MIFTAHUL ULUMMIFTAHUL ULUM

AL-AMIYAH: Jurnal Ilmiah MultidisiplinAL-AMIYAH: Jurnal Ilmiah Multidisiplin

Bencana alam di Indonesia tidak hanya menimbulkan kerusakan ekologi, melainkan juga dampak sosial dan spiritual yang mendalam bagi masyarakat multireligius. Di Aceh dan Sumatra, proses pemulihan pasca‑bencana menunjukkan bahwa rekonstruksi lingkungan tidak dapat dipisahkan dari dinamika keagamaan dan multikultural. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran dialog lintas iman dalam pemulihan ekologi pasca‑bencana dengan menggunakan kerangka ekoteologi multikultural. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif berbasis kajian konseptual‑literatur, dengan menganalisis karya akademik, dokumen teologis, serta praktik sosial‑keagamaan yang berkembang di Aceh dan Sumatra. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dialog lintas iman berfungsi sebagai praxis ekoteologi yang membentuk kesadaran ekologis kolektif, memperkuat solidaritas sosial, dan mengintegrasikan nilai‑nilai keagamaan dengan kearifan lokal dalam upaya pemulihan lingkungan. Praktik kolaboratif seperti reboisasi, pendidikan ekologi berbasis iman, dan ritual reflektif bersama menciptakan ruang spiritual bersama yang mendukung rekonstruksi sosial dan ekologi secara simultan. Studi ini berargumen bahwa pendekatan lintas iman dapat dipahami sebagai bentuk teologi ekologis praktis yang berkontribusi pada pembangunan perdamaian sosial‑ekologis di komunitas pascabencana, serta memberikan kontribusi teoretis dengan menawarkan model ekoteologi lintas iman multikultural yang relevan bagi pengembangan teologi kontekstual dan kebijakan restorasi ekologi dalam masyarakat pluralistik.

Penelitian ini menunjukkan bahwa interaksi antaragama pascabencana di Aceh dan Sumatra telah menciptakan kesadaran ekologis spiritual dan kolektif melalui praktik seperti reboisasi, doa bersama, dan kegiatan kemanusiaan.Kearifan lokal serta nilai‑nilai keagamaan, seperti prinsip adat basandi syarak dan gotong‑royong, berperan penting dalam membangun etika ekologis Nusantara.Integrasi tersebut menghasilkan ekoteologi multikultural yang inklusif, partisipatif, dan berakar pada nilai kebersamaan lokal.

Penelitian lanjutan dapat melakukan studi empiris yang mengukur dampak konkret dialog lintas iman terhadap indikator pemulihan ekologi di komunitas pascabencana, misalnya melalui survei lapangan dan analisis data longitudinal untuk mengevaluasi keberlanjutan praktik kolaboratif. Selanjutnya, diperlukan penelitian komparatif yang membandingkan efektivitas pendekatan ekoteologi lintas iman di berbagai wilayah Indonesia dengan konteks budaya dan agama yang berbeda, guna mengidentifikasi faktor‑faktor kunci yang memperkuat atau menghambat proses rekonstruksi sosial‑ekologis. Terakhir, kajian kebijakan yang meneliti peran institusi pemerintah dan organisasi non‑profit dalam memfasilitasi dialog lintas iman dapat mengungkap mekanisme dukungan struktural serta rekomendasi strategis untuk mengintegrasikan nilai‑nilai ekoteologis ke dalam program pemulihan bencana nasional, sehingga model ekoteologi multikultural dapat diimplementasikan secara lebih luas dan efektif.

  1. The Green Islam Movement in Indonesia: Actors, Strategies, and Networks | Studia Islamika. green islam... doi.org/10.36712/sdi.v32i2.46441The Green Islam Movement in Indonesia Actors Strategies and Networks Studia Islamika green islam doi 10 36712 sdi v32i2 46441
  2. CONNECTING GLOBAL AND LOCAL INDONESIAN RELIGIOUS ENVIRONMENTAL MOVEMENTS | Smith | Jurnal Kawistara.... doi.org/10.22146/kawistara.25908CONNECTING GLOBAL AND LOCAL INDONESIAN RELIGIOUS ENVIRONMENTAL MOVEMENTS Smith Jurnal Kawistara doi 10 22146 kawistara 25908
  3. Dialog Agama dan Ekologi | Jurnal Peradaban. dialog agama ekologi jurnal peradaban authors budhy munawar... doi.org/10.51353/jpb.v4i1.1092Dialog Agama dan Ekologi Jurnal Peradaban dialog agama ekologi jurnal peradaban authors budhy munawar doi 10 51353 jpb v4i1 1092
Read online
File size303.1 KB
Pages10
DMCAReport

Related /

ads-block-test