IAINSORONGIAINSORONG

Tasamuh: Jurnal Studi IslamTasamuh: Jurnal Studi Islam

Pondok pesantren adalah lembaga pendidikan islam yang berperan penting dan berkontribusi penuh dalam membentuk insan yang mulia dan kompeten dalam segala aspek. Tentu perkembangan zaman serta kemajuan teknologi berdampak sangat besar dalam sederet aspek kehidupan, termasuk tuntutan tentang penyelenggaraan pendidikan. Kemajuan teknologi membawa tantangan tersendiri pada dunia pendidikan islam khususnya. Tentunya sebuah persaingan pada kemampuan SDM dalam soft skill maupun hard skill yang semakin luas. Perubahan mutu pendidikan dapat dimulai dengan berinovasi pada seluruh aspek lain kepemimpinan Kepemimpinan dikonseptualisasikan sebagai fenomena tingkat kelompok yang timbul dari kelompok. Dengan mempertimbangkan hubungan di luar kelompok seperti jejaring sosial, budaya, dan lingkungan sekitar. Namun, aspek lain dari lingkungan organisasi seperti ketidakpastian jalannya roda organisasi hingga krisis yang terjadi dapat mempengaruhi pembentukan kepemimpinan (Morela Hernandez et al, 2011). Hubungan anggota antara di dalam lembaga, antara lain kepemimpinan Kepemimpinan merupakan proses mempengaruhi perilaku seseorang atau sekelompok orang untuk mencapai tujuan pada situasi tertentu (Siti Fatimah, 2015). Setiap organisasi apapun jenisnya pasti memiliki seorang pemimpin yang harus menjalankan kepemimpinan dan manajemen bagi keseluruhan organisasi sebagai kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Karena kepemimpinan bersama sering didorong oleh perilaku kepemimpinan pemimpin yang ditunjuk secara formal, memiliki pengetahuan yang sangat terampil lebih cenderung mengambil alih peran dan tanggung jawab kepemimpinan (Louis Denis, 2012). Kepemimpinan merupakan aspek dinamis dari pemimpin, yaitu mengacu pada tindakan-tindakan atau perilaku yang ditampilkan dalam melakukan serangkaian pengelolaan, dan pengarahan untuk mencapai tujuan (Rahman Affandi, 2013). Hingga saat ini kepemimpinan (leadership) masih menjadi pembahasan yang dianggap sangat menarik untuk terus dijadikan penelitian, terlebih lagi jika kepemimpinan dalam suatu Lembaga Pendidikan, karena ia merupakan salah satu faktor penting dan menentukan keberhasilan atau gagalnya suatu organisasi dalam mencapai tujuannya (Masrur, 2017). Transformatif menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia merupakan bersifat berubah-ubah bentuk, rupa, macam, dan keadaan. Makna transformatif berarti memiliki perubahan dan tidak hanya terjadi di permukaan, tetapi di tingkat yang paling dasar dan memiliki sebuah prinsip yang sangat kuat. Transformatif memaknai beberapa sifat yakni mampu mengubah sesuatu yang ada menjadi bentuk lain, sebagaimana pengubahan suatu energi yang potensial menjadi energi aktual yang berprestasi serta menjadi prestasi riil (Fatih, 2019). Teori kepemimpinan transformatif berbeda dari teori kepemimpinan lainnya karena pendekatan normatif dan kritisnya yang didasarkan pada nilai-nilai kesetaraan, inklusi, keunggulan, dan keadilan sosial. Teori ini mengkritik praktik kepemimpinan yang tidak adil, adanya penindasan, dan pembatasan ruang gerak di mana pun mereka ditemukan dan menawarkan program tidak hanya pencapaian individu yang lebih besar tetapi juga dampak bagi kehidupan bersama yang lebih baik (Carolyn, 2020). Teori kepemimpinan transformatif terdiri dari dua prinsip dasar. Prinsip dasar pertama yakni kemampuan kepemimpinan individu, cenderung menciptakan lingkungan inklusif, hormat, dan adil (Capper, 2014). Prinsip dasar yang kedua adalah kepemimpinan yang berbasis demokrasi, sosial, dan memiliki prinsip kerjasama yakni berpartisipasi aktif dan memiliki pengetahuan luas dan peduli terhadap lingkungan sekitar (Carolyn & Kristina, 2019). Prinsip dasar kepemimpinan transformatif bahwa setiap orang dapat menjadi pemimpin yang memiliki karakter kreatif sehingga dapat mempengaruhi orang lain dan membawa perubahan pada lingkungan sekitarnya (Montuori & Donnely, 2018). Sangat membutuhkan seorang pemimpin yang loyal dan mempunyai banyak visi, ide dan strategi untuk mengembangkan Lembaga Pendidikan. Satuan Pendidikan Islam