SMUJOSMUJO

Nusantara BioscienceNusantara Bioscience

Asma masih menjadi masalah kesehatan utama di dunia. Obat antiasma menimbulkan permasalahan efek samping dan biaya pengobatan. Oleh karena itu, perlu dikembangkan obat antiasma berbasis tanaman obat dengan efek samping lebih sedikit dan biaya lebih terjangkau. Potensi tanaman obat antiasma berasal dari genus Curcuma (famili Zingiberaceae). Kunyit (Curcuma longa L.) merupakan spesies paling menonjol dalam genus ini dan telah banyak diteliti untuk pengobatan asma. Namun, terdapat spesies Curcuma asli lainnya yang juga digunakan secara tradisional untuk asma, yaitu Curcuma aeruginosa Roxb. dan Curcuma mangga Val. Zijp. Kedua spesies asli ini belum diteliti aktivitas farmakologisnya sebagai antiasma. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui aktivitas trakeospasmolitik ekstrak etanol C. aeruginosa dan C. mangga pada organ trakea marmot yang terpisah guna menentukan efek antiasma. Penelitian juga dilakukan untuk mengetahui aktivitas antiinflamasi dengan uji stabilisasi membran dan inhibisi lipoxygenase. Hasil menunjukkan bahwa C. aeruginosa dan C. mangga memiliki aktivitas trakeospasmolitik yang lebih rendah dibandingkan aminofillin sebagai kontrol positif. Namun, nilai EC50 C. aeruginosa (0,020 ± 0,004) dan C. mangga (0,039 ± 0,005) tidak berbeda signifikan dengan aminofillin (0,016 ± 0,005). Hasil uji stabilisasi membran menunjukkan nilai EC50 C. aeruginosa (47,76 ± 1,57) dan C. mangga (67,50 ± 0,97) lebih tinggi dibandingkan indometasin (26,39 ± 2,91) sebagai kontrol positif. Hasil uji inhibisi lipoxygenase menunjukkan nilai EC50 C. aeruginosa (-111,11 ± 2,30) dan C. mangga (-101,98 ± 1,32) lebih tinggi dibandingkan indometasin (-282,84 ± 7,41). Hasil ini menunjukkan potensi penggunaan C. aeruginosa dan C. mangga sebagai antiasma melalui aktivitas trakeospasmolitik pada organ trakea marmot terpisah. Kedua tanaman juga memiliki efek antiinflamasi berdasarkan uji stabilisasi membran dan inhibisi lipoxygenase.

Ekstrak etanol Curcuma aeruginosa dan Curcuma mangga memiliki aktivitas trakeospasmolitik yang menunjukkan potensi sebagai agen antiasma, meskipun efeknya lebih rendah dibandingkan aminofillin.Kedua spesies juga menunjukkan aktivitas antiinflamasi melalui uji stabilisasi membran dan inhibisi lipoxygenase, meskipun daya hambatnya lebih lemah dibandingkan indometasin.mangga berpotensi dikembangkan sebagai sumber obat antiasma alami berbasis tanaman.

Pertama, perlu dilakukan penelitian tentang efek jangka panjang pemberian ekstrak Curcuma aeruginosa dan Curcuma mangga pada model hewan asma kronis untuk mengevaluasi keamanan dan efektivitasnya dalam penggunaan jangka panjang. Kedua, penting untuk mengidentifikasi senyawa aktif utama dalam kedua spesies tersebut melalui fraksinasi dan uji bioaktivitas secara terpisah, guna mengetahui komponen kimia yang paling berperan dalam efek trakeospasmolitik dan antiinflamasi. Ketiga, sebaiknya dilakukan studi perbandingan kombinasi ekstrak C. aeruginosa dan C. mangga dengan obat konvensional seperti aminofillin atau kortikosteroid untuk menilai potensi sinergi yang dapat menurunkan dosis obat kimia dan mengurangi efek samping. Penelitian-penelitian ini akan memperkuat dasar ilmiah pengembangan obat herbal antiasma dari tanaman asli Indonesia yang aman dan efektif.

  1. Tracheospasmolytic and anti-inflammatory activity of indigenous Curcuma species as traditional antiasthmatic... smujo.id/nb/article/view/2662Tracheospasmolytic and anti inflammatory activity of indigenous Curcuma species as traditional antiasthmatic smujo nb article view 2662
Read online
File size878.39 KB
Pages6
DMCAReport

Related /

ads-block-test