UAJMUAJM

JManagERJManagER

Sektor pariwisata dirangsang sebagai sumber devisa nasional, penyedia lapangan kerja, dan sarana distribusi pendapatan nasional yang merata. Sebagai destinasi wisata, Kabupaten Gowa telah mengelola potensi wisata yang ada, seperti keindahan alam, budaya khas, dan nilai-nilai yang dipegang masyarakat Gowa–Makassar. Pemanfaatan potensi budaya akan dimaksimalkan jika melibatkan semua pemangku kepentingan, seperti pemerintah, masyarakat adat, lembaga pendidikan, dan seniman. Salah satu pemangku kepentingan tersebut adalah pemilik usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), yang dapat menjadi pelaku sekaligus penerima manfaat dari pariwisata. UMKM memiliki peran strategis dalam pengembangan yang memanfaatkan potensi pariwisata. Untuk mengoptimalkan peran strategis ini, pemilik UMKM pariwisata di Gowa perlu memiliki literasi keuangan yang memadai agar mampu mengelola keuangan dan memanfaatkan sumber daya dengan memperhatikan aspek keberlanjutan, baik dari sisi usaha maupun lingkungan. Tahap pertama penelitian ini adalah mengidentifikasi tingkat literasi keuangan dari 30 UMKM pariwisata di Kabupaten Gowa. Metode yang digunakan adalah wawancara terstruktur dengan 30 pemilik/manajer UMKM pariwisata. Penelitian ini menemukan bahwa tingkat literasi keuangan pemilik UMKM pariwisata masih rendah. Hal ini terlihat dari kurangnya dokumen pendukung untuk transaksi keuangan standar dan jawaban responden mengenai indikator pengukuran literasi keuangan yang masih berada pada tingkat ketidaktahuan atau ketiadaan. Saran bagi pembuat kebijakan adalah perlunya upaya meningkatkan literasi keuangan pemilik UMKM pariwisata di Kabupaten Gowa secara khusus dan Indonesia secara umum melalui pelatihan berkelanjutan bagi pemilik UMKM yang ada.

Mayoritas pengelola UMKM pariwisata di Kabupaten Gowa adalah perempuan dengan latar belakang pendidikan lulusan SMA, berusia antara 20 hingga 40 tahun, serta memiliki masa kerja 5 hingga 10 tahun.Dari empat dimensi literasi laporan keuangan yang digunakan, dimensi pencatatan adalah yang paling dipahami oleh pemilik UMKM, meskipun tetap pada level menengah.Dimensi perencanaan, pelaporan, dan pengendalian masih sangat rendah dan cenderung tidak dipahami.

Pertama, perlu dilakukan penelitian tentang efektivitas pelatihan literasi keuangan berbasis komunitas yang dikembangkan oleh perguruan tinggi bekerja sama dengan pemerintah daerah, untuk melihat apakah model pelatihan kolaboratif mampu meningkatkan pemahaman jangka panjang dibanding pelatihan sekali waktu. Kedua, perlu dikaji bagaimana penerapan sistem pencatatan keuangan digital sederhana berbasis aplikasi lokal dapat memengaruhi literasi keuangan dan kinerja usaha UMKM pariwisata, terutama bagi pelaku usaha yang minim pengalaman akuntansi formal. Ketiga, penting untuk meneliti hubungan antara literasi keuangan dengan keberlanjutan usaha dalam konteks pariwisata berkelanjutan, dengan fokus pada bagaimana pemahaman keuangan membantu pelaku UMKM mengintegrasikan aspek lingkungan dan sosial ke dalam pengelolaan keuangan mereka. Penelitian-penelitian ini dapat dilakukan secara bertahap melalui pendekatan kuantitatif dan kualitatif, serta melibatkan sampel yang lebih luas dari berbagai wilayah di Gowa. Hasilnya dapat digunakan untuk merancang kebijakan yang lebih tepat sasaran. Pendekatan yang holistik akan membantu memahami faktor-faktor penghambat dan pendukung peningkatan literasi keuangan. Selain itu, penelitian lanjutan dapat mengeksplorasi peran perempuan sebagai pelaku utama dalam pengelolaan keuangan UMKM pariwisata. Dengan demikian, intervensi yang dirancang bisa lebih inklusif dan berkelanjutan. Fokus pada aspek teknologi, keberlanjutan, dan kolaborasi institusional dapat membuka wawasan baru dalam penguatan kapasitas UMKM di sektor pariwisata.

Read online
File size414.24 KB
Pages12
DMCAReport

Related /

ads-block-test