STFTKIJNESTFTKIJNE

MURAI: Jurnal Papua Teologi KonstekstualMURAI: Jurnal Papua Teologi Konstekstual

Berbagai penelitian mengaitkan budaya mahar/belis sebagai faktor signifikan terhadap prevalensi kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) di Nusa Tenggara Timur. Riset ini menantang penelitian-penelitian yang ada dengan mengeksplorasi penyebab terjadinya kekerasan dalam rumah tangga yang terjadi di Desa Ndilek, Kabupaten Lamba Leda, Provinsi NTT. Penelitian ini menggunakan metodologi kualitatif dengan menggunakan wawancara mendalam sebagai alat utama pengumpulan data. Studi ini menemukan bahwa budaya mahar dalam masyarakat Manggarai di Nusa Tenggara Timur berpotensi menjadi penyebab terjadinya kekerasan dalam rumah tangga, namun hanya pada kondisi tertentu. Namun, tidak semua praktik mahar serta merta mengakibatkan kekerasan dalam rumah tangga. Ada banyak faktor lainnya yang berkontribusi terhadap kekerasan dalam rumah tangga. Hal itu mencakup keadaan ekonomi, sifat individu, perselingkuhan, perjudian dan penyalahgunaan alkohol, serta tingkat kedewasaan yang ditunjukkan oleh pasangan suami istri. Studi ini menunjukkan bahwa sistem mahar/belis dapat berkontribusi terhadap kekerasan dalam rumah tangga, namun hal ini bukanlah faktor utama. Beberapa faktor pemicu yang tidak berkaitan dengan mahar mempunyai peranan yang lebih menonjol dalam situasi kekerasan dalam rumah tangga. Karena dikotomi ini, penelitian ini menyarankan agar masyarakat yang mendukung tradisi tersebut harus menjalankan adat budaya secara efektif dan adil untuk mencegah budaya tersebut menjadi pemicu kekerasan dalam rumah tangga atau masalah lainnya. Selain itu, untuk benar-benar memberantas kekerasan dalam rumah tangga, penting untuk mengatasi akar masalah ini secara efektif.

Pertama, mahar adalah budaya luhur orang Manggarai di Nusa Tenggara Timur yang dibuat agar ikatan perkawinan dan persaudaraan menjadi legal, kuat, harmoni dan menjamin pertukaran ekonomi di dalam Masyarakat tradisional.Budaya ini tidak diciptakan untuk menyusahkan masyarakat melainkan dibangun atas dasar fislosofis yang kaya dan sakral untuk mendukung kehidupan rumah tangga sebuah keluarga.Kedua, walaupun budaya ini secara filosofinya luhur, ia bisa menjadi akar masalah kekerasan di dalam rumah tangga.Hal ini terjadi ketika keluarga lebih mengutamakan mengurus tagihan adat yang mahal dari pada menyediakan cadangan bagi kebutuhan keluarga.Selain itu, kekerasan bisa terjadi karena penyimpangan praktik mahar dari tujuan aslinya, yaitu mahar dikomersialisasikan.Ketiga, tidak semua kekerasan di dalam rumah tangga disebabkan oleh budaya mahar.Banyak kasus KDRT disebabkan oleh faktor lainnya kondisi ekonomi, pendidikan, karakter pribadi, perselingkuhan, judi dan mabuk-mabukan dan kematangan pasangan dalam pernikahan.Dalam beberapa kasus, kendati kekerasan sebenarnya tidak berkaitan dengan masalah mahar atau bukan karena masalah mahar, namun saat kekerasan dilakukan pelaku kekerasan kadang-kadang mengungkit mahar yang sudah diberikan.Olehnya, penelitian ini menyimpulkan bahwa KDRT dapat berkaitan dengan mahar dan dapat pula tidak ada hubungannya dengan mahar.

Berdasarkan hasil penelitian, disarankan agar pelaku budaya (tokoh adat, kepala kampung, keluarga, perempuan dan laki-laki) harus benar-benar mendalami dan memahami hakikat budaya dengan baik dan mempraktikkannya dengan baik. Masyarakat pemilik budaya harus secara terus menerus merefleksikan dan mengkritisi praktik budaya yang memberatkan kehidupan dan menemukan kesepakatan bersama dalam praktik budaya yang baik untuk semua pihak. Selain itu, pasangan yang menikah harus sudah lebih matang dan siap menghadapi pernikahan, baik dari segi ekonomi, emosi, karakter, pendidikan dan rohani agar dapat meminimalisir masalah-masalah di dalam keluarga. Pasangan juga harus belajar untuk mengelola masalah dengan matang sehingga tidak melakukan kekerasan yang dapat menyebabkan masalah keluarga menjadi semakin rumit. Karena aspek ekonomi yakni kemiskinan menjadi salah satu penyebab KDRT yang cukup dominan, maka penelitian ini juga merekomendasikan perbaikan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat perlu diperhatikan. Keluarga-keluarga perlu diedukasi untuk mengembangkan sumber daya yang mereka miliki menjadi bernilai ekonomis. Mereka juga harus dilatih kecerdasan mengelola keuangan di dalam rumah tangga. Di sini, peran keluarga, agama, pemerintah dan masyarakat sangat penting untuk membentuk dan mendukung keluarga yang harmoni.

Read online
File size495.15 KB
Pages23
DMCAReport

Related /

ads-block-test