BALELITERASIBALELITERASI

Journal of Educational StudiesJournal of Educational Studies

Penelitian ini menyelidiki hubungan antara identitas budaya dan kesadaran ekologis dalam konteks pariwisata global, dengan menggunakan studi kasus di Bhutan, Selandia Baru, dan Indonesia. Melalui analisis tematik menggunakan perangkat lunak NVivo 12, muncul lima tema kunci: partisipasi masyarakat, kepemimpinan adat, kerangka pemerintahan, praktik pariwisata yang etis, dan pengalaman perjalanan transformasional. Temuan menunjukkan bahwa partisipasi aktif masyarakat sangat fundamental bagi pariwisata berkelanjutan, karena keterlibatan lokal membantu melestarikan warisan budaya dan integritas ekologis. Sistem pengetahuan adat, khususnya di kalangan Māori di Selandia Baru dan komunitas ecovillage di Indonesia, membentuk pengalaman wisata yang otentik dan mempromosikan pengelolaan lingkungan. Penerapan filosofi Kebahagiaan Nasional Bruto Bhutan menunjukkan bagaimana pemerintahan yang selaras secara budaya dapat mendukung pariwisata berdampak rendah yang menguntungkan baik tuan rumah maupun pengunjung. Selain itu, integrasi standar etika seperti yang ditetapkan oleh Dewan Pariwisata Berkelanjutan Global (GSTC) dikaitkan dengan pengurangan komodifikasi budaya dan praktik yang bertanggung jawab secara lingkungan. Wisatawan yang berpartisipasi dalam pengalaman budaya yang meresap dan berbasis alam melaporkan kesadaran lingkungan yang meningkat dan empati lintas budaya, menunjukkan bahwa pariwisata dapat berfungsi sebagai katalis untuk kewarganegaraan global dan transformasi pribadi. Meskipun memiliki kekuatan ini, penelitian juga menyoroti tantangan berkelanjutan termasuk pariwisata berlebihan, perubahan iklim, dan distribusi manfaat yang tidak merata. Temuan ini menyerukan pergeseran dari mempertahankan ke meregenerasi sumber daya budaya dan alam, dengan menekankan pembuatan kebijakan partisipatif, pendidikan etika, dan pemerintahan inklusif. Akhirnya, penelitian ini menegaskan bahwa integrasi yang cermat antara budaya dan alam dapat mendefinisikan pariwisata sebagai praktik global yang transformasional, etis, dan berkelanjutan.

Penelitian ini menyoroti hubungan yang mendalam antara identitas budaya dan kesadaran ekologis dalam konteks pariwisata global.Analisis studi kasus di Bhutan, Selandia Baru, dan Indonesia mengungkapkan beberapa tema berulang yang menggambarkan model sukses integrasi budaya dan alam dalam pariwisata.Pertama, partisipasi masyarakat muncul sebagai batu penjuru keberlanjutan.Di semua kasus, masyarakat lokal bukan hanya penerima manfaat tetapi juga agen aktif dalam pengembangan pariwisata.Keterlibatan mereka memastikan bahwa narasi budaya tetap otentik dan pengelolaan ekologi berakar lokal.Misalnya, gerakan ecovillage di Indonesia menunjukkan bagaimana pengetahuan ekologi adat dapat memandu model pariwisata yang secara ekonomi layak dan bertanggung jawab secara lingkungan.Kedua, peran kerangka kebijakan dan filsafat nasional terbukti berpengaruh.Kebijakan pariwisata Bhutan, yang dibentuk oleh kerangka Kebahagiaan Nasional Bruto, memprioritaskan integritas budaya dan lingkungan alih-alih pariwisata massal.Model ini menunjukkan bagaimana pemerintahan yang selaras dengan nilai-nilai budaya dapat menghasilkan pariwisata berkualitas tinggi, berdampak rendah yang menguntungkan baik tuan rumah maupun pengunjung.Ketiga, perspektif adat sangat mempengaruhi pengalaman wisatawan, terutama di Selandia Baru di mana usaha pariwisata yang dipimpin Māori menekankan imersi budaya melalui cerita, ritual, dan pendidikan berbasis lahan.Praktik-praktik ini membantu melawan komodifikasi budaya dan menyediakan interaksi yang lebih hormat dan bermakna antara pengunjung dan budaya tuan rumah.Selain itu, penelitian menemukan bahwa kesadaran etika di antara wisatawan dan operator pariwisata memainkan peran penting dalam mengurangi dampak negatif seperti pengambilan budaya dan degradasi lingkungan.Adopsi pedoman pariwisata etis, seperti yang ditetapkan oleh Dewan Pariwisata Berkelanjutan Global (GSTC), terkait positif dengan hasil berkelanjutan.Akhirnya, temuan menunjukkan bahwa sinergi antara budaya dan alam meningkatkan potensi transformasional pariwisata.Wisatawan yang terlibat dalam pengalaman yang menggabungkan pendidikan budaya dengan eksplorasi alam melaporkan kesadaran lingkungan yang meningkat, pemahaman lintas budaya yang lebih dalam, dan rasa kewarganegaraan global yang lebih kuat.Secara kolektif, temuan ini memperkuat argumen bahwa pendekatan pariwisata yang holistik, etis, dan partisipatif dapat berfungsi sebagai alat yang kuat untuk pelestarian budaya dan keberlanjutan ekologis.

Berdasarkan temuan penelitian, berikut adalah saran penelitian lanjutan: Pertama, perlu ada fokus pada pengembangan model pariwisata regeneratif yang memprioritaskan restorasi sumber daya budaya dan alam. Ini dapat dicapai melalui inovasi teknologi, pembuatan kebijakan partisipatif, dan pemberdayaan akar rumput. Kedua, penting untuk menyelidiki peran kepemimpinan adat dan pengetahuan sistem dalam menciptakan pengalaman wisata yang otentik dan berkelanjutan. Penelitian lebih lanjut dapat mengeksplorasi bagaimana praktik dan cerita adat dapat diintegrasikan ke dalam pariwisata untuk meningkatkan kesadaran lingkungan dan empati lintas budaya. Terakhir, studi lebih lanjut dapat dilakukan untuk mengevaluasi dampak jangka panjang dari pengalaman pariwisata yang menggabungkan budaya dan alam terhadap perilaku dan sikap wisatawan, khususnya dalam hal kewarganegaraan global, keberlanjutan, dan empati budaya.

  1. Eco-cultural tourism as a means for the sustainable development of culturally marginal and environmentally... journals.sagepub.com/doi/10.1177/1468797604057326Eco cultural tourism as a means for the sustainable development of culturally marginal and environmentally journals sagepub doi 10 1177 1468797604057326
Read online
File size229.83 KB
Pages10
DMCAReport

Related /

ads-block-test