FEB UMIFEB UMI

Paradoks : Jurnal Ilmu EkonomiParadoks : Jurnal Ilmu Ekonomi

Penelitian ini mengkaji sektor perbankan Indonesia dari tahun 2021 hingga 2024 dan menilai apakah komposisi gender dewan direksi memengaruhi implikasi keuangan dari pelaporan keberlanjutan. Secara metodologis, studi ini memanfaatkan SmartPLS 4 untuk melakukan Structural Equation Modeling (SEM). Hasil empiris menunjukkan bahwa pelaporan keberlanjutan, jika dilihat secara terpisah, tidak secara material memengaruhi kinerja pasar perusahaan. Lebih kritis lagi, analisis mengidentifikasi efek pelemahan yang jelas: peningkatan keberagaman gender dalam dewan direksi tampaknya melemahkan hubungan antara pengungkapan keberlanjutan dan nilai perusahaan. Hasil ini memberikan bobot empiris pada hipotesis pengawasan berlebihan yang berakar pada Teori Keagenan. Dari sudut pandang manajerial, temuan ini menunjukkan bahwa entitas perbankan harus secara cermat mengkalibrasi mekanisme pengungkapan mereka; jika tidak, pasar dapat salah menafsirkan pengawasan dewan yang ketat sebagai penghalang penciptaan nilai daripada sebagai pengamanan.

Secara keseluruhan, temuan studi ini menunjukkan bahwa pelaporan keberlanjutan memiliki sedikit efek pada nilai perusahaan, mengindikasikan bahwa investor belum menjadikannya faktor krusial.Namun, keberagaman gender pada dewan direksi justru memiliki efek moderasi negatif yang signifikan, di mana pengawasan ketat dianggap sebagai biaya keagenan berlebihan yang dapat menurunkan nilai perusahaan, mendukung hipotesis over-monitoring dalam Teori Keagenan.Oleh karena itu, perusahaan dengan dewan direksi yang beragam harus secara meyakinkan mengkomunikasikan inisiatif keberlanjutan mereka sebagai investasi strategis jangka panjang, bukan sekadar biaya kepatuhan, untuk menghindari penurunan nilai perusahaan.

Mengingat temuan menarik bahwa keberagaman gender di dewan direksi dapat memperlemah hubungan antara pelaporan keberlanjutan dan nilai perusahaan, penelitian lanjutan dapat fokus pada beberapa arah strategis. Pertama, sangat penting untuk menyelidiki secara lebih mendalam persepsi investor terhadap pengawasan berlebihan (over-monitoring) yang diindikasikan oleh keberadaan direksi wanita. Apakah hal ini terkait dengan anggapan bahwa direksi wanita lebih berhati-hati dan cenderung menghambat ekspansi agresif, atau adakah faktor lain seperti komunikasi internal perusahaan yang kurang efektif mengenai manfaat jangka panjang investasi keberlanjutan? Penelitian kualitatif melalui wawancara dengan investor dan manajer dapat memberikan wawasan berharga tentang mekanisme di balik persepsi ini, melengkapi analisis kuantitatif yang ada. Kedua, ada baiknya untuk memperluas cakupan studi ke sektor industri lain yang mungkin memiliki dinamika berbeda, misalnya sektor manufaktur dengan risiko lingkungan tinggi atau sektor teknologi yang lebih inovatif. Menguji apakah efek moderasi negatif dari keberagaman gender ini konsisten di berbagai konteks dapat mengungkap faktor-faktor situasional yang memengaruhi bagaimana keberagaman dewan direksi berinteraksi dengan pelaporan keberlanjutan dan persepsi nilai perusahaan. Mungkin di industri tertentu, pengawasan ketat justru dianggap sebagai keunggulan kompetitif. Ketiga, karena penelitian ini menyoroti perlunya komunikasi yang lebih baik, studi lanjutan bisa mengeksplorasi strategi komunikasi yang paling efektif bagi perusahaan dengan dewan direksi yang beragam. Bagaimana perusahaan dapat secara transparan dan meyakinkan menyampaikan bahwa inisiatif keberlanjutan adalah investasi strategis untuk pertumbuhan jangka panjang, bukan hanya biaya kepatuhan yang membebani? Penelitian eksperimen atau studi kasus dapat membandingkan berbagai pendekatan komunikasi dan dampaknya terhadap persepsi pasar dan nilai perusahaan. Tiga arah penelitian ini akan sangat membantu praktisi dalam mengoptimalkan tata kelola perusahaan dan para pembuat kebijakan dalam merumuskan regulasi yang mendukung keberlanjutan tanpa menghambat nilai perusahaan.

Read online
File size267.48 KB
Pages9
DMCAReport

Related /

ads-block-test