STFXAMBONSTFXAMBON

Fides et Ratio : Jurnal Teologi Kontekstual Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius AmbonFides et Ratio : Jurnal Teologi Kontekstual Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon

Flexing adalah fenomena pamer pencapaian di media sosial. Dewasa ini, figur publik yang melakukan flexing di masa pandemi mendapatkan kritik dengan berbagai alasannya. Tulisan ini mengkaji flexing berdasarkan kajian filsafat, biblis, maupun teologis. Pemikiran Guy Debord tentang Society of Spectakce digunakan untuk mengkaji filsafat fenomena flexing. Dasar biblis yang digunakan yaitu kisah penyembuhan Yesus, untuk melihat tindakan flexing Yesus untuk mewartakan Kerajaan Allah di masa lampau. Sedangan Dokumen Etika dalam Berinternet digunakan sebagai pisau bedah teologis fenomena ini.

Kristus yang hidup di zaman pra internet saja dikenal entah itu melalui pewartaan-Nya maupun kesaksian orang lain karena berbagai tindakan dan karya-Nya bagaimana jika Kristus hidup di era digital.Flexing menjadi bermasalah dan mendapatkan konotasi negatif karena konten yang ditampilkan tidak selaras dengan tindakan dan kondisi hidup sehari-hari.Integritas diperlukan supaya seseorang mendapatkan apresiasi atas konten-kontennya di media sosial entah itu flexing atau bukan.

Penelitian selanjutnya dapat mengkaji lebih dalam mengenai dampak psikologis dari fenomena flexing terhadap generasi muda, khususnya dalam hal pembentukan identitas diri dan konsep diri. Selain itu, perlu dilakukan studi komparatif antara flexing di berbagai platform media sosial untuk mengidentifikasi perbedaan pola dan motivasi di balik perilaku tersebut. Terakhir, penelitian dapat difokuskan pada pengembangan program edukasi literasi digital yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai dampak positif dan negatif dari flexing, serta mendorong penggunaan media sosial secara bijak dan bertanggung jawab.

Read online
File size438.56 KB
Pages9
DMCAReport

Related /

ads-block-test