HUSADA KARYAJAYAHUSADA KARYAJAYA

JURNAL AKADEMI KEPERAWATAN HUSADA KARYA JAYAJURNAL AKADEMI KEPERAWATAN HUSADA KARYA JAYA

Latar Belakang: Fraktur atau patah tulang yang biasanya terjadi akibat adanya tekanan yang berlebihan dibandingkan kemampuan tulang dalam menahan tekanan. Akibatnya tulang tidak mampu menahan tekanan berlebihan menyebabkan fungsi dan struktur tulang menjadi rusak. Masih banyak yang belum mengerti tentang penanganan pertama pada fraktur sehingga dapat menyebabkan perdarahan dan terjadinya kerusakan susunan jaringan tulang lebih parah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan mahasiswa tentang penanganan pertama fraktur. Tujuan: Menganalisis hubungan pendidikan kesehatan tentang penanganan pertama fraktur terhadap tingkat pengetahuan mahasiswa tingkat 1 Akper Husada Karya Jaya.

Terdapat hubungan pendkes terhadap tingkat pengetahuan mahasiswa tingkat 1 mengenai penanganan pertama kegawatdaruratan fraktur di Akper Husada Karya Jaya.

Penelitian selanjutnya dapat menyelidiki apakah pendidikan kesehatan tentang penanganan pertama fraktur yang diberikan secara daring (online) menghasilkan peningkatan pengetahuan yang setara atau lebih tinggi dibandingkan dengan pendidikan tatap muka tradisional pada mahasiswa keperawatan di beberapa institusi. Selain itu, penting untuk mengevaluasi keberlanjutan pengetahuan tersebut dengan melakukan survei kembali setidaknya tiga bulan setelah intervensi, sehingga dapat diketahui apakah efek edukasi tetap bertahan dalam jangka waktu yang lebih lama. Penelitian juga dapat memperluas populasi dengan melibatkan mahasiswa program kesehatan lain, seperti kedokteran, farmasi, dan kebidanan, untuk membandingkan perbedaan tingkat pengetahuan dan keterampilan penanganan pertama fraktur antar disiplin ilmu. Sebuah studi eksperimental yang membandingkan dua metode pembelajaran, yaitu simulasi berbasis kasus klinis versus ceramah konvensional, dapat memberikan wawasan tentang metode mana yang lebih efektif dalam meningkatkan tidak hanya pengetahuan tetapi juga kemampuan praktis dalam melakukan pembidaian fraktur. Selain aspek pengetahuan, penelitian lanjutan dapat meneliti pengaruh edukasi ini terhadap sikap dan persepsi mahasiswa terhadap pentingnya penanganan pertama fraktur, misalnya dengan menggunakan skala sikap yang tervalidasi. Mengingat keterbatasan sampel yang hanya berasal dari satu akademi, sebuah penelitian multi‑pusat dengan sampel yang lebih besar akan meningkatkan generalisasi temuan dan memungkinkan analisis faktor‑faktor demografis yang memengaruhi hasil edukasi. Akhirnya, studi kualitatif yang melibatkan wawancara mendalam dengan mahasiswa dapat mengidentifikasi hambatan dan kebutuhan khusus dalam proses belajar penanganan pertama fraktur, yang dapat dijadikan dasar perancangan modul edukasi yang lebih responsif.

Read online
File size238.28 KB
Pages5
DMCAReport

Related /

ads-block-test