BAJANGJOURNALBAJANGJOURNAL

International Journal of Social ScienceInternational Journal of Social Science

Latar belakang: Gangguan mental merupakan masalah kesehatan masyarakat yang kompleks dan memerlukan pendekatan rehabilitatif yang komprehensif. Di Indonesia, peningkatan prevalensi orang dengan gangguan mental menyoroti kebutuhan akan layanan rehabilitasi yang mengintegrasikan komponen medis, sosial, dan psikologis. Tujuan: Penelitian ini bertujuan menganalisis kebutuhan rehabilitasi individu dengan gangguan mental di Kampung Investasi Hati Service Facility sebagai strategi penanggulangan masalah kesehatan mental di masyarakat. Metode: Desain deskriptif cross‑sectional dengan total sampling seluruh penghuni dan staf fasilitas, menggunakan Kuesioner “Pulih untuk menilai gejala klinis dan fungsi sosial. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan tinjauan dokumen, kemudian dianalisis secara deskriptif dengan distribusi frekuensi dan sintesis naratif. Hasil: Mayoritas penghuni berjenis kelamin laki‑laki, berusia >60 tahun, didiagnosis skizofrenia hebephrenik atau paranoid, dan telah tinggal lebih dari lima tahun. Kebutuhan dasar terpenuhi, namun rehabilitasi psikososial masih minimal; aktivitas harian tidak mengikuti jadwal, dan hanya beberapa penghuni yang mengikuti terapi vokasi. Beberapa fasilitas memerlukan perbaikan, termasuk kamar tidur, toilet, ruang aktivitas, dan sistem keamanan. Sumber daya manusia terbatas; sebagian besar staf non‑medis dan kurang pelatihan kesehatan mental berkelanjutan. Variasi pusat perawatan menimbulkan tantangan dalam pemantauan terapi. Skor rata‑rata gejala klinis (6,41 %) hampir mencapai ambang perhatian klinis, sedangkan fungsi sosial (13,48 %) berada pada kategori sedang. Kesimpulan: Kebutuhan rehabilitasi di Kampung Investasi Hati Service Facility belum terpenuhi secara optimal. Penguatan sumber daya manusia, perbaikan infrastruktur, pembentukan program rehabilitasi terstruktur, dan peningkatan koordinasi dengan fasilitas kesehatan diperlukan untuk menjamin kontinuitas perawatan.

Penelitian ini menunjukkan bahwa Kampung Investasi Hati Service Facility berfungsi tidak hanya sebagai tempat penampungan sementara, melainkan juga sebagai tempat tinggal jangka panjang bagi individu dengan gangguan mental, lansia, dan penduduk yang terdorong.Sebagian besar penghuni merupakan pria lanjut usia yang telah tinggal lebih dari lima tahun, dengan diagnosis skizofrenia paling dominan, dan fasilitas dasar serta infrastruktur umumnya memadai untuk kebutuhan harian serta kegiatan rehabilitasi.Namun, pemulihan fungsional dan rehabilitasi psikososial masih belum optimal karena keterbatasan tenaga profesional, pelatihan staf yang kurang, infrastruktur yang perlu perbaikan, tidak adanya program rehabilitasi terstruktur, serta anggaran tahunan yang terbatas.

Penelitian selanjutnya dapat menguji efektivitas program rehabilitasi psikososial terstruktur dengan desain longitudinal untuk melihat perubahan skor gejala klinis dan fungsi sosial penghuni selama satu tahun; penelitian lintas fasilitas dapat membandingkan model rehabilitasi berbasis komunitas di beberapa Kampung Investasi Hati di wilayah berbeda guna mengidentifikasi praktik terbaik dan strategi penggunaan sumber daya yang efisien; serta intervensi pelatihan komprehensif bagi staf non‑medis mengenai kompetensi kesehatan mental dapat dievaluasi melalui studi eksperimental untuk menilai dampaknya terhadap kualitas perawatan penghuni dan tingkat kelelahan staf. Ketiga arah penelitian ini diharapkan memberikan bukti empiris yang kuat bagi kebijakan peningkatan kapasitas, perencanaan anggaran, dan pengembangan program rehabilitasi yang berkelanjutan di fasilitas serupa.

  1. KAMPUNG INVESTASI HATI SERVICE FACILITY AS A SOLUTION-ORIENTED APPROACH TO MENTAL HEALTH PROBLEMS IN... bajangjournal.com/index.php/IJSS/article/view/11886KAMPUNG INVESTASI HATI SERVICE FACILITY AS A SOLUTION ORIENTED APPROACH TO MENTAL HEALTH PROBLEMS IN bajangjournal index php IJSS article view 11886
Read online
File size597.02 KB
Pages14
DMCAReport

Related /

ads-block-test