harus memiliki sosok pimpinan berjiwa pemimpin transformatif yang mampu memberikan semangat dan edukasi untuk mengajak seluruh elemen dalam satuan Pendidikan Islam agar dapat merealisasikan cita-cita serta nilai-nilai moral sehingga menjadi role mode bagi orang lain. Hal ini diharapkan agar satuan Pendidikan Islam dapat membangun suatu perubahan sesuai dengan nilai-nilai yang telah ditetapkan dalam pemberdayaan dari seluruh elemen melalui terbentuknya komunikasi yang terarah menuju keberhasilan bagi satuan Pendidikan Islam. Salah satu faktor dominan yang sangat menentukan keberhasilan pendidikan adalah kesuksesan dalam proses pembelajaran, sebab di dalam proses pembelajaran itulah terjadinya proses internalisasi nilai-nilai dan pewarisan budaya maupun norma-norma secara langsung (Fatih, 2018). Satuan Pendidikan Islam salah satunya adalah pesantren salaf yang dipimpin langsung oleh seorang Kiai. Figur kiai dalam pesantren salaf adalah sebagai penentu dan penjaga eksistensi pesantren salaf, kiai merupakan sosok yang kharismatik, yang menjadi panutan santri, pengurus, dan masyarakat. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Imre Lakatos yang menyatakan bahwa program keilmuan yang dianggap tradisional akan tetap eksis selama masih ada sosok yang melindungi. Dalam konteks pesantren salaf, pesantren salaf akan tetap bertahan karena keberadaan figur Kiai (Rustam, 2014). Kemudian belakangan ini semakin banyak Pondok pesantren yang berinovasi untuk memberikan pelayanan terbaik bagi santri dan semua yang terlibat di dalamnya. Bahkan istilah Pondok Pesantren terbagi lagi menjadi dua yaitu pondok pesantren tradisional atau salaf dan pondok pesantren modern (Qomar, 2005). Pondok pesantren salaf atau sering juga disebut dengan pondok pesantren tradisional cenderung mempertahankan dan menjaga kemurnian unsur – unsur dasar dalam pesantren, baik dalam sistem pengajian, budaya pesantren dan metode pembelajaran yang digunakan. Sedangkan pondok pesantren modern yang cenderung selalu berinovasi dalam segala fasilitas maupun sistem yang berlaku (Sabdah & Sastramayani, 2020). Perbedaan tersebut mempunyai nilai positif bagi perkembangan Islam di negara ini, yaitu keduanya merupakan lembaga pendidikan yang mendidik para santri melalui pengetahuan agama yang diajarkan oleh seorang kiai yang terkadang dibantu oleh ustadz (Qomar, 2005). Hal tersebut kemudian didukung dengan peran kiai sebagai tokoh sentral dari perkembangan sebuah pondok pesantren. Peran Kiai didalam pondok pesantren dapat menempatkan diri dalam dua karakter, yaitu sebagai model dan sebagai terapis. Sebagai model, Kiai merupakan panutan dalam setiap tingkah-laku dan tindak-tanduknya. Sebagai terapis, Kiai memiliki pengaruh terhadap kepribadian dan tingkah laku sosial santri. Semakin intensif seorang Kiai terlibat dengan santrinya semakin besar pengaruh yang dapat diberikan. Kiai juga bisa menjadi agen kekuatan dalam mengubah perilaku dari yang tidak diinginkan menjadi perilaku tertentu yang diinginkan (Ahmad, 2019). Sebagaimana yang terjadi pada salah satu pondok pesantren salaf yang berkembang pesat di Kabupaten Probolinggo adalah Pondok Pesantren Nurul Qadim. Pondok pesantren yang di pimpin oleh KH. Hafidzul Hakim Noer menerapkan Pendidikan pesantren berbasis salaf tanpa adanya Pendidikan formal sejak didirikannya pada tahun 1947 lalu. Pondok pesantren Nurul Qadim merupakan pondok pesantren yang mengkhususkan kajian pembelajaran pada kitab kuning. Pondok pesantren Nurul Qadim adalah salah satu pondok pesantren yang masih mengadopsi sistem salaf dalam proses pembelajaran. Bahkan pendiri pertama pondok pesantren Nurul Qadim berwasiat kepada anak cucunya agar tidak pernah mengganti pendidikan pesantrennya dengan selain sistem salaf. Deskripsi tersebut menunjukkan posisional kepemimpinan kiai dalam dunia Pendidikan pondok pesantren sangat urgen sebagai satu pilar atau penyangga terhadap kemajuan institusi Pendidikan pondok pesantren. Lazim apabila ada yang menilai kunci sukses institusi Pendidikan terletak pada aspek kepemimpinan yang memobilisir sumberdaya organisasi untuk mencapai tujuan Pendidikan itu sendiri.

