SMARTPUBLISHERSMARTPUBLISHER

Journal of Management Economics and Financial AccountingJournal of Management Economics and Financial Accounting

Penelitian ini menggunakan Analisis Fenomenologis Interpretatif (IPA) untuk menyelidiki pengalaman hidup dan makna subjektif fleksibilitas kerja bagi pemberdayaan karir perempuan di hotel bintang tiga hingga lima di Semarang. Delapan karyawan perempuan dari berbagai departemen hotel partisipan wawancara mendalam semi terstruktur. Analisis menghasilkan empat tema utama: (1) makna fleksibilitas kerja dalam konteks hotel, (2) strategi negosiasi keseimbangan kerja‑keluarga, (3) pemberdayaan psikologis melalui fleksibilitas, dan (4) hambatan karir perempuan. Temuan menunjukkan bahwa dalam industri jasa 24 jam, fleksibilitas kerja terutama dipahami sebagai kontrol atas jadwal shift, bukan fleksibilitas lokasi. Akses ke fleksibilitas jadwal meningkatkan semua empat dimensi pemberdayaan psikologis: makna, kompetensi, otonomi diri, dan dampak. Otonomi diri menjadi dimensi yang paling terpengaruh, di mana kemampuan mengatur jadwal kerja meningkatkan persepsi kemandirian dan kontrol hidup. Dukungan supervisor sebagai penjaga batas dan solidaritas perempuan berperan kunci dalam negosiasi keseimbangan kerja‑keluarga. Namun, teras kaca dan stereotip gender tetap berlangsung. Penelitian ini mengintegrasikan teori batas kerja‑keluarga dan teori pemberdayaan psikologis secara teoretis, serta memberikan implikasi praktis bagi pengembangan kebijakan Sumber Daya Manusia yang sensitif gender dalam industri hotel.

Penelitian ini menemukan bahwa di industri hotel 24 jam, fleksibilitas kerja difahami terutama sebagai kontrol atas jadwal shift, dan akses ke fleksibilitas tersebut meningkatkan empat dimensi pemberdayaan psikologis, terutama otonomi diri.Dukungan supervisor dan solidaritas perempuan memainkan peran penting dalam memfasilitasi keseimbangan kerja‑keluarga, namun teras kaca dan stereotip gender masih menghambat kemajuan karir perempuan.Karena fleksibilitas kerja saja tidak cukup mengatasi ketidaksetaraan struktural, dibutuhkan kebijakan Sumber Daya Manusia yang lebih holistik, termasuk pelatihan supervisor, jaringan dukungan resmi, serta program mentoring yang transparan.

Pertama, apa peran pelatihan supervisor sebagai penjaga batas dapat meningkatkan efektivitas kebijakan fleksibilitas dan mempercepat pemberdayaan perempuan di sektor hotel? Kedua, bagaimana mekanisme solidaritas informal antara rekan perempuan dapat diubah menjadi jaringan resmi yang terstruktur dengan dukungan manajemen, dan apa dampaknya terhadap kepuasan kerja serta pertumbuhan karir? Ketiga, bagaimana interaksi antara kebijakan fleksibilitas jadwal dan program mentoring formal dapat meminimalkan efek teras kaca, dan seberapa efektif kombinasi ini dalam membuka jalur promosi bagi perempuan di level menengah hingga tinggi?.

  1. Interpretative phenomenological analysis as a useful methodology for research on the lived experience... journals.sagepub.com/doi/10.1177/2049463714541642Interpretative phenomenological analysis as a useful methodology for research on the lived experience journals sagepub doi 10 1177 2049463714541642
  2. Women’s career development within the hospitality industry: A systematic literature review - Sorcha... doi.org/10.1177/14673584251349187WomenAos career development within the hospitality industry A systematic literature review Sorcha doi 10 1177 14673584251349187
  3. Too many barriers to overcome? Career challenges of women in the UK hospitality industry - Kokkranikal... doi.org/10.1002/jtr.2726Too many barriers to overcome Career challenges of women in the UK hospitality industry Kokkranikal doi 10 1002 jtr 2726
Read online
File size420.75 KB
Pages14
DMCAReport

Related /

ads-block-test