POLTEKHARBERPOLTEKHARBER

Parapemikir : Jurnal Ilmiah FarmasiParapemikir : Jurnal Ilmiah Farmasi

Era pandemi berimbas pada meningkatnya kebutuhan sabun cuci tangan untuk penerapan protokol kesehatan. Proses pembuatan sabun dengan bahan kimia bagi sebagian orang yang sensitif terhadap bahan tersebut dapat menyebabkan kulit kering, kasar, dan gatal. Terobosan yang perlu dilakukan adalah pembuatan sabun berbahan alam yang aman bagi kulit serta ramah lingkungan. Kulit nanas madu dan kulit jeruk peras memiliki kandungan senyawa antibakteri seperti flavonoid, tanin, dan saponin. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui formula sabun antiseptik kombinasi dari kedua bahan alam ini yang paling baik berdasarkan sifat fisiknya. Penelitian dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Politeknik Harapan Bersama. Kulit nanas madu dan kulit jeruk peras diekstraksi dengan metode maserasi, kemudian dibuat tiga formula dengan tiga replikasi. Uji sifat fisik yang dilakukan meliputi uji organoleptis, uji pH, uji berat jenis, uji homogenitas, dan uji kesukaan. Nilai yang memenuhi standar pada uji-uji tersebut dianggap sebagai sabun antiseptik yang memenuhi kriteria uji fisik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua formula sabun antiseptik baik dari segi sifat fisiknya. Berdasarkan uji kesukaan, sabun antiseptik kombinasi ekstrak kulit buah nanas madu dan kulit jeruk peras dengan perbandingan (3:1) merupakan yang paling baik.

Formula 1, 2, dan 3 sabun antiseptik kombinasi ekstrak kulit buah nanas madu dan kulit jeruk peras memiliki sifat fisik yang baik.Berdasarkan uji kesukaan, formula 1 menunjukkan nilai yang paling baik.Formula 1 terdiri dari kombinasi ekstrak kulit nanas madu dan kulit jeruk peras dengan perbandingan 3.

Pertama, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk menguji efektivitas antimikroba dari sabun antiseptik ini terhadap berbagai jenis bakteri patogen seperti Staphylococcus aureus dan Escherichia coli dalam kondisi laboratorium, agar dapat diketahui sejauh mana khasiat antibakteri dari kombinasi ekstrak tersebut. Kedua, disarankan untuk mengevaluasi stabilitas formulasi sabun selama penyimpanan dalam jangka waktu tertentu, termasuk perubahan pH, warna, bau, dan aktivitas antimikroba, guna memastikan kualitas produk tetap terjaga hingga masa pakai habis. Ketiga, perlu dikaji dampak penggunaan jangka panjang sabun ini terhadap kondisi kulit pengguna, termasuk uji iritasi dan uji toksisitas kulit, sehingga dapat dipastikan keamanannya tidak hanya secara fisik tetapi juga secara biologis bagi masyarakat luas.

Read online
File size274.64 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test