IFRELIFREL

Philosophy Global: International Journal of Christian and Catholic PhilosophyPhilosophy Global: International Journal of Christian and Catholic Philosophy

Sistem Presbyterian-Synodal pemerintahan gereja didasarkan pada fondasi teologis ideal dari Christocracy, pengakuan bahwa Kristus adalah Kepala tunggal Gereja yang memerintah secara langsung melalui Firman dan Roh-Nya. Secara teoritis, model ini menolak hierarki, menegaskan kesetaraan semua pejabat gerejawi (pendeta, penatua, diaken) sebagai pelayan, dan memandang gereja lokal sebagai gereja yang lengkap (ecclesia completa). Namun, dalam praktik historis dan kontemporer, ketegangan mendasar ada di mana sistem ini secara konsisten menyimpang ke praktik hierarkis dan keakraban. Penyimpangan ini termanifestasi sebagai hierarki jabatan (keakraban) dan hierarki perakitan (Synod-centrism), di mana otoritas bergeser dari Kristus ke tokoh-tokoh resmi dan struktur Sinodal yang dipandang sebagai pengadilan tertinggi. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis penyebab mendasar dari pergeseran otoritas ini. Menggunakan metode penelitian perpustakaan kualitatif, penulis melakukan analisis teologis sistematis, historis-kritis, dan komparatif dari karya-karya Reformator (terutama Calvin), dokumen ketertiban gereja historis, dan studi kasus kontemporer (seperti di Malawi dan GMIM).

Analisis dari fondasi teologis, warisan historis, dan praktik kontemporer tata pemerintahan gereja Presbyterian-Synodal menyimpulkan bahwa ada ketegangan, bahkan kontradiksi, antara ideal teologis yang diakui dan realitas strukturalnya yang berfungsi.Secara teoritis, sistem ini didasarkan pada prinsip murni Christocracy, sebagaimana diuraikan oleh John Calvin dan ditegaskan oleh para teolog Reformed.Fondasi ini menegaskan bahwa Kristus adalah Kepala tunggal Gereja yang memerintah secara langsung melalui otoritas Firman-Nya dan Roh Kudus-Nya.Dalam model ideal ini, semua pejabat gereja (pendeta, penatua, diaken) memiliki posisi yang setara, berfungsi sebagai pelayan atau alat yang sama rendahnya, dan perakitan yang lebih luas (Sinode) secara teoritis tidak lebih tinggi dari perakitan jemaat lokal.Namun, penelitian ini menemukan bahwa dalam praktik historis dan kontemporer, model ideal ini secara konsisten menyimpang ke sistem hierarkis dan keakraban.(1) Hierarki Jabatan, di mana, sebagaimana terlihat dalam konteks GMIM dan Malawi, muncul persepsi bahwa pendeta lebih tinggi dari penatua, dan penatua lebih berwenang daripada diaken.(2) Hierarki Perakitan (Synod-Centrism), di mana dokumen konstitusi gereja secara eksplisit mendefinisikan Sinode sebagai pengadilan tertinggi, model dari atas ke bawah yang menggeser otoritas dari gereja lokal ke struktur Sinode.Penulis menyimpulkan bahwa penyebab pergeseran otoritas dari Kristus ke pejabat dan struktur adalah dua kali lipat.Pertama, ada kekurangan teologis dalam banyak dokumen ketertiban gereja, sebagaimana diidentifikasi oleh Zeze (2012) dalam kasus Sinode Nkhoma.Dokumen-dokumen ini sering gagal menegaskan bahwa Kristus memerintah melalui Firman-Nya dan Roh Kudus-Nya, dan malah hanya menyatakan bahwa Dia memerintah melalui perantaraan pejabat.Formulasi yang salah ini secara efektif membuka pintu untuk menyamakan otoritas pejabat dengan otoritas Kristus.Kedua, warisan historis Presbyterianisme Skotlandia, sebagaimana dianalisis oleh Spurlock (2020), secara historis dan sengaja dirancang untuk menjadi tersentralisasi.

Berdasarkan analisis mendalam terhadap akar penyebab penyimpangan dalam sistem Presbyterian-Synodal, beberapa saran penelitian lanjutan dapat diajukan. Pertama, perlu dilakukan studi komparatif mendalam mengenai bagaimana interpretasi dan penerapan doktrin Christocracy bervariasi di berbagai denominasi dan konteks budaya yang menggunakan sistem Presbyterian-Synodal. Hal ini dapat mengungkap faktor-faktor kontekstual yang berkontribusi pada munculnya praktik hierarkis, serta strategi yang efektif untuk mempromosikan tata pemerintahan yang lebih egaliter. Kedua, penelitian kualitatif yang berfokus pada pengalaman kongregasi lokal dalam sistem Presbyterian-Synodal dapat memberikan wawasan berharga tentang dampak praktis dari struktur hierarkis terhadap kehidupan spiritual dan pengambilan keputusan. Studi ini dapat mengeksplorasi bagaimana persepsi otoritas, partisipasi anggota, dan akuntabilitas dapat ditingkatkan melalui reformasi tata kelola. Ketiga, penelitian historis yang lebih rinci mengenai evolusi doktrin dan praktik Presbyterian-Synodal di berbagai negara dapat membantu mengidentifikasi pola-pola penyimpangan dan faktor-faktor yang berkontribusi pada keberhasilan atau kegagalan upaya reformasi. Dengan menggabungkan wawasan dari studi-studi ini, para peneliti dapat mengembangkan model tata kelola gereja yang lebih efektif dan sesuai dengan prinsip-prinsip Christocracy, yang pada akhirnya memperkuat kehidupan spiritual dan kesatuan gereja.

  1. 0. pdf obj metadata endobj extgstate xobject procset text imageb imagec imagei annots mediabox contents... pharosjot.com/uploads/7/1/6/3/7163688/article_40_vol_102_2021_nwu.pdf0 pdf obj metadata endobj extgstate xobject procset text imageb imagec imagei annots mediabox contents pharosjot uploads 7 1 6 3 7163688 article 40 vol 102 2021 nwu pdf
Read online
File size292.14 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test