Hal ini dapat dibuktikan dengan 4 (empat) dimensi yaitu perilaku idealisme, motivasi inspirasi, intelektual simulasi, dan perhatian yang diindividualisasi.kharisma, keteladanan, keyakinan yang teguh, dan mampu menularkannya pada bawahan sebagai uswah dalam organisasi Pendidikan, dan perilaku ideal berupa.visi yang jelas dan konkrit, etos kerja tinggi, konsisten, komitmen, dan mampu menumbuhkan kesadaran bawahan terhadap peran dan fungsinya dalam mencapai tujuan organisasi.Pemimpin yang ideal tentu memiliki tugas pokok dan fungsi sebagai lembaga dalam mengelola, mengonsolidasikan manajemen strategis dan mengembangkan pengayom lembaga, kepemimpinan, kebijakan, kelembagaan, menentukkan jalannya lembaga, memberikan saran dan masukan dalam keberlangsungan dan perkembangan lembaganya.Motivasi yang Memberi Inspirasi dimaknai sebagai perilaku pemimpin yang melakukan transformasi atau perubahan melalui hal yang inspiratif, motivasi, dan mendesain sedemikian rupa agar bawahan seolah-olah berkeinginan sama, bercita memajukan organisasi pendidikan pada hal yang tak terbayangkan sebelumnya.Sebagaimana kiai di pondok pesantren Nurul Qadim memotivasi santrinya dengan adagium “Mun tak kellar keng tak terro (jika tidak kuat berarti kurang kuat kemauannya), bertujuan agar mereka senantiasa sabar dan semangat dalam menjalani segala aktivitas yang ada di pondok pesantren serta memiliki motivasi yang kuat untuk menjadi seperti kiai nya, dengan begitu kesadaran hati dan keikhlasan hati dalam melaksanakan segala hal yang diwajibkan maupun yang di sunahkan di pesantren dapat dilakukan dengan suka cita dan tanpa merasa terbebani.Simulasi intelektual berupa perilaku pemimpin secara kooperatif dalam bekerjasama untuk menumbuhkan kesadaran diri masing-masing dalam mewujudkan kesuksekan visi program dalam implementasinya.Serta dapat memberikan dampak pada kesadaran bersama dalam upaya mencapai tujuan suatu lembaga pendidikan, dengan harapan agar segala proses pendidikan dapat lebih baik, dan dapat memecahkan masalah dan mencari solusi secara bersama.Dan juga, kiai yang memiliki faktor kepemimpinan seperti ini, dapat di pastikan bahwa kiai tersebut memiliki indikator inovatif, mengembangkan ide baru, menjadi pemimpin yang melibatkan bawahan, dan kreatif.Pertimbangan Individual dimaknai sebagai perilaku pemimpin transformatif dalam merefleksi diri dalam keberlangsungan dan keberlanjutan organisasi pendidikan yang dipimpinnya.Sehingga dalam praktiknya kiai mengupayakan untuk mengidentifikasi kebutuhan para pengurus dan santri, mengenali kapasitas para pengurus dan santri, pendelegasian wewenang kepada pengurus dan ustaz ustazahnya, memberikan respons berupa reward dan punishtman atas kinerja para pengurus dan ustaz ustazah, memberikan pembinaan, bimbingan, dan pelatihan kepada para pengurus serta ustaz ustazah agar mencapai tujuan organisasi pendidikan.Sedangkan faktor penghambatnya yaitu kurangnya kesadaran pengurus dan santri yang masih belum semuanya mengerti akan visi yang ingin dicapai Lembaga, kurang disiplinnya para wali santri atas peraturan pesantren yang telah ditetapkan dan disepakati, kurangnya fasilitas sarana dan prasarana yang tidak sebanding dengan jumlah santri, serta kurangnya santri yang bersungguh-sungguh dan tertib dalam melaksanakan kegiatan ekstrakulikuler.Para santri harus menyadari tugas dan kewajibannya dalam belajar agar proses pembelajaran dapat berjalan dengan lancar dan sesuai dengan target program pembelajaran serta dapat mencapai prestasi belajar yang baik.Mengingat bahwa penelitian ini belum sepenuhnya tuntas maka perlu dilakukan penelitian lanjutan.

