AIATAIAT

Nun: Jurnal Studi Alquran dan Tafsir di NusantaraNun: Jurnal Studi Alquran dan Tafsir di Nusantara

This study examines Quranic interpretation practices on the Instagram account @akal.indo from the perspective of philosophical hermeneutics. Moving beyond the view of social media tafsir as mere religious popularization, this research conceptualizes digital meaning production as an operational hermeneutical practice. Using qualitative content analysis of publicly accessible posts, the study identifies a three-stage interpretive process: discussion, reflection, and contextualization. Interpretation begins with framing contemporary problems—such as mental health, family relationships, and financial ethics—as the initial horizon of understanding. This is followed by reflective translation of Quranic values into the language of modern psychology and management, and culminates in contextualization, where these values are operationalized into practical principles for urban life. From a Gadamerian perspective, this dynamic represents a fusion of horizons between classical exegetical tradition and the lived experiences of digital audiences. The study concludes that digital Quranic interpretation on social media constitutes a problem-oriented hermeneutical model that reconstructs normative Quranic values adaptively within a digital communicative ecosystem.. . Penelitian ini menganalisis praktik penafsiran al-Quran pada akun Instagram @akal.indo dalam perspektif hermeneutika filosofis. Berangkat dari fenomena tafsir populer di media sosial, penelitian ini bertujuan menunjukkan bahwa produksi makna digital tidak sekadar bentuk popularisasi agama, melainkan praksis hermeneutika operasional. Dengan pendekatan kualitatif berbasis analisis konten terhadap unggahan publik akun tersebut, penelitian ini menemukan bahwa penafsiran bergerak melalui tiga tahap: diskusi, refleksi, dan kontekstualisasi. Produksi makna dimulai dari pembingkaian problem kontemporer—seperti kesehatan mental, relasi keluarga, dan etika finansial—sebagai horizon awal pembacaan, lalu dilanjutkan dengan refleksi yang mentranslasikan nilai Qurani ke dalam bahasa psikologi dan manajemen modern, sebelum akhirnya dikontekstualisasikan menjadi prinsip aplikatif dalam kehidupan urban. Dalam kerangka Hans-Georg Gadamer, dinamika ini menunjukkan terjadinya fusi horizon antara tradisi tafsir klasik dan pengalaman audiens digital. Penelitian ini menyimpulkan bahwa tafsir digital di media sosial merepresentasikan model hermeneutika berbasis problem yang merekonstruksi nilai normatif Al-Quran secara adaptif dalam ekosistem komunikasi digital.

Penelitian ini menunjukkan bahwa praktik penafsiran Al-Quran di akun Instagram @akal.indo membentuk model hermeneutika digital yang bersifat problem-oriented dan bergerak secara bertahap melalui proses diskusi, refleksi, dan kontekstualisasi.Produksi makna tidak dimulai dari eksplorasi tekstual semata, melainkan dari pembingkaian problem kontemporer sebagai horizon awal pembacaan.Dalam kerangka hermeneutika filosofis, dinamika ini merepresentasikan fusi horizon antara tradisi tafsir klasik dan pengalaman audiens digital, yang merekonstruksi nilai normatif Al-Quran secara adaptif dalam ekosistem komunikasi digital.

Berdasarkan analisis terhadap latar belakang, metode, hasil, dan keterbatasan penelitian ini, serta mempertimbangkan saran penelitian lanjutan yang telah ada, beberapa ide penelitian baru dapat dikembangkan. Pertama, penelitian lebih lanjut dapat dilakukan untuk menganalisis secara mendalam dimensi resepsi audiens terhadap konten tafsir digital, termasuk bagaimana interpretasi mereka dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan, pengalaman pribadi, dan preferensi media sosial. Kedua, studi komparatif dapat dilakukan dengan membandingkan model hermeneutika digital yang diterapkan oleh berbagai akun tafsir populer di Instagram, untuk mengidentifikasi variasi pendekatan, strategi komunikasi, dan dampak sosialnya. Ketiga, penelitian dapat mengeksplorasi aspek ekonomi dan komersialisasi tafsir digital, termasuk bagaimana akun-akun tafsir populer menghasilkan pendapatan, bagaimana model bisnis mereka memengaruhi konten yang diproduksi, dan bagaimana hal ini memengaruhi kredibilitas dan independensi interpretatif mereka. Penelitian-penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai dinamika tafsir Al-Quran di era digital, serta implikasinya terhadap perkembangan keagamaan dan sosial di masyarakat.

  1. The Algorithm of Tafsīr: Characteristics of Content and Patterns of Audience Reception in the Case of... jurnal.stiuwm.ac.id/izzatuna/article/view/203The Algorithm of Tafsr Characteristics of Content and Patterns of Audience Reception in the Case of jurnal stiuwm ac izzatuna article view 203
  2. DOI Name 10.21009 Values. doi name values index type timestamp data hs serv 18z crossref desc 32z department... doi.org/10.21009DOI Name 10 21009 Values doi name values index type timestamp data hs serv 18z crossref desc 32z department doi 10 21009
  3. Pop-Tafsir on Indonesian YouTube Channel: Emergence, Discourses, and Contestations - EUDL. pop tafsir... doi.org/10.4108/eai.1-10-2019.2291646Pop Tafsir on Indonesian YouTube Channel Emergence Discourses and Contestations EUDL pop tafsir doi 10 4108 eai 1 10 2019 2291646
  4. DOI Name 10.22548 Values. doi name values index type timestamp data hs serv 01z crossref email 32z support... doi.org/10.22548DOI Name 10 22548 Values doi name values index type timestamp data hs serv 01z crossref email 32z support doi 10 22548
Read online
File size4.24 MB
Pages18
DMCAReport

Related /

ads-block-test