UBUB

Journal of Psychiatry Psychology and Behavioral ResearchJournal of Psychiatry Psychology and Behavioral Research

Pendahuluan – COVID-19 telah menjadi stresor bagi populasi umum, termasuk komunitas religius. Mekanisme coping muncul dalam berbagai bentuk. Salah satu mekanisme pada komunitas Muslim Indonesia tampak tidak menguntungkan, yang ditandai dengan penolakan protokol COVID-19 dan penjelasan religius. Pada studi ini, reaksi tersebut dikaji berdasarkan teori psikodinamik. Metode – Peneliti meninjau 9 jurnal dan 3 buku yang membahas mekanisme pertahanan, komunitas Muslim Indonesia yang tidak mematuhi, serta rasionalisasi. Hasil – Perilaku komunitas Muslim dapat dibagi menjadi yang mematuhi aturan dan yang melanggar. Mayoritas komunitas cenderung menerapkan regulasi yang ada. Bentuk pelanggaran muncul dalam berbagai cara, seperti komunitas anti‑sains yang menganggap kepercayaan pada ilmu sebagai kemusyrikan (syirk) serta komunitas anti‑vaksin. Diskusi – Penggunaan penyangkalan dapat melindungi individu dari kesadaran perilaku mereka, namun tidak secara efektif menyembunyikannya dari orang lain. Rasionalisasi merupakan pertahanan yang paling lazim pada semua gangguan kepribadian yang diteliti (schizotypal, borderline, antisocial, dan narcissistic). Kesimpulan – Di antara Muslim Indonesia pada era pandemi, terdapat populasi yang menggunakan rasionalisasi untuk mengatasi masalah terkait protokol COVID-19. Mereka cenderung menormalkan perilaku dengan mengaitkannya pada topik religius, seperti mempercayakan pada iman daripada ilmu pengetahuan. Rasionalisasi merupakan bentuk disavowal dalam hierarki mekanisme pertahanan. Meskipun dapat memberikan manfaat fisiologis terkait perilaku melanggar aturan, dalam konteks pandemi hal ini tidak terbukti meningkatkan kesehatan biologis individu maupun lingkungan sosial.

Di antara warga Indonesia yang beragama Islam pada era pandemi, terdapat kelompok yang menggunakan rasionalisasi untuk mengatasi masalah terkait protokol COVID-19.Kelompok ini cenderung menormalkan perilaku tidak mematuhi dengan mengaitkannya pada tema religius, seperti kepercayaan kepada iman dibandingkan ilmu pengetahuan.Meskipun rasionalisasi dapat memberikan manfaat fisiologis terkait perilaku melanggar aturan, pada situasi pandemi hal tersebut tidak terbukti meningkatkan kesehatan biologis individu maupun lingkungan sosial.

Penelitian selanjutnya dapat menguji secara empiris seberapa luas penggunaan rasionalisasi di kalangan umat Islam Indonesia selama pandemi COVID-19 dengan menggunakan survei kuantitatif yang mengukur tingkat penerapan mekanisme pertahanan dan kepatuhan terhadap protokol kesehatan. Selanjutnya, diperlukan studi perbandingan antar komunitas agama di Indonesia—misalnya antara umat Islam, Kristen, Hindu, dan Buddha—untuk mengetahui perbedaan pola mekanisme pertahanan yang muncul dalam menanggapi krisis kesehatan, sehingga dapat mengidentifikasi faktor budaya atau teologis yang memengaruhi perilaku tersebut. Selain itu, sebuah intervensi edukatif yang menggabungkan ajaran agama dengan informasi ilmiah dapat diuji melalui percobaan terkontrol untuk menilai apakah pendekatan integratif mampu mengurangi rasionalisasi yang menolak protokol kesehatan dan meningkatkan tingkat kepatuhan. Penelitian-penelitian ini akan memperluas pemahaman tentang dinamika psikologis dalam konteks keagamaan sekaligus memberikan dasar kebijakan publik yang lebih efektif dalam menangani pandemi di masa mendatang. Hasil dari penelitian-penelitian tersebut diharapkan dapat memberikan bukti empiris bagi pembuat kebijakan serta pemuka agama dalam merancang strategi komunikasi yang harmonis antara nilai keagamaan dan rekomendasi ilmiah, sehingga meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat terhadap krisis kesehatan di masa depan.

  1. APA PsycNet. psycnet loading psycnet.apa.org/doi/10.1037/h0070692APA PsycNet psycnet loading psycnet apa doi 10 1037 h0070692
Read online
File size194.51 KB
Pages3
DMCAReport

Related /

ads-block-test