WASTUKANCANAWASTUKANCANA

Jurnal TeknologikaJurnal Teknologika

Beban kerja merupakan faktor penting yang memengaruhi kinerja dan kesejahteraan karyawan, terutama di lingkungan kerja dengan ritme cepat seperti restoran cepat saji. Keluhan dari karyawan serta perbedaan persepsi mengenai bagian kerja yang paling berat menunjukkan adanya potensi ketidakseimbangan beban kerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat beban kerja karyawan, mengidentifikasi dimensi NASA-TLX yang paling berpengaruh, dan menggali faktor-faktor yang menyebabkan tingginya beban kerja di Restoran Ayam Geprek Sambel Cenghar. Metode penelitian menggunakan NASA – TLX (Task Load Index), yang mengukur beban kerja berdasarkan enam dimensi: kebutuhan mental, kebutuhan fisik, kebutuhan waktu, performansi, usaha dan tingkat frustrasi. Data diperoleh dari 21 responden yang berasal dari empat bagian operasional, yaitu kasir, dapur, pramusaji dan pengulekan sambal (ulek). Hasil penelitian menunjukkan bahwa 48% karyawan berada pada kategori beban kerja sedang, 38% pada kategori tinggi, dan sisanya pada kategori rendah. Dimensi dengan skor tertinggi yang paling berkontribusi terhadap beban kerja keseluruhan adalah kebutuhan fisik dan usaha, masing-masing berkontribusi sebesar 18%. Berdasarkan tanggapan responden, ditemukan bahwa durasi kerja yang panjang (12 jam) menjadi faktor utama yang meningkatkan beban kerja. Dengan demikian, disarankan adanya evaluasi terhadap durasi kerja, termasuk penerapan sistem kerja bergilir (shift) untuk mengurangi kelelahan dan meningkatkan efisiensi operasional.

Hasil penelitian yang dilakukan terhadap 21 responden di Restoran Ayam Geprek Sambel Cenghar diketahui bahwa tingkat beban kerja karyawan tergolong sedang – tinggi dengan persentase 48%.Hal ini menunjukkan bahwa pekerjaan yang dijalankan memerlukan konsentrasi, tenaga, dan keterlibatan yang cukup besar, baik secara fisik maupun mental.Dalam pengukuran enam dimensi beban kerja, ditemukan bahwa dimensi kebutuhan fisik dan usaha merupakan dua faktor utama yang paling berkontribusi sebesar 18% terhadap beban kerja karyawan.Artinya, sebagian besar responden merasakan bahwa pekerjaan mereka menuntut aktivitas fisik yang tinggi serta memerlukan upaya yang besar dalam menyelesaikan tugas secara efisien.Temuan ini menunjukkan bahwa beban kerja yang cukup berat terutama bersumber dari aspek fisik dan intensitas usaha yang harus dikeluarkan selama bekerja.Kondisi ini perlu menjadi perhatian, terutama dalam penataan sistem kerja, jadwal istirahat, dan pembagian tugas, agar kelelahan dapat diminimalkan dan kinerja tetap optimal.

Untuk meningkatkan efisiensi operasional dan kesejahteraan karyawan, penelitian ini menyarankan beberapa langkah. Pertama, perlu dilakukan evaluasi terhadap durasi kerja yang panjang, termasuk penerapan sistem kerja bergilir (shift) untuk mengurangi kelelahan fisik dan mental karyawan. Kedua, penting untuk melakukan rotasi dan penyesuaian partner kerja agar tercipta lingkungan kerja yang lebih nyaman dan mendukung. Ketiga, peningkatan fasilitas dan kondisi kerja dapat membantu mengurangi beban kerja karyawan, terutama dalam hal kenyamanan dan keamanan. Keempat, pelatihan manajemen dan pendampingan dapat diberikan kepada karyawan untuk meningkatkan keterampilan dan kemampuan mereka dalam menangani beban kerja yang tinggi. Dengan demikian, diharapkan dapat tercipta keseimbangan beban kerja yang optimal dan meningkatkan kinerja karyawan secara keseluruhan.

  1. Vol 14 No 2 (2024): Jurnal Teknologika | Jurnal Teknologika. vol jurnal teknologika skip main content... doi.org/10.51132/teknologika.v14i2Vol 14 No 2 2024 Jurnal Teknologika Jurnal Teknologika vol jurnal teknologika skip main content doi 10 51132 teknologika v14i2
Read online
File size502.62 KB
Pages10
DMCAReport

Related /

ads-block-test