menyelidiki latar belakang sejarah pelestarian Masjid Tegalsari, faktor motivasi pelestarian, dan hasil yang dicapai melalui proses tersebut. Metode penelitian historis mengikuti tahapan heuristik, verifikasi sumber, interpretasi, dan historiografi dengan memanfaatkan sumber primer dan sekunder. Kerangka konseptual pelestarian arsitektur digunakan sebagai dasar analisis. Temuan menunjukkan bahwa masjid didirikan pada 1742 oleh Kiai Ageng Muhammad Besari dan awalnya menampilkan ciri arsitektur masjid Javanese kuno. Pelestarian dimulai oleh Badan Pelestarian Cagar Budaya antara 1994‑1997, dengan tiga fase: ruang shalat utama, serambi dan pawestren, serta halaman dan struktur pendukung, yang akhirnya menegaskan kembali signifikansi historis dan arsitektural masjid.

Masjid Tegalsari menegaskan posisi sebagai masjid Javanese kuno yang memiliki nilai historis, arsitektural, dan budaya yang tak terpisahkan dari perkembangan Islam di Ponorogo.Pelestarian 1994‑1997 menunjukkan pentingnya memulihkan identitas arsitektural tradisional yang tergerus oleh renovasi sebelumnya.Pendekatan restorasi bertahap, berbasis data arkeologi, dokumentasi sejarah, dan kondisi fisik, berhasil menegaskan kembali karakter masjid sebagai ekspresi akulturasi Islam dan budaya lokal.

Untuk memperluas pemahaman tentang pelestarian arsitektur masjid Javanese, peneliti dapat melakukan studi perbandingan antara masjid-masjid serupa yang mengalami proses restorasi serupa, sehingga dapat diidentifikasi praktik terbaik dan hambatan umum. Selain itu, analisis partisipasi komunitas lokal dalam pelestarian masjid Tegalsari dapat memberikan wawasan tentang dampak keterlibatan masyarakat terhadap keberlanjutan fungsi sosial dan agama bangunan tersebut. Akhirnya, pengembangan model kebijakan formalisasi status warisan budaya masjid di tingkat pemerintah daerah dapat memperkuat perlindungan hukum dan mendorong penetapan status resmi, sehingga pelest992 ?.

  1. Masjid Agung Jamik Sumenep: Sejarah, Peran dan Pelestariannya sebagai Warisan Budaya | Sinektika: Jurnal... doi.org/10.23917/sinektika.v21i1.2878Masjid Agung Jamik Sumenep Sejarah Peran dan Pelestariannya sebagai Warisan Budaya Sinektika Jurnal doi 10 23917 sinektika v21i1 2878
  2. AKAR DAN BUAH TEGALSARI: DINAMIKA SANTRI DAN KETURUNAN KIAI PESANTREN TEGALSARI PONOROGO | Mozaic : Islam... journal.unusia.ac.id/index.php/mozaic/article/view/119AKAR DAN BUAH TEGALSARI DINAMIKA SANTRI DAN KETURUNAN KIAI PESANTREN TEGALSARI PONOROGO Mozaic Islam journal unusia ac index php mozaic article view 119
  3. MASJID TEGALSARI JETIS PONOROGO (MAKNA SIMBOLIK DAN POTENSINYA SEBAGAI SUMBER PEMBELAJARAN SEJARAH LOKAL)... e-journal.unipma.ac.id/index.php/gulawentah/article/view/1359MASJID TEGALSARI JETIS PONOROGO MAKNA SIMBOLIK DAN POTENSINYA SEBAGAI SUMBER PEMBELAJARAN SEJARAH LOKAL e journal unipma ac index php gulawentah article view 1359
  4. Kajian Pelestarian Masjid Lama Gang Bengkok di Kota Medan Berbasis Nilai Historis, Arsitektural dan Sosial... ojs.uma.ac.id/index.php/jaur/article/view/14767Kajian Pelestarian Masjid Lama Gang Bengkok di Kota Medan Berbasis Nilai Historis Arsitektural dan Sosial ojs uma ac index php jaur article view 14767
  5. KAJIAN POSKOLONIAL GERAKAN PEMIKIRAN DAN SIKAP ULAMA PESANTREN TEGALSARI DALAM PUSARAN KONFLIK MULTIDIMENSIONAL... doi.org/10.21580/teo.2018.29.1.2434KAJIAN POSKOLONIAL GERAKAN PEMIKIRAN DAN SIKAP ULAMA PESANTREN TEGALSARI DALAM PUSARAN KONFLIK MULTIDIMENSIONAL doi 10 21580 teo 2018 29 1 2434
Read online
File size385.18 KB
Pages11
DMCAReport

Related /

ads-block-test