POLGANPOLGAN

Juripol (Jurnal Institusi Politeknik Ganesha Medan)Juripol (Jurnal Institusi Politeknik Ganesha Medan)

Perkembangan Artificial intelligence (AI) telah membuka kemungkinan baru dalam penyiapan dukungan emosional berbasis teknologi, termasuk sebagai alat konseling mandiri bagi orang-orang yang mengalami kesulitan dalam hubungan rumah tangga mereka. Studi ini bertujuan untuk meneliti peran AI sebagai asisten konseling mandiri pada ibu rumah tangga Generasi Z di Kota Medan dalam mengelola konflik rumah tangga yang dapat mengarah pada perceraian. Studi ini menggunakan desain kualitatif. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dengan 10 informan dan dianalisis menggunakan model Miles & Huberman, yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Uji keabsahan data dilakukan melalui tringulasi sumber, member checking dan peer debriefing. Hasil menunjukkan bahwa AI dapat menyediakan ruang emosional yang aman, refleksi diri, dan regulasi emosional ketika informan mengalami stres, kebingungan, atau kesulitan berkomunikasi dengan pasangan mereka. Informan menggunakan AI untuk menenangkan diri, mendapatkan perspektif alternatif, membangun hubungan baik, dan mempertimbangkan implikasi jangka panjang sebelum mengambil keputusan. Penggunaan AI sering membantu menunda kejadian menakutkan, mengurangi konflik, dan mencegah masalah semakin meluas.

Hasil penelitian terhadap 10 (sepuluh) ibu rumah tangga Generasi Z di Kota Medan menunjukkan bahwa Artificial Intelligence (AI) memainkan peran penting sebagai asisten konseling mandiri dalam mengelola konflik domestik tingkat ringan hingga menengah.(1) Ruang Aman Ekspresi Emosi (Safe Emotional Space).(2) Fasilitator Dialog Internal dan Regulasi Emosional.(3) Media Klarifikasi Masalah dan Edukasi Komunikasi Pasangan.dan (5) Pendamping Komunikasi dalam Relasi Pernikahan.Program ini membantu para informan dalam menekan amarah, mengubah perspektif kognitif, dan mempertimbangkan dampak jangka panjang dari keputusan terhadap stabilitas hubungan.Dengan demikian, AI tidak menggantikan konselor manusia, melainkan merupakan alat konseling mandiri yang komplementer pada tahap awal konflik domestik, sekaligus membantu memperkuat komunikasi dialogis dan ketahanan dalam hubungan di daerah perkotaan.Namun, keterbatasan tetap ada dalam sensitivitas AI, sensitivitas budaya, dan potensi salah tafsir nasihat, sehingga penggunaannya harus selalu dibingkai untuk dukungan pertimbangan awal, bukan sebagai pengganti layanan konseling profesional dalam kasus masalah yang serius atau kompleks.

Untuk penelitian lanjutan, dapat diusulkan pengembangan model dukungan sosial keluarga berbasis internet yang aman, fleksibel, dan tidak menimbulkan stigma bagi ibu rumah tangga di daerah perkotaan. Selain itu, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengeksplorasi peran AI sebagai agen konseling mandiri yang digunakan oleh ibu rumah tangga Generasi Z dalam konteks urban Indonesia, khususnya dalam pengelolaan konflik pernikahan yang dapat berujung pada perceraian. Penelitian ini juga dapat dikembangkan dengan fokus pada strategi manajemen konflik rumah tangga yang efektif dan cara-cara untuk meningkatkan komunikasi dalam relasi pernikahan dengan bantuan AI.

Read online
File size618.99 KB
Pages11
DMCAReport

Related /

ads-block-test