POLTEKKESKUPANGPOLTEKKESKUPANG

Journal of Tropical Diseases and Health ScienceJournal of Tropical Diseases and Health Science

Enterobiasis merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh Oxyuris vermicularis (Enterobius vermicularis) atau cacing kremi dan merupakan cacing usus golongan non STH (non-Soil Transmitted Helminth) yang dapat berpindah dari satu individu ke individu yang lain tanpa perlu transmisi melalui tanah dan tersebar luas pada anak dan balita. Di Indonesia, prevalensi Enterobiasis cukup tinggi, hal ini disebabkan Indonesia merupakan negara dengan iklim tropis, suhu, kelembaban udara yang tinggi, faktor ekonomi sosial dan sanitasi yang masih kurang baik, sehingga sesuai untuk perkembangan cacing kremi. Anak-anak dengan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) yang masih kurang, seperti jarang mengganti pakaian dalam, dan tidak mencuci tangan setelah dari toilet beresiko tertular cacing kremi. Anak-anak yang tinggal di sekitar pesisir pantai masih memiliki pengetahuan yang kurang akan pentingnya menjaga personal hygiene dan juga kurangnya pengetahuan tentang bahaya kecacingan serta pemeriksaan dan pengobatan kecacingan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif. Responden dalam penelitian ini meliputi 24 orang dengan jumlah responden perempuan sebesar 54% dan laki-laki sebesar 46%. Hasil pemeriksan Enterobius vermicularis pada anak-anak usia 3-9 tahun yang tinggal di wilayah pesisir pantai Lasiana diperoleh sebesar 21% anak positif enterobiasis dan 79% anak negatif Enterobiasis. Tingkat pengetahuan orang tua, kondisi sanitasi lingkungan, dan personal hygiene anak yang baik.

Kasus infeksi Enterobius vermicularis pada anak-anak usia 3-9 tahun yang tinggal di wilayah pesisir pantai Lasiana Kota Kupang memiliki prevalensi sebesar 21%.Meskipun tingkat pengetahuan orang tua, personal hygiene, dan sanitasi lingkungan di penelitian ini ditemukan dalam keadaan yang baik, anak-anak masih dapat terinfeksi Enterobiasis.Hal ini menunjukkan bahwa ada faktor lain yang juga berperan dalam penularan Enterobiasis di kalangan anak-anak, seperti interaksi sosial yang dekat antar anak-anak, kontak dengan objek yang terkontaminasi, serta kemungkinan adanya sumber infeksi lain yang belum teridentifikasi atau dikontrol dengan baik.Diperlukan upaya pencegahan seperti penyuluhan kesehatan, pemberian obat cacing secara berkala, dan peningkatan kebersihan lingkungan.

Penelitian lanjutan dapat fokus pada evaluasi efektivitas program edukasi kesehatan berbasis komunitas untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya infeksi cacing kremi. Selain itu, studi tentang dampak penggunaan bahan lantai keramik dibandingkan lantai semen dalam mengurangi risiko penularan Enterobiasis di wilayah pesisir juga relevan. Peneliti juga dapat mengeksplorasi hubungan antara kepadatan populasi dan pola interaksi sosial anak-anak dengan tingkat penularan Enterobiasis, terutama di area dengan lingkungan yang rentan terhadap kontaminasi. Dengan pendekatan ini, penelitian masa depan dapat memberikan wawasan lebih dalam tentang strategi pencegahan yang berkelanjutan.

Read online
File size367.93 KB
Pages6
DMCAReport

Related /

ads-block-test