UNWAHAUNWAHA

MARGIN ECOMARGIN ECO

Media sosial telah dengan cepat mengubah praktik pemasaran di bidang seni, warisan budaya, dan industri kreatif. Media sosial telah bergeser dari saluran promosi sekunder menjadi infrastruktur strategis yang membentuk branding, keterlibatan audiens, visibilitas, dan penciptaan nilai dalam lingkungan yang dimediasi platform. Namun, penelitian yang ada masih terfragmentasi di berbagai sektor budaya, platform digital, dan tradisi disiplin ilmu. Studi ini secara sistematis meninjau penelitian kontemporer tentang media sosial dan pemasaran budaya menggunakan kerangka kerja PRISMA. Data dikumpulkan dari basis data Scopus melalui pencarian Boolean terstruktur. Dari 291 catatan awal, 94 artikel jurnal berbahasa Inggris yang diterbitkan antara tahun 2020 dan 2026 dipilih untuk analisis akhir setelah menerapkan kriteria kelayakan yang terkait dengan tahun publikasi, bahasa, jenis dokumen, jenis sumber, tahap publikasi, bidang subjek, dan relevansi tematik. Sintesis tematik mengidentifikasi empat temuan utama. Pertama, media sosial telah mengkonfigurasi ulang branding budaya dari promosi satu arah menjadi komunikasi adaptif platform berdasarkan identitas visual, penceritaan, dan visibilitas strategis. Kedua, keterlibatan audiens semakin dipahami sebagai proses multidimensional yang melibatkan partisipasi, kreasi bersama, koneksi emosional, dan nilai relasional. Ketiga, platformisasi membentuk kembali kemampuan penemuan dan legitimasi melalui visibilitas algoritmik, metrik platform, dan konvensi format konten. Keempat, teknologi baru, termasuk kecerdasan buatan, analitik, media imersif, dan influencer virtual, memperluas peluang inovasi sekaligus menimbulkan kekhawatiran etis dan manajerial terkait dengan otentisitas, transparansi, dan kemampuan kelembagaan.

Penelitian ini menunjukkan bahwa media sosial telah bertransformasi menjadi lingkungan platformisasi yang mengintegrasikan branding, keterlibatan, visibilitas, dan teknologi dalam praktik pemasaran budaya.adaptasi branding terhadap format platform, pergeseran keterlibatan menjadi partisipasi dan ko‑kreasi, ketergantungan visibilitas pada algoritma platform, serta munculnya teknologi baru yang menambah peluang sekaligus tantangan etis.Keberhasilan dalam pemasaran budaya memerlukan strategi yang menyeimbangkan visibilitas dengan integritas budaya, pengukuran keterlibatan yang bermakna, dan penerapan bertanggung jawab atas teknologi.

Penelitian lanjutan dapat memfokuskan pada dampak jangka panjang platformisasi terhadap strategi branding budaya, dengan menggunakan metodologi longitudinal yang mengamati perubahan peran algoritma dan perilaku audiens dari tahun ke tahun. Selanjutnya, perlu dilakukan studi komparatif antara sektor museum, situs warisan, dan industri kreatif untuk mengidentifikasi perbedaan praktik dan efektivitas strategi menyesuaikan platform di konteks budaya berbeda. Terakhir, riset terapan harus menilai model monetisasi digital yang memanfaatkan AI dan analitik di sektor seni, termasuk bagaimana platform dapat meningkatkan nilai ekonomi sambil memelihara keaslian dan kepercayaan publik. Ketiga arah penelitian tersebut akan memperkuat pemahaman teoritis dan praktis tentang pemasaran budaya yang beroperasi dalam ekosistem platform digital.

Read online
File size245.49 KB
Pages45
DMCAReport

Related /

ads-block-test