IDEBAHASAIDEBAHASA

IdeBahasaIdeBahasa

Penelitian ini menyelidiki konsep sosial dan budaya dengan menangkap pidato Emma Watson dalam kampanye kesetaraan gender untuk mengidentifikasi jenis-jenis prinsip aturan semiotik yang dapat diterapkan dalam kondisi formal, serta fungsinya dalam pidato tersebut, dengan menggunakan teori van Leeuwen (2004) tentang aturan semiotik yang terdiri dari lima subkategori. Metode kualitatif deskriptif digunakan untuk menganalisis data yang dikumpulkan secara acak, kemudian dianalisis berdasarkan lima teori tersebut, dan kesimpulan ditarik berdasarkan temuan dan diskusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa empat dari lima aturan digunakan oleh pembicara, sedangkan satu aturan tidak digunakan karena asumsi pribadinya dan tekanan sebagai duta. Hasil ini juga menunjukkan bahwa sifat pidato tersebut lebih merupakan kampanye promosi daripada awal dari gerakan besar untuk menyelesaikan masalah ketidaksetaraan di masyarakat.

Emma Watson menggunakan empat dari lima aturan semiotik dalam pidatonya.otoritas pribadi, otoritas impersonal, konformitas, dan panutan, tetapi tidak menggunakan otoritas keahlian.Pidato ini efektif secara retoris namun memiliki kelemahan, termasuk kredibilitas terbatas sebagai aktris tanpa pengalaman langsung dalam diskriminasi gender dan ketiadaan argumen kontra yang memperkuat posisinya.Secara keseluruhan, pidato ini berfungsi lebih sebagai kampanye promosi daripada sebagai seruan perubahan mendasar, karena gagal mengatasi kompleksitas gender, mengabaikan ketidaksetaraan yang dialami laki-laki, dan tidak menjawab kritik terhadap gerakan feminisme secara komprehensif.

Penelitian lanjutan dapat mengkaji bagaimana pesan HeForShe diterima oleh laki-laki di berbagai konteks budaya, khususnya di masyarakat patriarkal yang masih menganggap kesetaraan gender sebagai ancaman terhadap identitas maskulinitas. Selanjutnya, perlu diteliti dampak jangka panjang dari kampanye yang dipimpin oleh selebritas terhadap perubahan sikap masyarakat, apakah hanya bersifat sementara karena daya tarik personanya atau benar-benar memicu perubahan norma sosial. Terakhir, dikembangkan studi perbandingan antara pidato Emma Watson dengan kampanye kesetaraan gender yang dipimpin oleh aktivis lokal yang memiliki pengalaman langsung sebagai korban diskriminasi, guna memahami perbedaan efektivitas persuasi antara代言 (representasi simbolik) dan pengalaman hidup nyata dalam membangun legitimasi gerakan sosial.

  1. #kesetaraan gender#kesetaraan gender
  2. #metode kualitatif deskriptif#metode kualitatif deskriptif
Read online
File size744.21 KB
Pages12
Short Linkhttps://juris.id/p-1aW
Lookup LinksGoogle ScholarGoogle Scholar, Semantic ScholarSemantic Scholar, CORE.ac.ukCORE.ac.uk, WorldcatWorldcat, ZenodoZenodo, Research GateResearch Gate, Academia.eduAcademia.edu, OpenAlexOpenAlex, Hollis HarvardHollis Harvard
DMCAReport

Related /

ads-block-test