UNSUNS

PRIMA: Journal of Community Empowering and ServicesPRIMA: Journal of Community Empowering and Services

Ketergantungan pada pupuk kimia dan keterbatasan lahan pekarangan mendorong pencarian model budidaya pangan yang efisien. Sistem akuaponik padi–lele ditawarkan sebagai jawaban atas keterbatasan lahan pekarangan, variabilitas iklim, dan ketergantungan pada pupuk kimia. Kegiatan ini bertujuan mengimplementasikan pola pertanian cerdas berbasis akuaponik untuk menjaga ketahanan pangan keluarga, meningkatkan efisiensi pemanfaatan air, serta menekan penggunaan input kimia. Program dilaksanakan pada bulan Mei–September 2025 di Bengkel Mimpi (Kepanjen, Malang) melalui sosialisasi, pelatihan, implementasi instalasi, dan pendampingan. Sistem menggunakan pipa PVC (jarak tanam 25×25 cm) dengan netpot bersumbu kain di atas kolam terpal berisi 5.000 benih lele; dua formulasi media diuji, yakni sekam:pupuk kandang (1:1) dan arang sekam:bubuk organik (1:3). Varietas padi IR64 dipanen pada 80–90 hari setelah tanam dengan 10–12 anakan per rumpun dan 150–200 bulir per malai. Satu unit instalasi (2×12 m) menghasilkan ±30 kg gabah kering panen (≈20 kg beras organik); tujuh unit menghasilkan ±210 kg per siklus dan berpotensi 840 kg/tahun (empat siklus). Pada kompartemen ikan, kelangsungan hidup 85–90% dari tebar awal 5.000 ekor menghasilkan panen ±500 kg lele/siklus sehingga keuntungan bersih sekitar Rp4,3 juta/siklus. Media dengan proporsi organik lebih tinggi cenderung meningkatkan jumlah anakan dan kebernasan gabah. Penerapan sistem akuaponik sebagai implementasi terintegrasi untuk ketahanan pangan rumah tangga dan diversifikasi pendapatan dengan kinerja terukur sebagai adopsi luas di lingkungan lahan terbatas.

Penerapan akuaponik yaitu sistem budidaya ikan lele dengan padi di Bengkel Mimpi menunjukkan hasil yang baik ditandai dengan menghasilkan 30 kg gabah per unit dan budidaya lele dengan SR 85-90% menghasilkan 500kg/siklus.3) menunjukkan hasil yang baik dengan proporsi organik lebih tinggi cenderung meningkatkan anakan dan kebernasan gabah sehingga sistem ini layak direplikasi pada lahan terbatas sebagai strategi ketahanan pangan rumah tangga.

Penelitian selanjutnya dapat mengeksplorasi (1) bagaimana variasi spesies ikan, seperti penggunaan ikan nila atau gurami, mempengaruhi keseimbangan nutrisi dan produktivitas padi dalam sistem akuaponik, sehingga dapat menentukan kombinasi ikan‑tanaman yang optimal untuk meningkatkan hasil panen sekaligus mengurangi fluktuasi kualitas air; (2) melakukan studi jangka panjang yang memantau parameter kualitas air, dinamika populasi mikroba, serta dampak penggunaan media organik tinggi terhadap kesehatan ekosistem, untuk menilai keberlanjutan dan mitigasi risiko penurunan performa sistem selama beberapa siklus tanam; dan (3) menilai kelayakan ekonomi dan adaptasi sosial‑budaya penerapan model akuaponik ini di berbagai kondisi iklim dan lahan terbatas di wilayah Indonesia, dengan membandingkan biaya investasi, profitabilitas, dan penerimaan petani serta masyarakat setempat. Hasil dari ketiga arah penelitian tersebut diharapkan dapat memperluas wawasan tentang optimalisasi media, manajemen air, dan skala penerapan, sehingga memberikan dasar ilmiah yang kuat untuk mempercepat adopsi akuaponik sebagai strategi ketahanan pangan rumah tangga.

Read online
File size413.94 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test