STIE TDNSTIE TDN

Tangible JournalTangible Journal

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan biaya jasa kursus antara metode konvensional dan metode activity based costing pada LKP Widyaloka Makassar. Perhitungan ini dilakukan guna mengetahui besarnya biaya jasa kursus yang lebih factual. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Metode pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan observasi dan dokumentasi. Subjek penelitian ini adalah Bagian Keuangan LKP Widyaloka Makassar. Objek dalam penelitian ini adalah biaya jasa kursus LKP Widyaloka Makassar tahun 2022. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif. Deskriptif kuantitatif jasa kursus per tahun dilakukan untuk memaparkan perhitungan nominal biaya. Berdasarkan hasil penelitian, dapat diketahui bahwa biaya jasa kursus dengan menggunakan metode activity based costing pada LKP Widyaloka Makassar tahun 2022 adalah untuk jenis kursus aplikasi perkantoran sebesar Rp 552.512, desain teknik/CAD Rp 574.513, manajemen proyek (RAB) Rp 542.929, desain grafis Rp 515.129, komputer akuntansi RP 506.517, administrasi keuangan Rp 496.823, bahasa inggris general english Rp 485.358, bahasa inggris conversation Rp 1.005.024, sketchup Rp 486.797, SAP 2000 Rp 877.675, pemetaan digital Rp 1.177.519, teknisi jaringan/hardware Rp 435.925, pemrograman Rp 955.181, video editing Rp 585.753.

Berdasarkan hasil perhitungan tarif jasa kursus yang dilakukan, terdapat perbedaan tarif jasa kursus yang ditetapkan oleh LKP Widyaloka Makassar dengan penetapan tarif jasa kursus menggunakan metode activity based costing.LKP Widyaloka Makassar menggunakan metode konvensional yang kurang akurat dalam menyerap biaya secara keseluruhan dan kurang mampu menyediakan informasi yang akurat terkait profitabilitas.Sebaiknya, LKP Widyaloka Makassar mempertimbangkan penggunaan metode activity based costing untuk tarif kursus yang lebih kompetitif dan informasi biaya yang lebih akurat, dengan tetap mempertimbangkan faktor eksternal seperti tarif pesaing dan kemampuan masyarakat.

Berdasarkan hasil penelitian ini, terdapat beberapa saran penelitian lanjutan yang dapat dilakukan. Pertama, penelitian lebih lanjut dapat dilakukan dengan membandingkan penerapan metode activity based costing dengan metode lain seperti time-driven activity-based costing (TDABC) untuk melihat metode mana yang paling efektif dalam menentukan tarif kursus yang optimal. Kedua, penelitian dapat diperluas dengan mengkaji faktor-faktor non-biaya yang mempengaruhi keputusan konsumen dalam memilih lembaga kursus, seperti reputasi lembaga, kualitas pengajar, dan fasilitas yang tersedia. Hal ini akan memberikan pemahaman yang lebih komprehensif tentang penentuan tarif kursus yang tidak hanya mempertimbangkan aspek biaya, tetapi juga aspek pasar dan preferensi konsumen. Ketiga, penelitian lanjutan dapat fokus pada pengembangan model prediktif untuk menentukan tarif kursus yang optimal dengan mempertimbangkan berbagai variabel, seperti biaya, permintaan pasar, dan tingkat persaingan. Model ini dapat membantu lembaga kursus dalam mengambil keputusan yang lebih strategis dan meningkatkan profitabilitasnya. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi yang signifikan bagi pengembangan ilmu pengetahuan di bidang akuntansi manajemen dan memberikan manfaat praktis bagi lembaga kursus dalam meningkatkan daya saingnya.

Read online
File size367.46 KB
Pages15
DMCAReport

Related /

ads-block-test