DWCUDWCU

Gema TeologiGema Teologi

Artikel ini adalah sebuah remaking dari presentasi yang disampaikan dalam sebuah seminar tentang pesan-pesan agama melalui seni. Bahwa seni, khususnya lukisan, dapat berbicara tentang pesan agama bukanlah hal baru. Namun ini belum menjadi sebuah isu yang selesai. Agama telah dilihat dengan cara yang membuatnya tampak lebih serius daripada seni dan berbicara tentang agama melalui seni terlihat tidak serius. Pandangan ini bertemu dengan tantangan ketika kita melihat karya-karya seniman. Sebagai seorang seniman, penulis telah menunjukkan kemampuan dan sensitivitasnya terhadap masalah-masalah keagamaan. Bahkan, penulis berbicara secara progresif tentang ide-ide keagamaan melalui lukisannya. Akan jelas bahwa lukisan juga merupakan media yang baik untuk menyampaikan ide-ide yang mungkin masih kontroversial. Banyak hal dapat dipelajari dari karya-karya seniman. Bahkan para teolog dapat belajar banyak dari seniman. Jika pada masa lalu seniman diminta untuk memenuhi pesanan teolog, sekarang saatnya seniman bekerja dengan kebebasan dan teolog belajar dari mereka.

Dari masa ke masa, ungkapan seni rupa kristiani lahir untuk menjawab persoalan zamannya.Seni kristiani mula-mula didudukkan sebagai media gazing serta penanda iman.Seni kristiani di era keemasan Eropa, mendirikan keindahan seni klasik-monumental.Gereja di zaman renaisans menggunakan seni sebagai karya pengagungan Tuhan.Di era modern, ungkapan seni kristiani lebih sebagai ekspresi individual dan berorientasikan pendekatan market.Post modern menggulingkan pandangan seni modern “lart pour lart, seni untuk seni, tidaklah cocok untuk menjawab persoalan perubahan budaya kontemporer.Kritik terhadap karya seni rupa kristiani pun seringkali ditempatkan sebagai penjaga nilai-nilai religi, sehingga selalu muncul dikotomi religiusitas versus sekularitas.Ada seni gerejawi di sini dan seni murni di sana.Saya akan bertanya sembari terus meyakini proses kreativitas seni, mampukah seni kristiani memberi dampak estetis pada persoalan zaman ini.Proses kesenian saya masih terus mengintegrasikan penghayatan teks biblis serta membangun hidup kristiani dalam perubahan budaya, agar saya tidak terasing maka ungkapan seni menjadi katarsis.Seni bisa menjadi tempat peristirahatan sejenak bagi jiwa yang terikat oleh norma-norma budaya dan menemukan kesegaran dalam cita rasa estetis.

Di era Orde Baru semangat primordialis antara kaum mayoritas versus minoritas, dirasakan sungguh untuk melemahkan kekuatan ideologis dalam ungkapan seni religi. Distingsi pada seni religi di antara seni modern-kontemporer dipakai oleh kekuasaan politik rezim ORBA untuk mengontrol daya-daya resistensi. Diksi sebutan Kristen berhasil dilemahkan dengan memberi akhiran “i menjadi kristiani. Diksi tema seni kristiani sengaja saya pakai di sini, justru dalam kesadaran perubahan cita rasa zaman ini. Seni rupa kristiani sampai ideologi “bhinneka tunggal ika seharusnya bisa ditransformasikan dalam ungkapan-ungkapan seni rupa kristiani di dalam membangun persoalan harmoni dan pluralitas. Ingatan saya akan peristiwa kerusuhan masif pasca reformasi 1998 dengan mengorbankan umat kristiani dan kaum keturunan cina, sesungguhnya harus dibekaskan, tidak berhenti sebagai trauma namun dapat saya transformasikan ke dalam karya-karya seni lukis di tahun 2000-2001. Pada hari ini ungkapan seni rupa kristiani ditantang untuk menggali persoalan keindonesiaan, baik secara estetis maupun ideologis.

  1. The Rise of Religious Fundamentalism | Annual Reviews. rise religious annual reviews review sociology... doi.org/10.1146/annurev.soc.32.061604.123141The Rise of Religious Fundamentalism Annual Reviews rise religious annual reviews review sociology doi 10 1146 annurev soc 32 061604 123141
Read online
File size3.72 MB
Pages149
DMCAReport

Related /

ads-block-test