Berdasarkan latar belakang, metode, hasil, keterbatasan, dan juga bagian saran penelitian lanjutan, berikut adalah saran penelitian lanjutan yang baru:. . 1. Bagaimana peran kiai dalam mengembangkan inovasi pendidikan di pondok pesantren salaf, khususnya dalam hal pembelajaran dan pengajaran? Penelitian ini dapat fokus pada strategi dan metode yang digunakan kiai untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan bagaimana inovasi tersebut berdampak pada prestasi belajar santri.. . 2. Bagaimana kiai dapat meningkatkan keterlibatan dan motivasi santri dalam kegiatan ekstrakulikuler? Penelitian ini dapat menyelidiki strategi dan pendekatan yang digunakan kiai untuk mendorong santri agar lebih aktif dan bersemangat dalam kegiatan ekstrakulikuler, serta bagaimana hal ini dapat meningkatkan pengembangan karakter dan keterampilan santri.. . 3. Bagaimana kiai dapat meningkatkan koordinasi dan komunikasi antara pengurus, ustaz, dan ustazah dalam pondok pesantren salaf? Penelitian ini dapat mengeksplorasi strategi dan praktik yang digunakan kiai untuk meningkatkan kerja sama dan sinergi di antara para pengurus dan pendidik, serta bagaimana hal ini dapat meningkatkan efektivitas dan keberhasilan pendidikan di pondok pesantren.. . Dengan melakukan penelitian lanjutan ini, diharapkan dapat memberikan wawasan lebih dalam tentang peran kiai dalam mengembangkan dan meningkatkan kualitas pendidikan di pondok pesantren salaf, serta memberikan rekomendasi praktis bagi pondok pesantren untuk meningkatkan kinerja dan keberhasilannya dalam mencapai tujuan pendidikan.

Read online
File size229.88 KB
Pages21
DMCAReport

Related /

ads-block-test