ITB ADITB AD

Jurnal Teknologi Informasi (JUTECH)Jurnal Teknologi Informasi (JUTECH)

Gula darah atau yang dikenal secara medis sebagai glukosa, merupakan jenis monosakarida yang berfungsi sebagai metabolit utama dalam menghasilkan energi bagi tubuh. Kadar gula darah dalam tubuh diatur oleh hormon insulin. Kelebihan gula darah akan disimpan di otot dan hati, apabila dibutuhkan. Kadar glukosa normal dalam darah manusia berkisar antara 70–130 mg/dL dan dapat meningkat setelah mengonsumsi makanan tinggi karbohidrat. Glukosa di bawah 70 mg/dL disebut hipoglikemia, sedangkan di atas 200 mg/dL disebut hiperglikemia. Kadar gula darah yang tinggi secara terus-menerus dapat memicu diabetes. Menurut Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat prevalensi diabetes mellitus (DM) sebesar 1,7% secara nasional, dan 11,7% pada usia 15 tahun ke atas. Dari 14.935 kasus DM terdeteksi, 50,2% merupakan diabetes tipe 2. Prevalensi tertinggi terdapat pada lansia usia 65–74 tahun (52,5%), 55–64 tahun (51,8%), dan ≥75 tahun (50,8%), menandakan diabetes tipe 2 sebagai masalah kesehatan utama pada lansia di Indonesia. Hal ini menunjukkan perlunya meningkatkan kesadaran tentang pemeriksaan rutin kadar gula darah. Penderita diabetes seringkali hanya memeriksa kadar gula darah sebulan sekali atau tidak sama sekali, sehingga sulit mendeteksi perubahan kesehatan. Diabetes dapat menyerang siapa saja, terutama individu berusia 20 hingga 40 tahun. Risiko diabetes pada usia tersebut dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti kegemukan, rendahnya aktivitas fisik, pola hidup tidak sehat,serta riwayat keluarga dan diabetes gestasional. Penyakit diabetes adalah penyakit yang disebabkan oleh tingginya kadar gula darah atau glukosa dalam tubuh, yang terjadi akibat ketidakmampuan pankreas untuk memproduksi hormon insulin dalam jumlah yang memadai. Pola makan masyarakat yang tidak sehat seperti mengkonsumsi makanan tinggi kalori, tinggi lemak dan kolesterol terutama pada makanan siap saji (fast food) juga dapat berdampak meningkatkan risiko diabetes. Kondisi tersebut menegaskan pentingnya inovasi teknologi di bidang kesehatan untuk mempermudah deteksi dini dan pemantauan kadar gula darah secara efektif.

Sistem monitoring kadar gula darah non-invasif berbasis IoT ini dirancang untuk memantau kadar gula secara real-time menggunakan sensor photodioda dan LED merah sebagai sumber cahaya.Mikrokontroler NodeMCU ESP8266 digunakan untuk mengolah data dan mengirim hasil pengukuran ke aplikasi Telegram serta ditampilkan pada layar OLED.Dari 20 kali pengujian, alat menunjukkan akurasi cukup baik dengan total %Error sebesar 5,28%.Namun, alat sering menampilkan hasil yang sama berulang kali dan notifikasi jari tidak terdeteksi akibat sensitivitas sensor terhadap cahaya luar.

Untuk penelitian lanjutan, disarankan untuk mengevaluasi sensitivitas sensor photodioda terhadap cahaya LED dan mempertimbangkan penggunaan sensor lain yang lebih akurat guna meningkatkan keandalan alat. Selain itu, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengembangkan sistem ini agar dapat digunakan secara luas oleh penderita diabetes, dengan mempertimbangkan faktor-faktor seperti usia, jenis kelamin, dan kondisi kesehatan individu. Penelitian juga dapat dilakukan untuk mengoptimalkan algoritma pengolahan data dan meningkatkan akurasi sistem, serta mengeksplorasi potensi penggunaan teknologi lain seperti AI untuk meningkatkan kinerja sistem.

Read online
File size1.31 MB
Pages14
DMCAReport

Related /

ads-block-test