APPERTANIAPPERTANI

Jurnal Ilmu Ternak dan VeterinerJurnal Ilmu Ternak dan Veteriner

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi potensi emisi gas rumah kaca (GRK) dari peternakan sapi perah sebagai salah satu indikator keberlanjutan lingkungan di wilayah perkotaan DKI Jakarta. Kajian dilakukan terhadap 59 peternak aktif yang tersebar di Jakarta Timur, Selatan, dan Pusat, dengan pendekatan Tier 2 the Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC). Hasil menunjukkan bahwa emisi rata-rata per ekor sapi per tahun berada pada kisaran 1,67 ton CO2-eq yang sebanding dengan standar negara berkembang. Jakarta Timur menyumbang emisi total terbesar, sementara Jakarta Pusat mencatat emisi per ekor tertinggi meski jumlah ternaknya paling sedikit. Variabilitas emisi antar wilayah mencerminkan pengaruh faktor manajerial, spasial, serta ketersediaan infrastruktur pengelolaan limbah. Temuan ini menyoroti perlunya kebijakan terpadu yang tidak hanya meningkatkan produksi susu, tetapi juga menekan dampak lingkungan melalui pengelolaan peternakan yang adaptif dan berkelanjutan.

Dairy farming di DKI Jakarta telah terbukti berkontribusi signifikan terhadap emisi gas rumah kaca (GHG), dengan rata-rata emisi 1,67 ton CO₂-equivalent (CO₂-eq) per sapi per tahun.Variasi emisi di antara peternakan dan wilayah menunjukkan bahwa praktik manajemen, kapasitas bisnis, dan dukungan institusi memainkan peran penting dalam menentukan tingkat emisi.Emisi tertinggi tercatat dari sapi dewasa, menunjukkan korelasi kuat antara usia hewan dan potensi emisi.Temuan ini menekankan pentingnya manajemen lingkungan dalam sistem peternakan perkotaan.Tanpa intervensi berbasis teknologi dan kebijakan adaptif, peningkatan produksi susu untuk memenuhi permintaan makanan perkotaan dapat memperburuk tekanan lingkungan.Oleh karena itu, emisi GHG dari peternakan susu harus dianggap sebagai indikator kunci keberlanjutan lingkungan dalam perencanaan sistem makanan perkotaan yang lebih terintegrasi.

Untuk penelitian lanjutan, disarankan untuk fokus pada pengembangan strategi mitigasi emisi GHG yang disesuaikan dengan kondisi lokal di Jakarta. Hal ini dapat mencakup pelatihan bagi petani, insentif penggunaan pupuk organik dari limbah ternak, dan penerapan kebijakan zonasi yang mendukung keberlanjutan peternakan skala kecil. Selain itu, penting untuk menganalisis emisi GHG berdasarkan kelompok usia hewan dan wilayah administratif, serta mempertimbangkan konteks kebijakan makanan dan lingkungan yang ada. Dengan menggabungkan data emisi kuantitatif dan pemahaman konteks sosial-ekonomi, studi ini dapat menjadi dasar untuk pembuatan kebijakan berbasis bukti yang lebih efektif dalam mendukung sistem makanan perkotaan yang berkelanjutan.

  1. Canola Meal versus Soybean Meal as Protein Supplements in the Diets of Lactating Dairy Cows Affects the... doi.org/10.3390/ani11061636Canola Meal versus Soybean Meal as Protein Supplements in the Diets of Lactating Dairy Cows Affects the doi 10 3390 ani11061636
  2. Assessment of Greenhouse Gas Emissions and Carbon Sequestration in Dairy Goat Farming Systems in Northern... doi.org/10.3390/ani14233501Assessment of Greenhouse Gas Emissions and Carbon Sequestration in Dairy Goat Farming Systems in Northern doi 10 3390 ani14233501
  3. Global Warming and Dairy Cattle: How to Control and Reduce Methane Emission. global warming dairy cattle... mdpi.com/2076-2615/12/19/2687Global Warming and Dairy Cattle How to Control and Reduce Methane Emission global warming dairy cattle mdpi 2076 2615 12 19 2687
  4. Current state of enteric methane and the carbon footprint of beef and dairy cattle in the United States... academic.oup.com/af/article/11/4/57/6364955Current state of enteric methane and the carbon footprint of beef and dairy cattle in the United States academic oup af article 11 4 57 6364955
Read online
File size411.34 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test