UNESAUNESA

Journal of Social Dynamics and GovernanceJournal of Social Dynamics and Governance

Penelitian ini mengeksplorasi praktik dan makna ekofeminisme di Desa Telaga Biru. Ekofeminisme di Madura memiliki karakteristik unik. Kondisi pesisir di Telaga Biru mencerminkan lingkungan yang berpusat pada laut, berbeda dengan ekofeminisme di wilayah lain. Konteks sosio-kultural dan religius Bangkalan, yang ditandai dengan Islam tradisional, juga membentuk praktik ekofeminisme di wilayah ini. Terutama, gerakan ekofeminisme di sini didorong oleh pengrajin batik perempuan, karena Telaga Biru adalah desa wisata yang dikenal dengan industri batik, yang sebagian besar dipimpin oleh perempuan. Penelitian ini menyelidiki dua isu utama: praktik dan makna ekofeminisme menggunakan metode kualitatif dan perspektif gender. Subjek penelitian adalah 300 pengrajin batik perempuan, dengan sampel terfokus sebanyak 20 informan. Dipandu oleh teori ekofeminisme Vandana Shiva dan fenomenologi Alfred Schutz, temuan mengungkapkan bahwa pengrajin batik terlibat dalam praktik ekofeminisme. Mereka berfungsi sebagai garda depan konservasi lingkungan di sepanjang pantai, menafsirkan tindakan mereka sebagai kepatuhan terhadap ajaran Islam untuk melindungi alam. Selain doktrin agama, mereka juga bertujuan untuk menghindari karma buruk yang terkait dengan kerusakan lingkungan. Upaya mereka berlangsung lintas generasi meskipun dukungan dari pemerintah daerah terbatas.

Penelitian ini menunjukkan bahwa praktik ekofeminisme di Desa Telaga Biru, Kecamatan Tanjung Bumi, Kabupaten Bangkalan, menawarkan perspektif baru tentang persimpangan agama, kepercayaan budaya, dan pengelolaan lingkungan.Ajaran agama yang menekankan kebersihan dan rasa takut akan karma buruk telah memotivasi pengrajin batik perempuan untuk menunjukkan antusiasme dan komitmen yang luar biasa dalam konservasi pesisir.Gerakan ini menginspirasi inisiatif perempuan di tempat lain, membuktikan bahwa jaringan komunitas dan sosial yang kuat dapat mempertahankan upaya konservasi lingkungan meskipun ada perlawanan patriarki dan dukungan pemerintah yang minim.Ekofeminisme di Telaga Biru menunjukkan keberhasilan pengrajin batik perempuan dalam melindungi dan merawat lingkungan pesisir mereka.

Berdasarkan temuan penelitian ini, beberapa saran penelitian lanjutan dapat diajukan. Pertama, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengeksplorasi bagaimana nilai-nilai Islam dapat diintegrasikan secara lebih sistematis ke dalam program konservasi lingkungan di daerah pesisir lainnya. Hal ini dapat melibatkan pengembangan modul pelatihan bagi masyarakat lokal tentang praktik-praktik ramah lingkungan yang selaras dengan ajaran agama. Kedua, penelitian dapat difokuskan pada analisis dampak ekonomi dari praktik ekofeminisme terhadap kesejahteraan perempuan pengrajin batik. Dengan memahami bagaimana praktik-praktik ini berkontribusi pada peningkatan pendapatan dan kualitas hidup mereka, program-program pemberdayaan perempuan dapat dirancang secara lebih efektif. Ketiga, penting untuk meneliti bagaimana peran pemerintah daerah dapat ditingkatkan dalam mendukung gerakan ekofeminisme di Telaga Biru dan daerah serupa. Hal ini dapat mencakup penyediaan akses ke sumber daya keuangan, pelatihan keterampilan, dan pasar yang lebih luas bagi produk-produk batik ramah lingkungan.

  1. Perempuan Petani dalam Kuasa Patriarki: Studi Ekofeminisme di Subak Bulung Daya Desa Antap Kabupaten... doi.org/10.24843/JKB.2023.v13.i01.p07Perempuan Petani dalam Kuasa Patriarki Studi Ekofeminisme di Subak Bulung Daya Desa Antap Kabupaten doi 10 24843 JKB 2023 v13 i01 p07
Read online
File size454.09 KB
Pages13
DMCAReport

Related /

ads-block-test